Wastra yang Mengubah Hidup

Penulis: Siswantini Suryandari Pada: Minggu, 13 Jan 2019, 00:50 WIB Ekonomi
Wastra yang Mengubah Hidup

MI/Siswantini Suryandari

AWALNYA Ferry Sugeng Santoso tidak menyukai batik, bahkan dia tidak bisa membatik. Namun, ia kemudian jatuh cinta dengan wastra yang lantas mengubah jalan hidupnya.

Pria berambut panjang itu kini dikenal sebagai pengusaha batik khas Pasuruan. Tepatnya, Pemangku Padepokan Alam Batik di Dusun Pajaran No 99, Desa Gun­ting, Kecamatan Sukorejo, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur.

“Awal saya menyukai batik dan membatik saat menghadiri workshop batik yang diadakan Dinas Koperasi dan UKM Kabupaten Pasuruan pada 2005. Saya itu tidak bisa membatik, bahkan tidak tertarik meski ibu saya ialah pengusaha dan pembatik. Ibu saya sudah mulai bisnis batik sejak 2001 sampai sekarang,” terang Ferry kepada Media Indonesia, saat ditemui di Sampoerna Entrepreneurship Training Center (SETC) Expo di Denpasar, Bali, pada 14-16 Desember.

Kedatangan di acara workshop itu pun tak sengaja. Ferry menggantikan temannya yang absen karena sakit. “Dari situlah saya tertarik belajar membatik. Sepulang dari workshop mencoba belajar membatik sendiri,” tutur Ferry yang akrab dipanggil Ki Joyo ini.

Ferry ternyata memang berbakat. Saat membatik, ia tidak membuat pola di atas kain katun atau mori, tapi langsung menuangkan canting berisi lilin panas ke kain dan jadilah gambar-gambar alam.

Bapak satu anak ini kemudian belajar membuat warna-warna alami yang bahan-bahannya diperoleh dari lingkung­an sekitarnya. Desa tempat tinggal Ferry tidak jauh dari pabrik rokok PT HM Sampoerna. Oleh sebab itu, warna-warna alam yang dihasilkan pun tidak jauh dari bahan baku utama rokok, seperti daun tembakau dan bunga cengkih. Ada pula daun matoa. “Di lingkungan pabrik ada gerakan menanam pohon matoa seluas 35 ribu hektare. Daun-daunnya saya manfaatkan sebagai pewarna alami batik,” tambahnya.

Kemampuan Ferry membatik, membuat pola gambar dan meramu warna-warna alami ini membuatnya ditarik PT HM Sampoerna untuk menjadi mentor bagi warga masyarakat sekitar agar mereka bisa meniru jejaknya sebagai pembatik. “Pada 2007, saya menjadi mentor batik di PT HM Sampoerna untuk program CSR. Saya mengajari siapa saja yang tertarik,” kata Ferry.

Ia sudah melatih lebih dari 500 orang, dan rata-rata muridnya yang serius menjadi pembatik hanya sekitar 50 orang. Alasannya, ketelatenan dan kesabaran menjadi pembatik tidak selalu dimiliki setiap orang yang telah dilatih.

Selama menjadi mentor, Ferry terus belajar dan meningkatkan kemampuannya dalam menciptakan warna-warna alami yang indah dan berkelas sebagai ciri khas batik Pasuruan.

Tiga tahun menjadi mentor, Ferry memutuskan berhenti dan mendirikan Padepokan Alam Batik. Di situlah Ferry kian intens menciptakan batik-batik tulis bertemakan alam. “Konsep batik saya adalah back to nature dan kembali ke masa lampau. Batik yang saya ciptakan juga melambangkan hubungan manusia dengan alam dan penciptanya.”

Pria kelahiran 13 April 1980 itu kini telah mengasah kemampuannya membuat warna-warna eksotis dengan teknik pencelupan tingkat tinggi.

Untuk menciptakan warna-warna klasik, butuh teknik pencelupan yang cukup lama. Ferry pernah membuat pesanan batik yang dikerjakan selama satu setengah tahun. Padahal, panjang kain batiknya hanya dua meter seperti pada umumnya. “Kain batik dengan harga Rp200 juta itu pesanan sebuah galeri di Eropa. Teknik pencelupannya sampai 200-300 kali,” tambahnya.

Harga kain batik yang dijual Ferry rata-rata mulai Rp450 ribu hingga ratusan juta rupiah. “Kebanyakan yang harganya di atas Rp10 juta untuk koleksi galeri atau memang kolektor kain batik klasik,” jelasnya.

Mahalnya kain batik ciptaan Ferry juga tidak terlepas dari faktor nilai filosofi. Umumnya, para kolektor di samping melihat kerumitan teknik pembuatan dan pewarnaan, juga melihat filosofi di balik batik karyanya.

Adapun galeri-galeri yang telah me­ngoleksi batik Ferry berada di Roma, Kuala Lumpur, Melbourne, Singapura, Seoul, dan Kanada.

Mengembangkan usaha

Di samping regenerasi, Ferry pun bersyukur sejak ia ikut terlibat latihan membatik yang dikelola Pusat Pelatihan Kewirausahaan (PPK) Sampoerna, pe­ngalamannya terus bertambah. “Terutama kewirausahaan. Itu bagi saya sesuatu yang baru. Saya bisa menciptakan batik, tapi kalau tidak bisa menjual bagaimana? Dengan ikut PPK, saya jadi tahu cara mengembangkan usaha, mengemas, menciptakan pasar, dan sebagainya,” terang Ferry.

Partisipasinya di PPK Sampoerna juga mendatangkan manfaat lain, berupa ajakan sebagai peserta di berbagai pameran.  Seperti halnya saat pameran di SETC Expo 2018, ia bersua banyak pengusaha UKM dari berbagai daerah.

“Saya senang kalau ada pameran, bisa tukar-menukar pengalaman, menambah jejaring. Tidak hanya urusan jualan, tapi ada pengetahuan baru yang saya peroleh dari tiap pameran,” ungkapnya.
Pengetahuan demi pengetahuan yang diperoleh saat mengikuti pameran meng­antarkan Ferry sebagai juara tingkat nasional batik dengan pewarna indigo terbaik pada 2018. “Ini sebuah pencapai­an bagi saya karena saya terus belajar memperbaiki dan menyempurnakan karya saya. Kemenangan ini memicu saya untuk terus meningkatkan kualitas produksi batik saya,” tambahnya.

Dengan modal Rp20 juta saat ia meng­awali bisnis batik, Ferry kini sudah memiliki 15 karyawan yang digaji rata-rata Rp45 juta. “Saya merekrut anak-anak putus sekolah untuk bekerja di padepokan saya. Mereka saya latih dari nol,” ujar pria yang tak tamat bangku SMA itu.
Di tengah kesibukannya sebagai pebatik dan desainer, Ferry berkeinginan memperkenalkan Pasuruan ke dunia. Salah satunya dengan mendirikan museum batik yang berisi karya-karyanya yang spektakuler.

Diakuinya, alam indah Pasuruan saat ini masih kurang dikenal luas. Rata-rata orang datang ke Pasuruan hanya untuk ke Taman Nasional Gunung Bromo Tengger Semeru. Setelah itu, para wisatawan langsung menuju Malang atau daerah lainnya. “Nah, saya ingin mereka yang sudah sampai Pasuruan merasa tidak sah bila tidak melihat museum batik Pasuruan. Tidak sah disebut sudah ke Pasuruan, kalau tidak mengenal batik khas Pasuruan,” kata Ferry dengan penuh semangat. (M-2)

Berita Terkini

Read More

Poling

POLISI tidak langsung menangkap creator dan buzzer berita bohong atau hoaks mengenai 7 kontainer surat suara tercoblos di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara. Alasannya, aparat masih melakukan pendalaman dari sisi aspek alat bukti untuk penyelidikan kasus tersebut dan masih menunggu hasil laboratorium forensik terkait identifikasi suara. Setujukah Anda dengan sikap Polri tersebut?





Berita Populer

Read More