Menggiring Milenial Gempitakan Pemilu

Penulis: Akmal Fauzi Pada: Minggu, 13 Jan 2019, 07:30 WIB Politik dan Hukum
Menggiring Milenial Gempitakan Pemilu

MI/Susanto

PADA pemilu tahun ini, Komisi Pemilihan Umum (KPU) mencatat ada 17 juta lebih pemilih berusia 17-20 tahun dan pemilih di rentang usia 21-30 mencapai sekitar 42 juta.

Apabila ditotal, kelompok usia 17-30 tahun berjumlah 60 juta lebih atau sekitar 30% dari total DPT yang berjumlah 192,8 juta.

Besarnya jumlah kawula muda termasuk kaum milenial tersebut merupakan potensi yang tidak bisa dipandang remeh bagi bangsa Indonesia untuk menapak ke masa depan yang gemilang. Tidak terkecuali bagi pasangan capres dan cawapres ataupun calon anggota legislatif, generasi muda yang didominasi anak-anak milenial tentunya menggiurkan karena dapat menambah perolehan suara mereka.

Akan tetapi, yang menjadi kekhawatiran bersama ialah rerata gene­rasi muda minim antusiasme untuk menyalurkan suara mereka dalam pesta demokrasi April nanti.

Tim Kampanye Nasional (TKN) Joko Widodo-Ma’ruf Amin menyadari minat dan kesadaran politik kaum milenial harus dibangkitkan dengan membuat program yang sesuai karakter kaum milenial.

“Salah satunya industri kreatif. Saya pikir media sosial menjadi instrumen canggih bagi kami untuk menggaet mereka,” kata Wakil Ketua TKN Jokowi-Amin, Abdul Kadir Karding, kepada Media Indonesia, kemarin.

Di sisa waktu kampanye, lanjut Karding, pihaknya terus menggarap potensi kaum milenial yang digolongkan undecided voters (belum menentukan pilihan) itu.

“Jumlah undecided voters cukup tinggi. Lembaga Indikator Politik Indonesia menyebut 9,2%, sedangkan Alvara Research Center 10,6%.”

Ubah branding
Inisiator Kelompok Aktivis Milenial, Phirman Reza, sepemahaman de­ngan Karding.

“Kaum milenial lebih tertarik isu-isu yang disajikan dengan kreatif. Mereka cepat mengon­sumsi informasi, tetapi tetap memperhatikan estetika dan konten. Kelompok ini suka sajian yang tidak abstrak.”

“Oh, ya kaum milenial juga kritis dan rasional sehingga mungkin mereka baru menentukan pilihan di detik-detik akhir-akhir pemilu. Branding politik peserta pemilu harus diubah. Jangan seperti Orba yang kaku dan mengesankan ada jarak,” ujar Phirman.

Pengamat politik dari Akar Rumput Strategic Consulting, Yohan Wah­yu, mengakui menumbuhkan ke­sadaran kaum milenial akan pen­tingnya pe­milu menjadi urgen karena menyangkut kemaslahatan bangsa.

“Narasi seperti itu terus didorong untuk meningkatkan partisipasi milenial. Gaya peserta pemilu pun harus interaktif jika ingin menggaet mereka. Peserta pemilu jangan kaku atau melekatkan citra Orde Baru kepada mereka. Ini sangat tidak disukai milenial,” ungkap Yohan.

Dengan kata lain, upaya konkret untuk mengerek partisipasi kaum milenial dapat tercapai bila peserta pemilu juga mampu menerjemahkan literasi dalam bahasa yang nonteknis.

“Artinya, kita harus menerjemahkan ke dalam bahasa yang lebih membumi. Perlu formula khusus yang bisa membantu milenial memahami isu hukum, HAM, dan terorisme agar lebih menyentuh mereka,” tutur pengamat komunikasi politik UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Gun Gun Heryanto.

Priyo Budi Santoso selaku Wakil Ketua Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo Subianto-Sandiaga Uno mengaku optimistis pihaknya meraih suara kalangan milenial.

“Kami beruntung ada Sandiaga Uno yang tanpa polesan apa pun. Dia tokoh muda, energik, dan digandrungi milenial. Nah, ini melengkapi figur Pak Prabowo yang karismatik.” (Njr/Gol/X-3)

Berita Terkini

Read More

Poling

Minggu (17/3) digelar debat ketiga Pilpres 2019. Debat kali ini diikuti oleh Calon Wakil Presiden Ma'ruf Amin dan Sandiaga Salahudin Uno. Debat ini akan mengangkat tema pendidikan, kesehatan, ketenagakerjaan, sosial, dan budaya. Menurut Anda siapa yang akan unggul dalam debat kali ini?





Berita Populer

Read More