Dampak Shutdown Minim

Penulis: Denny Parsaulian Sinaga Pada: Sabtu, 12 Jan 2019, 07:50 WIB Internasional
Dampak Shutdown Minim

NICHOLAS KAMM / AFP

RODA pemerintahan Amerika Serikat (AS) terhenti sebagian akibat berlarut-larutnya perseteruan antara Presiden Donald Trump dan kubu oposisi, Partai Demokrat. Sengketa tersebut dipicu permintaan dana sebesar US$5,7 miliar oleh Trump untuk membiayai proyek pembangunan dinding perbatasan AS-Meksiko.

Akibat pertikaian itu, sebagian kantor federal ditutup (shutdown) sejak 21 Desember 2018 dan diprediksi  bakal menjadi penutupan layanan pemerintah terpanjang dalam sejarah negara adidaya itu.

Saat ini, beberapa operasional layanan pemerintah yang dihentikan antara lain layanan inspeksi makanan, pendaftaran perusahaan baru, dan persetujuan hipotek. Sayangnya, bagi mereka yang marah karena kebuntuan itu jawabannya mungkin tidak memuaskan.

Pasalnya, hingga kini shutdown tidak berdampak besar terhadap perekonomian AS. Para ekonom memperkirakan shutdown mungkin hanya akan mencukur 0,04% hingga 0,07% produk domestik bruto (PDB).

Atau, jika dikalkulasikan terhadap pertumbuhan ekonomi per minggu, nilai yang hilang sekitar US$1 miliar per minggu. Angka itu jauh lebih kecil ketimbang perkiraan kerugian lebih dari US$20 miliar yang terjadi akibat shutdown selama 16 hari pada 2013 silam.

“Selama penutupan ini relatif singkat, dampaknya cukup sederhana,” kata Joel Prakken, kepala ekonom AS untuk ekonomi makro. Siapa yang paling menderita akibat shutdown?

Seperti diketahui, pertikaian Trump melawan Demokrat telah menutup sebagian besar departemen utama, termasuk Departemen Luar Negeri, Departemen Keuangan, dan Departemen Keamanan Dalam Negeri.

Di departemen-departemen itu, dampak shutdown paling terasa. Hal itu berarti, sekitar 800 ribu pegawai federal tidak akan menerima gaji minggu ini. Selain mereka, banyak juga kontraktor yang terimbas.

Salah satunya ialah Lila Johnson, 71. Anggota serikat pekerja SEIU 32BJ yang mewakili sekitar 2.000 subkontraktor dan penjaga keamanan di agen-agen federal itu merupakan salah seorang pegawai yang terkena imbas shutdown. Sehari-hari, dia bekerja paruh waktu sebagai penjaga di Departemen Pertanian dengan imbalan US$22,1 per jam.

Protes Trump

Sementara itu, ratusan pekerja federal yang dicutikan, pada Kamis (10/1), turun ke jalan dan meneriakkan, “Kami ingin bekerja.” Mereka  berunjuk rasa setelah sebuah serikat kerja melakukan penggalangan dan mengajak berbondong-bondong ke Gedung Putih.

Unjuk rasa tersebut digelar bertepatan pada hari ke-20 penutupan sebagian layanan pemerintah. “Hei, hei, ho, ho, penutupan berakhir,” teriak para pengunjuk rasa saat mereka berkumpul di tengah cuaca dingin di markas serikat kerja AFL-CIO.

Para demonstran membawa poster yang bertuliskan ‘Trump: Akhiri Penutupan’, ‘Buka Kembali Layanan Pemerintah’, dan ‘Biarkan Aku Bekerja’.  Saat beraksi, pengunjuk rasa banyak yang mengenakan rompi hijau terang dengan tulisan, ‘Aku Pekerja. Aku Menuntut Suara’.

Tidak hanya itu, para pegawai dan pekerja kontrak federal tersebut juga meneriakkan dengan lantang, “Kami mau gaji kami! Kami mau gaji kami! Kami mau gaji kami!”  

Terpisah, Trump pada Kamis melakukan perjalanan mengunjungi perbatasan AS-Meksiko. Di sana dia melontarkan peringatan keras kepada para pembunuh dan gangster yang ditudingnya telah menyebar di seluruh negeri.

“Jika kita memiliki penghalang apa pun itu, penghalang yang kuat, apakah itu baja atau beton, kita akan langsung menghentikan mereka,” cetus Trump. (AFP/Ant/I-2)

Berita Terkini

Read More

Poling

Minggu (17/3) digelar debat ketiga Pilpres 2019. Debat kali ini diikuti oleh Calon Wakil Presiden Ma'ruf Amin dan Sandiaga Salahudin Uno. Debat ini akan mengangkat tema pendidikan, kesehatan, ketenagakerjaan, sosial, dan budaya. Menurut Anda siapa yang akan unggul dalam debat kali ini?





Berita Populer

Read More