Pengamat: Milenial Berperan Tentukan Kondisi Bangsa ke Depan

Penulis: Nurjiyanto Pada: Sabtu, 12 Jan 2019, 14:06 WIB Politik dan Hukum
Pengamat: Milenial Berperan Tentukan Kondisi Bangsa ke Depan

Ilustrasi

PENGAMAT Politik dari Akar Rumput Strategic Consulting Yohan Wahyu memandang perlu adanya penekanan dan penyadaran bahwa pemilihan umum (Pemilu) merupakan hal yang penting bagi kemaslahatan masyarakat. Narasi-narasi tersebut menurutnya perlu didorong oleh penyelenggara pemilu dan peserta pemilu untuk dapat meningkatkan partisipasi pemilih, khususnya kelompok milenial (usia 17-30).

Dirinya menuturkan, Pemilu sebagai salah satu proses pendelegasian wewenang yang dirasa penting untuk diperhatikan. Pasalnya, buah dari proses tersebut akan berdampak kepada arah kebijakan yang juga berpengaruh kepada arah tujuan bangsa ke depan.

Kebijakan-kebijakan yang nantinya dibuat tersebut secara sistemik juga akan berdampak pada kepentingan-kepentingan kelompok milenial secara umum, mulai dari kesejahteraan hingga hal-hal dasar lainnya. Sehingga adanya keikutsertaan para kelompok milenial akan pula menentukan kondisi bangsa ke depan.

Baca juga: Di Istana, Agnez Mo Sampaikan Gagasannya soal Generasi Muda

"Yang perlu dilakukan adalah sosialisasi untuk meyakinkan mereka (kelompok milenial) bahwa Pemilu itu penting dan juga berdampak kepada mereka," ungkapnya dalam sebuah diskusi yang berlangsung di kawasan Kebayoran Baru, Jakarta, Sabtu (12/1).

Selain itu, gerakan anak muda yang saat ini akrab disebut kelompok milenial untuk terjun dan peka terhadap politik secara histori sudah nampak sejak zaman sebelum kemerdekaan. Dirinya mencontohkan Presiden Pertama RI, yakni Soekarno yang terjun ke politik sejak usia muda.

Belum lagi adanya pergerakan kepemudaan lain yang pada saat itu ikut pula terjun dalam perpolitikan prakemerdekaan. Hal tersebut menurutnya merupakan sebuah cerminan bahwa kelompok muda memiliki andil besar dalam politik bahkan sejak sebelum kemerdekaan.

Apalagi dengan adanya kecenderungan karakter kelompok muda yang hidup berkelompok membuat suara kaum milenial amat berpengaruh. Untuk itu, dirinya beranggapan suara kelompok milenial yang disalurkan pada saat pemungutan suara nanti amat lah penting.

"Penting karena secara kuantitas mereka banyak, secara histori anak muda sudah masuk dalam politik. Sekarang, kekuatan saat ini mereka itu saling terhubung satu sama lain," ungkapnya.

Yohan juga menuturkan adanya narasi-narasi dari peserta pemilu yang sederhana dapat menjadi daya tarik bagi kelompok ini. Pasalnya, karakter para pemilih milenial cenderung tidak menyukai hal-hal yang terlalu abstrak. Apalagi, masih banyaknya gaya-gaya peserta Pemilu yang kaku membuat citra orde baru melekat pada mereka yang sebenarnya tidak disukai para milenial.

Dirinya pun menyarankan agar para peserta pemilu jika ingin meraup kelompk ini lebih mendorong gaya interaktif yang dalam penerapannya banyak mengikutsertakan kelompok muda baik dalam berkampanye maupun perencanaan program.

"Harus interaktif, maksudnya melibatkan mereka dalam proses perencanaan dan kampanye," ungkapnya.

Baca juga: Agnez Mo Ajak Kawula Muda Kritis Saring Hoaks

Dari data yang dikeluarkan oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU), pada pemilu 2019 mendatang ada sebanyak 17.501.278 orang pemilih dengan usia 17-20 tahun yang masuk dalam Daftar Pemilih Tetap (DPT) Pemilu 2019. Kemudian rentang usia 21-30 ada sebanyak 42.843.792 orang.

Jika ditotalkan kelompok usia milenial yakni usia 17-30 tahun berjumlah 60.345.070 atau lebih dari 30% dari total DPT yang berjumlah 192.828.520. (OL-6)

Berita Terkini

Read More

Poling

Minggu (17/3) digelar debat ketiga Pilpres 2019. Debat kali ini diikuti oleh Calon Wakil Presiden Ma'ruf Amin dan Sandiaga Salahudin Uno. Debat ini akan mengangkat tema pendidikan, kesehatan, ketenagakerjaan, sosial, dan budaya. Menurut Anda siapa yang akan unggul dalam debat kali ini?





Berita Populer

Read More