Bertamasya dengan Ngeng

Penulis: AT/M-4 Pada: Minggu, 13 Jan 2019, 06:05 WIB Weekend
Bertamasya dengan Ngeng

MI/ARDI TERISTI HADI

MUSIKUS sekaligus komposer musik, Djaduk Ferianto, ternyata juga memendam kecintaan terhadap dunia fotografi. Kecintaannya itu diluapkan dalam pameran fotografi di Bentara Budaya Yogyakarta bertajuk Meretas Bunyi dari 15-23 Desember 2018.

Kepada Media Indonesia, Djaduk Ferianto pun menceritakan latar belakang dirinya menggelar pameran fotografi. “Dari hasil jepretan saya, pasti berbeda dengan yang lain, dari memilih angle dan menata komposisinya. Dari komentar teman-teman juga bilang beda. Dari situlah saya punya keyakinan untuk membuat pameran fotografi,” katanya membuka pembicaraan.

Dia tertarik dengan dunia fotografi karena sebelumnya sering menjadi objek foto. Salah satu fotografer yang juga perupa yang memengaruhinya ialah Kusnadi, pada periode 1980-an. Setelah itu, fotografi menjadi stimulus untuk mengasah sensitivitasnya. Selain itu, Ali Said juga dikaguminya, khusus untuk fotografi seni pertunjukan.

Adik pekerja seni Butet Kertaradjasa itu juga banyak bereksplorasi dengan foto hitam putih. Baginya, ada misteri yang luar biasa. Meski demikian, ada juga foto berwarna. “Untuk menurunkan tensi, biar pandangan tidak lelah (dengan hitam-putih),” ujarnya.

Ada keunikan lain, dia tidak menyertakan keterangan foto. Alasannya agar para penikmat foto memiliki kebebasan dalam menginterpretasi tiap foto. Kita bisa bertamasya dengan ngeng-nya masing-masing. Saya tidak mau menyeragamkan ngeng penikmat dengan ngeng saya.”

Apa yang dimaksud dengan ngeng?­ ­Baginya, itu ialah perpaduan antara puncak rasa dan pikiran.

Awal

Putra bungsu dari Bagong Kussudiardja, koreografer dan pelukis senior Indonesia itu kemudian bercerita awal tekun memotret. Dia pertama kali membeli kamera analog saat di Jerman. Setelah masuk era digital, dia kemudian bertemu dengan komunitas fotografi di Yogyakarta Gembira Selalu dan banyak berinteraksi dengan mereka, termasuk hunting foto bersama.

Kemudian, dorongan apa yang membuat dirinya  memotret suatu peristiwa atau benda? “Itu sulit dilihat dan diterjemahkan secara harfiah. Ketika saya hunting, kalau ngeng-nya enggak ada, ya mungkin enggak saya ambil,” jelasnya.

Sebagai musikus, dunia yang sekarang dirambahnya memberikan pengaruh. Apalagi, selama ini dia dibesarkan di lingkungan seni (musik) tradisi. “Dalam seni gamelan, misalnya, ketika membikin musik, tidak dimungkiri selalu punya imaji tentang gambar. Musik dengan peristiwa selalu erat dalam seni musik tradisi. Di fotografi, ketika melihat peristiwa, naluri musik saya ikut juga di dalam ngeng saya. Peristiwa itu bisa terasa sangat musikal bagi saya. Walau dalam foto bisu, ada energi yang luar biasa.” (AT/M-4)

Berita Terkini

Read More

Poling

Debat perdana Pilpres 2019 menjadi ajang untuk menunjukkan impresi para kandidat Pasangan Calon Capres-Cawapres nomor urut 01 Joko Widodo-Ma'ruf Amin dan nomor urut 02 Prabowo Subianto-Sandiaga Uno. Menurut Anda siapa yang unggul di debat perdana ini?





Berita Populer

Read More