Politik Urub-Urub

Penulis: Ono Sarwono Pada: Minggu, 13 Jan 2019, 00:10 WIB Opini
Politik Urub-Urub

SEKALI lagi. Dalang wayang kulit legendaris Ki Manteb Soedharsono kembali menampilkan sanggitan apik yang dapat dipersepsikan sebagai sentilan terhadap dunia perpolitikan negeri ini. Ini tampak dalam bagian lakon Antareja Racut yang ia bawakan dalam pergelaran wayang kulit semalam suntuk pada malam Tahun Baru 1 Januari 2019 lalu di Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta.

Sesi itu ialah ketika Sri Bathara Kresna menemui Karna Basusena di suatu tempat menjelang pecah Bharatayuda. Kresna membujuk Karna agar bergabung dengan Pandawa. Namun, Karna dengan tegas menolaknya.

Posisinya berada di kubu Duryudana (Kurawa) ia sadari betul bahwa itu 'langkah keliru' yang akan membuatnya mati. Namun, itu cara yang ia tempuh agar kezaliman, yang dilambangkan Kurawa, sirna. Karna menyebut dirinya menjadi urub-urub (pembakar) semangat Duryudana (Kurawa) agar berani melawan Pandawa sebagai jalan tegaknya keadilan.

Mengkritik sesepuh

Alkisah, Raja Astina Prabu Duryudana menggelar rapat paripurna di sitihinggil. Hadir selain semua nayaka praja teras Astina, di antaranya Sengkuni, Karna, dan Durna, juga dua sesepuh sekaligus pepunden, yaitu Maharsi Bhisma serta Raja Mandaraka Prabu Salya.

Atas kehendak Duryudana, agenda rapat tunggal, membahas masa depan Negara Astina setelah Pandawa merampungkan hukuman pembuangan di Hutan Kamyaka selama 12 tahun dan hidup menyamar selama satu tahun.

Bhisma, ahli waris sejati takhta Astina, mengusulkan agar wilayah Astina dibelah sigar semangka, artinya dibagi dua sama besar. Satu bagian untuk Kurawa dan sebagian lagi untuk Pandawa. Harapannya dua keluarga trah Abiyasa itu bisa hidup rukun selama-lamanya.

Sebaliknya Salya, mertua Duryudana, berpendapat Astina seutuhnya dikembalikan saja kepada Pandawa. Dasarnya Pandawa ialah ahli waris Astina setelah ayah mereka, Pandu Dewanata, meninggal.

Sebagai gantinya, Salya siap menyerahkan takhta Mandaraka kepada Duryudana. Ia mengaku sudah sepuh dan tidak ingin berlama-lama lagi memegang tampuk kekuasaan di Mandaraka. Ia ingin segera menyepi mencari memanise pati, mati husnulkhatimah.

Durna, yang dimintai pendapatnya oleh Duryudana, menyatakan semua usul para sesepuh baik. Menurutnya, Pandawa mesti juga diberi hak atas wilayah Astina. Hal itu bertujuan menghindari perselisihan.

Kemudian, Sengkuni yang diberi waktu berbicara mengatakan dirinya tidak setuju bila Astina dibagi atau diberikan seutuhnya kepada Pandawa. Menurutnya, Kurawa harus mempertahankan kekuasaan atas Astina dari pihak-pihak yang ingin mencoba mengusik, termasuk Pandawa.

Setelah mendengar ucapan Sengkuni, Duryudana tampak galau. Bagaimana Kurawa mampu menang melawan Pandawa, pikirnya. Memang Pandawa hanya berjumlah lima orang, sedangkan Kurawa seratus orang. Namun, Duryudana mengaku tidak buta bahwa Pandawa--Puntadewa, Werkudara, Arjuna, Nakula, dan Sadewa--semuanya sakti mandraguna.

Di tengah keraguan Duryudana, Karna menyela meminta waktu bicara. Ia meyakinkan Duryudana (Kurawa) agar tidak takut melawan Pandawa. Ia bersumpah dirinya siap menjadi agul-agul (tumpuan) Kurawa memusnahkan Pandawa. Karna juga menyarankan Duryudana membuang jauh-jauh saran para sesepuh yang ia nilai sudah takut darah.

Tolak ajakan Kresna

Salya tersinggung dengan perkataan Karna, yang juga ialah menantunya sendiri. Ia meradang karena merasa diremehkan dan menilai Karna sudah keblinger, kehilangan kiblat. Namun, sebelum suasana semakin sengit, Karna buru-buru meninggalkan pertemuan tanpa pamit.

Sesaat kemudian, tibalah Kresna di pertemuan tersebut. Ia menyatakan dirinya menghadap sebagai duta Pandawa yang membawa misi meminta kembalinya Astina. Duryudana menerima dengan baik-baik kehadirannya dan ia memutuskan ingin segera mengembalikan Astina kepada Pandawa.

Sesuai dengan tata krama kenegaraan, Kresna meminta perlu adanya surat resmi yang ditandatangani Duryudana terkait dengan keputusannya. Namun, Sengkuni yang diperintah Duryudana mempersiapkan surat tersebut malah mengadu kepada Gendari, ibunda Kurawa, tentang sikap Duryudana yang mengembalikan Astina kepada Pandawa.

Tidak lama kemudian Gendari datang dan langsung meluapkan kemarahannya. Kemudian ia mengatakan akan bunuh diri bila Duryudana menyerahkan Astina. Ia tidak ingin melihat anak-anaknya sengsara karena pasti akan terusir.

Setelah melihat reaksi ibunya seperti itu, Duryudana berubah pikiran. Kepada Kresna, ia menegaskan Astina akan ia pertahankan hingga tetes darah penghabisan. Sumpah Karna kepada dirinya sebelumnya masih terngiang-ngiang di telinga. Duryudana yakin Karna sangat sakti dan benar-benar bisa diandalkan.

Pertemuan kemudian bubar begitu saja. Beberapa saat kemudian, Kresna yang belum beranjak jauh dari tempat duduknya dikeroyok Dursasana dan adik-adiknya atas perintah Sengkuni. Kresna yang merasa terancam nyawanya seketika bertiwikrama, beralih wujud menjadi raksasa sebesar gunung. Ia dengan ganas mengobrak-abrik barisan Kurawa.

Sebelum Kurawa tergilas dan Istana Astina hancur lebur, Bathara Narada datang mengingatkan Kresna untuk tidak mengumbar marah. Karena bila tidak, skenario jagat akan terjadinya Bharatayuda bisa batal.

Kresna sadar dan kembali ke wujud asli. Ia kemudian mencari Karna. Setelah berkeliling di sekitar Istana Astina, ia berhasil menemukannya. Mereka terlibat dalam dialog panjang tentang bakal terjadinya Bharatayuda.

Kresna menyarankan Karna agar berpihak kepada Pandawa. Alasannya Pandawa merupakan adik-adik kandungnya sendiri lain ayah. Selain itu, Pandawa berada pada pihak benar dan yang akan unggul dalam peperangan.

Di pihak zalim

Karna menolak saran Kresna. Alasannya dirinya sudah bersumpah berada di kubu Duryudana. Pun ia tahu Kurawa akan musnah di Kurusetra. Ia pun sadar dirinya akan mati di tangan Arjuna. Namun, itu semua jalan pengabdiannya yang ia pilih demi terwujudnya keadilan jagat.

Karna mengungkapkan Duryudana sesungguhnya takut berperang melawan Pandawa. Itu tampak setelah memperhitungkannya dari segala sisi. Namun, karena setiap saat ia mengompori Duryudana, akhirnya sulung Kurawa itu berani.

Dengan caranya itu, akhirnya Bharatayuda benar-benar terjadi. Duryudana tidak ragu dan bimbang maju ke pelagan. Di sanalah akhirnya kezaliman yang disandang Kurawa hilang di tangan Pandawa yang melambangkan kebenaran.

Hikmah kisah itu ialah perjuangan menegakkan keadilan bukan harus selalu berada pada pihak yang benar. Karna justru bergerak dan berpihak dalam kelompok zalim. Ia ngurub-urubi (membakar) semangat Duryudana yang semula ciut menjadi berani melawan Pandawa hingga pada akhirnya mereka lenyap dari muka bumi. (M-2)

Berita Terkini

Read More

Poling

Minggu (17/3) digelar debat ketiga Pilpres 2019. Debat kali ini diikuti oleh Calon Wakil Presiden Ma'ruf Amin dan Sandiaga Salahudin Uno. Debat ini akan mengangkat tema pendidikan, kesehatan, ketenagakerjaan, sosial, dan budaya. Menurut Anda siapa yang akan unggul dalam debat kali ini?





Berita Populer

Read More