Berdiri Tegak di Perbatasan

Penulis: Hilda Julaika Pada: Sabtu, 12 Jan 2019, 23:30 WIB Weekend
Berdiri Tegak di Perbatasan

Dok. Pribadi

PEMBANGUNAN Indonesia yang tersebar dari Sabang sampai Merauke sayangnya belum rata. Masih banyak saudara-saudara kita di pedalaman dan perbatasan negara yang hidup dalam keterbatasan. Menyadari kondisi itu, Luthfi Irawan Prihatmadi yang baru lulus dari Institut Teknologi Bandung (ITB) terpanggil mengabdi ke perbatasan melalui Marching for Boundarries (MFB) atau Berdiri Tegak di Perbatasan. Di tengah kesibukannya di Pedalaman Akid, Kepulauan Meranti, Provinsi Riau, Luthfi menyempatkan berbincang dengan Muda, pada Rabu (9/1).

Bisa dijelaskan apa itu program MFB?

MFB kepanjangan dari Marching for Boundarries, itu ibaratnya program untuk tetap berdiri di perbatasan. Anak-anak yang mengikuti program MFB ini dikirim ke perbatasan untuk membantu masyarakat di sana. MFB sendiri salah satu program dari Beasiswa Aktivis Nusantara (Bakti Nusa). Lokasi saya di Suku Pedalaman Akid, Kepulauan Meranti, Provinsi Riau, memang tidak langsung berbatasan dengan negara lain. Suku ini letaknya di Desa Sokop. Namun, perbatasannya laut atau selat. Kalau kita menyeberanginya sudah Malaysia. Saya memulai program MFB dari 7 November hingga pertengahan Januari ini.

Bagaimana dengan keadaan sosial di sana?

Karena terletak di kepulauan, mata pencaharian terbesar masyarakatnya ialah nelayan dan kilang sagu. Di daerah ini tercatat banyak pohon sagu. Kerjaannya seperti menebang pohon sagu, memotong sagu, mengupas sagu, hingga membawa sagu dari kebun ke kilangnya.

Sementara itu, untuk memenuhi kebutuhan pokok sehari-hari, mereka tidak punya pasar. Jadi, harus ke desa sebelah yang sudah tidak ada suku asli. Kalau naik motor sekitar 45 menit dan jalannya kerap berlumpur. Di sini harganya cenderung lebih mahal jika dibandingkan dengan di kota karena barangnya didapatkan dari Kabupaten Selat Panjang menggunakan kapal dan menyeberangi laut selama 2 jam.

Lalu, dari sisi agama awalnya masyarakat memiliki kepercayaan tertentu yang dianut. Namun, saat pendataan penduduk oleh pemerintah dan harus mengisi kolom agama, mereka mengisi dengan agama Buddha sebagai formalitas. Sekarang sedikit demi sedikit sudah ada yang memeluk agama Islam.

Bagaimana dengan pendidikan di sana?

Awalnya di sini belum ada sekolah. Pada 2014, Menteri Sosial Khofifah datang ke sini memberikan bantuan. Ketika Khofifah menanyakan kebutuhan dari desa ini, Ria, salah satu guru honorer dari desa sebelah bernama Desa Tebun mengusulkan mendirikan sekolah bagi anak-anak suku pedalaman. Dia ialah guru yang mengajar di pagi hari, lalu siangnya mengabdikan diri untuk mengajar anak-anak di suku pedalaman. Akhirnya pada 2014, dibangun sekolah bernama SDN 12 Sokop Lokal Jauh yang kini memiliki lima guru.

Sekolahnya ini masih sampai kelas 5 SD, sayangnya kelasnya cuma ada empat. Jadi, masih ada kelas yang belajar di luar atau digabung dengan kelas lain. Sementara itu, 5 guru yang mengajar berasal dari desa sebelah karena belum ada tenaga guru dari suku pedalaman. Mereka paling banter lulusan SD saja.

Karakter anak-anak di sini juga berbeda dengan anak-anak di kota. Kalau mereka melakukan kesalahan lalu dihukum, bukannya takut malah enggak mau berangkat sekolah lagi. Di sini juga ada anak-anak yang kejar paket dan alhamdulillah mereka mau ikut belajar juga.

Bagaimana dengan program kelas aksara untuk ibu-ibu buta aksara?

Saat awal datang, masyarakat sangat menerima kedatangan orang baru seperti saya. Kalau memberikan pelatihan atau pengajaran, mereka itu cenderung menerima dan manut sama kami. Mereka mudah tertarik untuk mengikuti kegiatan kami.

Sebenarnya, sebelumnya sudah ada kelas aksara dari Sekolah Literasi binaan Dompet Dhuafa. Namun, vakum sekitar satu tahun. Saya akhirnya melanjutkan lagi dan terdapat peserta-peserta baru. Di kelas aksara ini, 16 ibu yang belajar, hanya dua yang lulus SD, sisanya belum pernah sekolah.

Mereka belajar menulis dan membaca. Kalau menulis, awalnya mereka tidak lengkap hurufnya, tidak menggunakan tanda baca, dan belum menggunakan bahasa baku. Kini mereka sudah hafal semua huruf dan menerapkannya dalam tulisan.

Mereka jadi lebih antusias karena saya kerap memberikan konten tertentu dalam pengajaran. Misalnya, menulis soal perencanaan uang keluarga, anak, mimpi, hingga kebersihan. Saya bahkan pernah menggunakan sastra dan puisi Suamiku, Pahlawanku. Awalnya mereka kalau berbicara pelan, sekarang sudah percaya diri.

Apa program lainnya yang kamu lakukan?

Saya mengajar semua mata pelajaran di sekolah karena gurunya kurang. Selain itu, membimbing persiapan Olimpiade sains. Saya lumayan punya pengalaman ikut Olimpiade sains, jadi sedikit mengetahui triknya. Saya melatih bola voli dan sepak bola bagi anak-anak. Melalui hal ini dikenalkan mental kompetisi bagi anak-anak.

Apa tantangan yang dihadapi selama pengabdian?

Tantangan yang paling berat ialah menyederhanakan penyampaian materi. Kadang menurut kita bahasa yang disampaikan sudah paling sederhana, tapi ketika kita sampaikan, mereka masih belum paham. Apalagi, pengajaran ibu-ibu aksara/membaca itu harus menggunakan metode sesederhana mungkin.

Tantangan kedua, akomodasi. Kalau kita membutuhkan sesuatu agak sulit mendapatkannya, jadi kita harus kreatif. Misalnya, dalam penyampaian materi saya harus membuat gambar dan penyampaian kreatif karena listriknya nyala dari pukul 06.00-23.00 menggunakan diesel dan tidak ada proyektor.

Selain itu, kalau kita mau melakukan advokasi kepada pemerintah harus benar-benar sabar. Kapal cuma ada dua, berangkat cuma sekali pada pukul 07.00. Kalau ingin mengurus apa-apa, seperti pengajuan tambahan guru, harus ke kabupaten. Kalau kita telat menunggu kapal sedikit saja, akan tertinggal. Sementara itu, dari kabupaten kembali ke desa pukul 12.00 dan tidak bisa terlambat. Intinya, mengurus banyak hal di sini memang ongkosnya mahal. Namun, tantangan ini dilakukan demi tetap berdiri di perbatasan dan membantu masyarakat semampu kita.

Apa yang paling berkesan dari mengikuti MFB?

Pertama, kepedulian orang di sini sangat erat dan berbeda dengan orang-orang seperti kita, seperti gotong royong, budaya solidaritas, dan kepeduliannya sangat tinggi. Ketika kita membutuhkan sesuatu, mereka membantunya dengan tulus.

Saya diingatkan menumbuhkan rasa syukur pada hal-hal yang kecil. Di sini, mereka minum air gambut yang berwarna merah. Mereka menggali sepanjang 1 meter dan langsung diminum. Selain itu, ada air tadah hujan juga. Saya bersyukur bisa meminum air yang lebih bersih.

Saya juga terinspirasi dengan Ibu Ria yang mengelola sekolah ini. Dirinya sudah mengeluarkan banyak biaya dan waktu demi anak-anak di suku pedalaman agar bisa belajar dan bersekolah. Dana dari BOS hanya Rp500 ribu untuk operasional. Jadi, untuk buku harus mengeluarkan uang pribadi. Dia tulus melakukannya, luar biasa memang. Intinya kita itu harus selalu berbuat baik semampu kita.

Ada pesan untuk anak muda Indonesia mengenai kepedulian sosial?

Di zaman ini yang serbadigital, segala sesuatu jadi lebih mudah. Membantu orang bisa dikemas dengan keren. Kita perlu berpikir melakukan hal yang ringan, tetapi mengandung kebaikan. Bisa mulai di sekitar kita saja. Tidak harus ke pedalaman. (M-3)

Berita Terkini

Read More

Poling

POLISI tidak langsung menangkap creator dan buzzer berita bohong atau hoaks mengenai 7 kontainer surat suara tercoblos di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara. Alasannya, aparat masih melakukan pendalaman dari sisi aspek alat bukti untuk penyelidikan kasus tersebut dan masih menunggu hasil laboratorium forensik terkait identifikasi suara. Setujukah Anda dengan sikap Polri tersebut?





Berita Populer

Read More