Jokowi-Kyai Ma’ruf Optimistis dengan Pemberantasan Korupsi

Penulis: Micom Pada: Minggu, 13 Jan 2019, 11:20 WIB Politik dan Hukum
Jokowi-Kyai Ma’ruf Optimistis dengan Pemberantasan Korupsi

MI/Susanto

PASANGAN Jokowi-Kyai Ma’ruf sangat optimistis bahwa Indonesia bisa menjadi negara yang bersih dari korupsi (clean & good governance). Korupsi masih bisa diberantas. 

"Levelnya tidak separah kanker stadium 4 yang hampir mustahil dapat diobati. Terlalu lebay dan berlebihan jika korupsi tidak dapat diberantas yang menunjukan itu pandangan yang pesimistis terhadap bangsa ini," ujar Juru Bicara Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi- Kyai Ma’ruf, Ace Hasan Syadzily, dalam keterangan resmi, Minggu (13/1). 

Menurutnya, apa yang akan dilakukan Pak Jokowi-Kyai Ma’ruf sangat jelas terbaca dalam visi-misi pasangan calon kami yang disampaikan ke KPU. Visi-misi itu mencakup agenda aksi perubahan yg konsisten, komprehensif, sistimatis dan tajam menyentuh episentrum perubahan dalam pemberantasan korupsi. 

"Ini  kontras dengan visi misi Prabowo-Sandi yang bicara tentang pemberantasan korupsi tidak memiliki rujukan dalam visi & misinya yang diserahkan ke KPU," katanya. 

Pemberantasan korupsi akan efektif apabila pemimpin puncaknya berintegritas, bukan bagian pemburu rente, dan berani melawan kekuatan oligarki ekonomi-politik. 

Jokowi memiliki rekam jejak sebagai  pemimpin yang berintegritas. Pada tahun 2010, saat menjadi walikota Solo, Jokowi mendapatkan Bung Hatta Anti Corruption Award. Upaya pencegahan korupsi dilanjutkan saat menjadi Gubernur DKI Jakarta dengan e-budgetting.

 

Baca juga: Gatot Nurmantyo Minta Fotonya Diturunkan dari Baliho Prabowo-Sandi

 

Dalam upaya pemberantasan korupsi ini, aspek pencegahan yang sangat penting, bukan hanya aspek penindakan. 

"Pak Jokowi menawarkan agenda aksi yang konkret dan komprehensif. Pak Jokowi susah meletakan fondasi berupa Strategi Nasional Pencegahan Korupsi," katanya. 

Agenda berikutnya adalah melaksanakan Stranas itu secara konsisten dengan fokus pada perizinan dan tata niaga, keuangan negara, serta penegakan hukum dan reformasi birokrasi di setiap Kementerian, Lembaga, Pemerintah Daerah, dan Pemangku Kepentingan lainnya. 

"Pak Jokowi akan terus meningkatkan kapasitas Aparat Pengawas Intern Pemerintah (APIP). Memperkuat Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) serta meningkatkan sinergi dan kerja sama antar-institusi penegak hukum dalam pemberantasan kejahatan korupsi," tuturnya. 

Dalam empat tahun ini, lanjut Ace, Jokowi telah menggiatkan transaksi nontunai sebagai tindakan pencegahan penggunaan uang tunai dalam tindak korupsi dan pencucian uang. 

"Pembayaran jalan tol sampai dengan Bantuan Pangan Non Tunai adalah inovasi transaksi nontunai di era Pak Jokowi. Pak Jokowi akan terus mempertegas penindakan kejahatan perbankan dan pencucian uang, sehingga akan ada efek jera karena terjadi proses pemiskinan para koruptor," ulasnya.

Kunci dari pemberantasan korupsi adalah integritas dan rekam jejak. 

"Pak Jokowi tidak punya beban terkait dengan konflik kepentingan terkait bisnis keluarga. Anak-anaknya justru jualan martabak dan pisang goreng. Sebaliknya sulit membayangkan akan tidak ada konflik kepentingan terkait bisnis keluarga Prabowo dan juga Sandi," tambah Ace.

Jadi efektivitas pemberantasan korupsi akan tergantung pada puncuk pimpinannya dalam hal ini Presiden. Jika pemimpinnya bersih, berintegritas dan berani maka ada harapan terhadap pemberantasan korupsi di Indonesia. 

"Sebaliknya, kalau rekam jejaknya meragukan, dengan sarat beban konflik kepentingan, memiliki jalinan dengan kekuatan oligarki masa lalu dan dikelilingi para pemburu rente, maka itu sama saja menawarkan janji palsu," pungkasnya. (RO/OL-3)

Berita Terkini

Read More

Poling

Debat perdana Pilpres 2019 menjadi ajang untuk menunjukkan impresi para kandidat Pasangan Calon Capres-Cawapres nomor urut 01 Joko Widodo-Ma'ruf Amin dan nomor urut 02 Prabowo Subianto-Sandiaga Uno. Menurut Anda siapa yang unggul di debat perdana ini?





Berita Populer

Read More