Pabrik Bahan Baku Baterai Terintegrasi di Morowali Beroperasi 2020

Penulis: Fetry Wuryasti Pada: Senin, 14 Jan 2019, 13:06 WIB Ekonomi
Pabrik Bahan Baku Baterai Terintegrasi di Morowali Beroperasi 2020

Menteri Koordinator bidang Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan -- ANTARA FOTO/ICom/AM IMF-WBG/Veri Sanovri

MENTERI Koordinator bidang Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan meyakini investasi pada Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Morowali, Sulawesi Tengah, akan terus meningkat. Saat ini, sudah mulai terbentuk integrasi industri mulai dari nikel, stainless steel, hingga bahan baku baterai litium. Nilai investasinya berjumlah hampir US$7,8 miliar.

KEK Morowali berada di bawah kewenangan PT Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP) dengan nilai investasi US$5 miliar, jumlah pegawai 30.085 orang. Total kapasitas produksi nickel pig iron 2 juta ton per tahun, dan 3,5 juta ton stainless steel per tahun dengan nilai ekspor US$2 miliar di 2017 dan US$3,5 miliar pada tahun 2018.

Adapun luas komplek industrinya 3.000 hektare dengan 31 ribu pekerja, 3.100 di antaranya berasal dari Tiongkok. Pemerintah juga sedang mendorong keberadaan buruh lokal hingga 100 ribu orang untuk 5 tahun ke depan.

Perkembangan pesat KEK Morowali ini, diakui Luhut, di luar ekspektasi. Beberapa perusahaan asing yang berinvestasi antara lain baterai Tiongkok CATL. Pendanaan mereka sepenuhnya US$720 juta dan komitmen hingga US$4,2 miliar dalam lima tahun ke depan.  

Selain Tiongkok, juga masuk perusahaan baterai Hanwa LTD asal Jepang dan LG dari Korea Selatan. Sejauh ini, kata Luhut, Tiongkok menjadi mayoritas pada pembangunan pabrik bahan baku lithium di Morowali.

Jumat (11/1) lalu, Luhut bersama Menperin Airlangga Hartarto melakukan groundbreaking di Morowali, Sulawesi Tengah.

"Ini merupakan loncatan teknologi. Tiongkok mentransfer teknologi baru dan akan diterima tim ahli ITB untuk transfer teknologi. Hasilnya diimplementasikan pada industri lithium di Morowali," ujar Luhut pada acara Coffee Morning di kantornya, Senin (14/1).

Baca Juga: Pabrik Baterai Litium Dibangun di 2019

Transfer teknologi yang dimaksud adalah untuk menciptakan ekstrak dari kobalt nikel. Sehingga Indonesia memiliki nikel kadar rendah. Sebab bahan baku baterai lithium antara lain nikel dan kobalt.  Pembangunan pabrik akan selesai dalam 16 bulan dan akan berproduksi pada pertengahan tahun 2020.

Direncakan, Morowali menjadi pusat produksi bahan baku utama baterai lithium terbesar di dunia. Alasannya, setelah mulai beroperasi , kawasan tersebut akan memproduksi baterai secara penuh.

Pembuatan baterai diprioritaskan untuk kendaraan sepeda motor, kendaraan umum, baru dilanjutkan dengan mobil komersial.

Untuk kawasan Morowali, Kementerian Koordinator bidang Kemaritiman sudah berbicara dengan pabrik mobil Hyundai. Tim mereka berencana menaruh investasi sekitar US$1 miliar dan akan bertandang ke Indonesia di akhir Januari. Sedangkan untuk industri motor, menggunakan baterai lokal, diharapkan sudah bisa memproduksi motor sendiri seperti Gesits.

"Peta kerjanya, Morowali-Weda Bay-Zona Karawang Bekasi Purwakarta, industrial economic zone, ada Patimban dan Kertajati. Masing-masing ada pabriknya, mulai dari mobil, lithium baterai, mobil listrik nanti ambil baterainya dari Morowali. Kawasan Karawang Bekasi Purwakarta itu Indonesia telah memiliki free trade agreement dengan Australia untuk ekspor mobil," ungkapnya.

Dampak ekonomi yang bisa diciptakan, lanjut Luhut, berkali-kali lipat. Bila ekspor mentah nikel selama ini menghasilkan US$200-300 juta, dengan menjadi bahan olahan yaitu stainless steel, ekspornya bisa mencapai US$4 miliar.

Dengan investasi sebesar US$700 juta dalam 16 bulan akan ada tambahan ekspor sebesar US$800 juta. Kontribusi kawasan industri Morowali dengan investasi US$5 miliar menghasilkan US$4 miliar pada tahun 2018.

"Belum lagi masuk ke karbon steel. Ini akan berpengaruh kepada pertumbuhan PDB," tukas Luhut.(OL-5)

Berita Terkini

Read More

Poling

Minggu (17/3) digelar debat ketiga Pilpres 2019. Debat kali ini diikuti oleh Calon Wakil Presiden Ma'ruf Amin dan Sandiaga Salahudin Uno. Debat ini akan mengangkat tema pendidikan, kesehatan, ketenagakerjaan, sosial, dan budaya. Menurut Anda siapa yang akan unggul dalam debat kali ini?





Berita Populer

Read More