Bangkit dengan Bisnis Kerupuk Kulit Ikan Patin

Penulis: Nda/M-2 Pada: Minggu, 13 Jan 2019, 00:30 WIB Ekonomi
Bangkit dengan Bisnis Kerupuk Kulit Ikan Patin

DOK. SAMPOERNA

I Wayan Rubadiana atau akrab disapa Bli Yande tidak menyangka akan menjadi pengusaha sukses kerupuk kulit ikan patin. Sebelumnya, Bli Yande membuka usaha peternakan ayam potong dan pemborong bangunan.

Namun, dalam perjalanan waktu, ia bangkrut. Bahkan, punya utang hingga Rp1,2 miliar. Ia pun harus menyelamatkan finansialnya dengan mencoba usaha baru.

“Kebetulan di lingkungan rumah saya ada penjual kerupuk ikan yang cukup laris. Lalu, saya mencoba usaha membuat kerupuk ikan dengan menggunakan kulit ikan salmon,” kata Bli Yande di acara Sampoerna Entrepreneurship Training Center (SETC) Expo di Denpasar, Bali, medio Desember.

Dengan menggunakan bumbu rempah spesial buatan ibunya, ia pun memulai bisnis kerupuk ikan kulit salmon itu. Tidak disangka, konsumen memberikan respons positif. Akhir 2016, Bli Yande mulai serius menekuni bisnis kerupuk ikan.

“Saya lalu pindah ke patin karena harga kulit ikan salmon terus naik. Mulai Rp5.000 per kilogram menjadi Rp75 ribu per kilogram hanya dalam waktu sembilan bulan,” terangnya.

Rasa rempah-rempah menjadi ciri khas kerupuk Bli Yande. Ia pun memberanikan diri memberikan merek pada produknya, Kerupuk Ikan Patin Dua Rasa. Ia hanya membuat dua rasa kerupuk kulit ikan patin ini, orisinal dan pedas. Bli Yande juga menawarkan produk kerupuk setengah matang sehingga konsumen bisa menggorengnya di rumah.

Kendati nama kerupuknya mulai dikenal, Bli Yande merasa ia perlu meningkatkan nilai jual produknya, mulai dari pengemasan, pengembangan produk, sampai memperluas relasi. “Saya kemudian ikut pelatihan di Dinas Koperasi dan UKM Tabanan,” jelasnya.

Di situlah ia mengenal program tourism based retail enterpreneurs development (Trend) yang diinisiasi Sampoerna dan Yayasan BEDO (Business & Export Development Organization). Dalam pelatihan itu, Bli Yande mendapatkan beragam ilmu, mulai pengelolaan tempat kerja, penyimpanan, hingga proses produksi yang memenuhi standar.

“Saya juga belajar kemasan produk. Bagaimana produk ini bisa dibawa menjadi oleh-oleh. Saya banyak belajar saat berlatih di Trend ini,” ujar Bli Yande yang kini sudah memiliki 15 karyawan.

Dengan modal Rp500 ribu saat membuka usaha tiga tahun lalu, kini omzet yang diperoleh rata-rata Rp300 juta per bulan. Sementara itu, harga jual keripiknya Rp150 ribu per kilogram. Saat ini, ia mampu memproduksi satu ton kerupuk kulit ikan patin.

“Saya akan terus mengembangkan produk ini dengan kemasan baru yang lebih eksklusif untuk meningkatkan nilai jual,” kata Bli Yande yang sudah melebarkan pemasaran kerupuk kulit ikan patin ke Kota Malang. (Nda/M-2)

Berita Terkini

Read More

Poling

Debat perdana Pilpres 2019 menjadi ajang untuk menunjukkan impresi para kandidat Pasangan Calon Capres-Cawapres nomor urut 01 Joko Widodo-Ma'ruf Amin dan nomor urut 02 Prabowo Subianto-Sandiaga Uno. Menurut Anda siapa yang unggul di debat perdana ini?





Berita Populer

Read More