Dia Pulang dengan Lidah Terpotong

Penulis: Sirojul Khafid Pada: Sabtu, 12 Jan 2019, 22:30 WIB Weekend
Dia Pulang dengan Lidah Terpotong

PATRIK pulang dengan merangkak. Konon, Arwah Jahat di Hutan Terlarang telah memberinya pelajaran. Ia lancang memasuki kediaman mereka tanpa izin. Alhasil, lidahnya dipotong.

LAMTIUR sudah tiga jam berdiri di teras. Memandang hutan di depannya yang hanya berjarak dua ratus langkah kaki. Kebiasaan itu dia lakukan setiap pagi dan sore hari. Setiap memandang Hutan Terlarang, wejangan ibunya selalu muncul, seakan keluar dari persembunyiannya.

"Jangan sekali-kali mendekati, apalagi masuk Hutan Terlarang. Siapa pun yang masuk, akan keluar dengan tubuh babak-belur, cakaran, dan lidah terpotong. Ada Arwah Jahat di sana. Dahulu, Arwah Jahat menyerang desa, untung kepala desa saat itu bisa menangkap dan menguncinya di hutan," kata ibu Lamtiur suatu malam.

"Kau ingat nasib temanmu si Patrik kan? Ceroboh sekali dia, berlagak melanggar aturan. Sekarang masih dalam penyembuhan oleh kepala suku kita di rumahnya, sudah berbulan-bulan," tambah ibunya dengan raut muka kadang cemas kadang geram.

Tapi, kalian tahu? Kata 'jangan' selalu beriringan dengan rasa penasaran. Jangan pernah berkata 'jangan' kepada anakmu kalau kau tidak ingin ia melakukan sesuatu yang kau larang.

Di rumah panggung reot, Lamtiur menunggu ibunya bekerja di ladang. Hanya barisan serangga di tembok kayu yang selalu dia ajak bicara. Dia senang berbicara dengan serangga atau hewan yang kadang mampir di rumahnya. Katanya, hewan-hewan itu tidak akan pernah mencela atau tidak setuju dengan apapun yang dia utarakan.

"Kau tahu? Aku selalu membayangkan bisa bermain dan berlarian di hutan itu. Makan buah-buahan, memanjat pohon, melempari monyet, atau hanya sekadar tidur di samping sungai," kata Lamtiur kepada tupai yang sedang mampir di rumahnya. Tupai hanya diam -tentu saja- apalagi buah pemberian Lamtiur belum habis di mulutnya.

Lamtiur biasanya tidak begitu takut akan ancaman ibunya. Tetapi beda hal kalau ibunya sudah mengutip perintah ketua desa. Percayalah, hukuman ketua desa --di desa adat yang ketat seperti tempat Lamtiur-- bukanlah hal membanggakan. Apabila kau berbuat salah, ibumu tidak akan marah lebih dari satu hari. Namun, jika kau melanggar hukum desa, Ketua Desa dan seluruh warga akan marah kepadamu sampai mati.

Mengerikan memang apa yang Patrik alami setelah masuk Hutan Terlarang itu. Tapi, bukankah dia tidak pernah bercerita apa yang terjadi? Ya, tepatnya tidak bisa karena kondisi lidahnya. "Tapi, hei, jangan sebut aku lelaki kalau masuk hutan terlarang saja aku tak berani," tegas Lamtiur kepada tupai. Makanan tupai sudah habis, tapi tetap saja dia diam.

"Apa kau mendukungku?" tanya Lamtiur kepada Tupai.

"Baik, diam berarti iya."

Tupai seketika berlari. Bukan karena makanannya habis, tapi ibu sudah pulang dari ladang. Lamtiur mencium tangan ibunya yang mulai keriput dan masih kotor dengan tanah. "Masih saja kau melihat hutan itu. Mungkin mengunjungi Patrik di rumah Ketua Desa akan membuatmu sadar tak ada gunanya masuk hutan. Dia sudah mulai bisa keluar rumah setelah ketua desa mengobatinya," kata ibu sambil berjalan ke dapur.

"Ibu bawa ikan piranha, siapkan tungku, kita siapkan makan malam."

***

Luka cakaran pada wajah Patrik sudah mengering, namun bekasnya masih jelas di kedua pipi dan pelipisnya. Sebelah matanya masih biru. Mata itu terlihat seperti garis karena lebam. Lidahnya sudah tidak terlihat. Pandangannya kosong. Hanya menyahut dengan anggukan dan gelengan apabila diajak bicara.

Lamtiur dan warga desa lain hanya bisa melihat Patrik dengan pedih. Ketua Desa berdiri dan bicara. Dia selalu mengulang-ulang kalimatnya, bahwa yang dialami Patrik akibat melanggar hukum desa dengan masuk ke Hutan Terlarang.

"Inilah akibatnya kalau kalian melawan petuah nenek moyang. Kalau tidak ingin berakhir seperti ini, jangan pernah berpikir untuk masuk hutan itu."

Sayang sekali, ketua desa juga lupa untuk jangan pernah berkata 'jangan'. Bukannya semakin takut, Lamtiur justru jadi makin bertekad untuk pergi ke Hutan Terlarang.

Sore hari, seperti biasa, Lamtiur memandang Hutan Terlarang dari teras rumahnya. "Tolong sampaikan pada Arwah Jahat hutan itu kalau besok aku akan menemui dia, meminta pertanggungjawaban atas apa yang dialami Patrik," ucap Lamtiur pada curut hutan yang saat itu berkunjung ke rumahnya. Curut hanya diam, sibuk dengan daging ikan piranha yang diberikan Lamtiur.

"Bagaimana? Kau bisa?"

"Baik, diam artinya setuju."

***

Setelah memastikan ibunya sudah jauh dari rumah menuju ke ladang, Lamtiur berangkat menuju Hutan Terlarang. Dia hanya membawa pisau dapur berukuran sedang. Dia berjalan hati-hati, memastikan tidak ada yang melihatnya, terutama Ketua Desa. Lamtiur semakin dekat dengan hutan terlarang saat ada serombongan petani yang melintas. Dia masuk parit dan bersembunyi. Aman.

Setalah dirasa aman, ia bangkit dari parit dan melanjutkan perjalanan. Tidak berselang lama, hanya beberapa langkah lagi dia akan memasuki Hutan Terlarang. Lamtiur sempat berhenti memandang deretan pohan yang rapat dan seperti tidak tertembus cahaya. Antara gairah akan bertualang dan ingatan terhadap ancaman ibu serta ketua desa berkecamuk di benaknya.

Sudah kepalang tanggung, beranjaklah Lamtiur ke Hutan Terlarang.

Kakinya memimpin masuk di antara deretan pohon lebat. Udara dingin menyeruak seketika saat dia memasuki hutan. Bulu kuduknya berdiri. Bukan karena Arwah Jahat sedang menyapanya, cahaya matahari memang seakan tidak menembus rimbunnya pohon. Lamtiur makin masuk dan menemukan banyak pohon yang sedang berbuah. Dia memetik dan memakan segala buah yang dia temukan. Tentunya tanpa meminta izin dari Arwah Jahat. Memang dia sengaja agar Arwah Jahat keluar menemuinya.

Ia masuk kian dalam ke Hutan Terlarang dan menemukan sungai yang sangat jernih. Tampak beragam ikan di dalamnya. Lamtiur memutuskan untuk buang air besar di sungai itu agar Arwah Jahat tersinggung. Tapi, tetap saja, Arwah Jahat belum keluar. Setelah cebok dan memakai celana, terdengar suara erangan. Tidak ada di atas pohon. Tidak ada pula di balik pohon. Erangan itu kadang jelas terdengar kadang hanya samar-samar. Semakin diperhatikan, dia semakin yakin bahwa erangan itu berasal dari dalam hutan. "Saatnya pembalasan," ucap Lamtiur di hati.

Setengah berlari dia menuju sumber suara. Makin lama, cahaya dari dalam hutan makin terlihat, dan semakin besar. Di perbatasan hutan terlihat cahaya yang semakin terang. Lamtiur semakin kencang berlari.

Brukkkk! Lamtiur menabrak sesuatu. Dia terjatuh. Pingsan.

***

Kepala Lamtiur pusing saat dia mulai membuka matanya. Tangan dan kakinya sakit. Terikat tali tambang. Dia tidak bisa menggerakkan badannya yang ternyata diikatkan ke pohon. Samar-samar dia mendengar, "Lihat! Rambo kita sudah mulai sadar."

Kesadaran Lamtiur sekejap utuh saat dia ditampar. Diikuti gelak tawa puas, berdiri di depan Lamtiur tiga orang berbadan tinggi besar. "Kau mau apa keliaran di sini? Tidak takut dengan Arwah Jahat?"

"Enak tadi mencium bokong Arwah Jahat? Saking enaknya sampai pingsan ya? Hahaha. Lihat itu bokong Arwah Jahat masih melintas. Mau nyium lagi?" ucap salah satu di antara mereka sambil menunjuk ke arah kanan Lamtiur.

Lamtiur menengok ke samping. Dilihatnya deretan truk yang disesaki muatan batang-batang pohon yang sudah disusun rapi. Di setiap truk terlihat gambar lingkaran merah berjumlah tiga, serupa dengan yang ada di baju tiga pria di hadapannya.

Pandangan Lamtiur yang terasa lapang lalu beralih ke kejauhan, tempat sejumlah orang tampak sedang menebang pohon-pohon dengan gergaji mesin. Di sekitarnya, nyaris tidak ada lagi pohon yang berdiri.

"Kalian siapa?"

"Kami siapa? Kau yang siapa?"

"Aku anak desa seberang hutan. Kalian siapa?"

"Kami pengikut roh jahat. Hahaha. Oh anak desa, kenal kau dengan Patrik, rindu aku dengan dia. Bagaimana kabarnya?"

"Patrik? Kalian tahu Patrik?"

"Tidak hanya kenal, kami ini sahabatnya. Hahaha. Kau ...." ucapan lelaki tinggi besar itu terhenti saat ponselnya berbunyi. "Bos mau datang, cepat selesaikan anak ini," ucap lelaki yang sepertinya pemimpin gerombolan itu.

Dua rekannya kemudian mendekati Lamtiur. Yang satu membawa besi cakar, yang satu membawa pisau yang dicuri dari lamtiur. Dengan satu pukulan, Lamtiur pingsan. Lagi.

***

Lamtiur bangun di atas ranjang, di suatu ruang yang tidak terasa asing baginya. Ini rumah Ketua Desa. Ia mencoba bangun, tapi kepalanya terasa berat.

"Sudah sadar kau pengacau?" Lamtiur kaget dan mencari asal suara. Ketua Desa ternyata sedang berdiri di belakangnya sambil melihat ke luar jendela. Lamtiur menyahut, tapi tidak bisa. Lidahnya sudah tak ada.

Dengan panik, ia memandang ke sekeliling kamar. Hanya ada Ketua Desa, dipan yang ia tempati, rak buku, meja dengan amplop dan gelas-gelas kotor. Sebentar... Amplop? Ia memicingkan mata. Bukan apa-apa, ia tak asing dengan cap di amplop itu. Lingkaran merah berjumlah tiga. (M-2)

Berita Terkini

Read More

Poling

Debat perdana Pilpres 2019 menjadi ajang untuk menunjukkan impresi para kandidat Pasangan Calon Capres-Cawapres nomor urut 01 Joko Widodo-Ma'ruf Amin dan nomor urut 02 Prabowo Subianto-Sandiaga Uno. Menurut Anda siapa yang unggul di debat perdana ini?





Berita Populer

Read More