Pemerintah Upayakan Serapan Karet untuk Infrastruktur Lebih Maksimal

Penulis: Andhika Prasetyo Pada: Jumat, 11 Jan 2019, 10:23 WIB Ekonomi
Pemerintah Upayakan Serapan Karet untuk Infrastruktur Lebih Maksimal

ANTARA FOTO/Nova Wahyudi

KEMENTERIAN Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PU-Pera) akan melanjutkan program penggunaan karet sebagai campuran aspal.

Pada 2019, rencana pengadaan aspal karet yang sudah ditetapkan melalui Surat Dirjen Bina Marga Kementerian PU-Pera adalah sebanyak 2.542 ton dengan nilai sekitar Rp3,15 miliar.

Pengadaan dilakukan secara bertahap untuk menghindari penyimpanan dalam waktu lama yang dapat menyebabkan karet alam rusak.

Adapun, untuk skema pembeliannya dilakukan oleh pabrik atau koperasi yang memproduksi brown crepe langsung dari para petani karet.

Kemudian, Kementerian PU-Pera akan menyerap hasil karet yang telah diolah menjadi brown crepe tersebut.

Baca juga: Kawasan Industri Kendal bakal Serap 5.000 Pekerja

"Saat kami serap, pabrik wajib mencantumkan Surat Keterangan dan kuitansi pembelian karet dari petani atau KUD. Itu untuk memastikan bahwa brown crepe yang dihasilkan benar-benar berasal dari sumber lokal," ujar Kepala Biro Komunikasi Publik Kementerian PU-Pera Endra Atmawidjaja di Jakarta, Jumat (11/1).

Aspal dengan campuran karet alam dinilai memiliki keunggulan dibandingkan aspal biasa. Kombinasi itu, jelas Endra, membuat tingkat perkerasan lebih baik.

"Aspal juga tidak gampang menangkap bekas jejak roda walaupun sedang basah. Daya tahan aspal karet pun lebih tinggi dibanding aspal biasa," paparnya.

Pada 2017-2018, Kementerian PU-Pera juga telah menggunakan aspal karet pada sebagian proyek preservasi Jalan Muara Beliti-Tebing Tinggi-Lahat sepanjang 125 km.

Dari total panjang tersebut, terdapat 4,37 km yang menggunakan aspal karet dengan ketebalan 4 cm. Porsi bahan karet atau brown crepe yang digunakan adalah sekitar 7% atau 81 ton karet alam per km.

Upaya pencampuran karet pada aspal dilakukan untuk meningkatkan serapan komoditas pertanian itu di dalam negeri.

Seperti diketahui, Indonesia merupakan salah satu produsen karet alam terbesar di dunia. Setiap tahun produksi karet alam lokal mencapai 3,7 juta ton. Namun, selama ini, sebagian besar dari hasil itu ditujukan untuk keperluan ekspor. Hanya sekitar 600 ribu ton yang mampu diserap untuk kebutuhan lokal.

Hal itu tentu sangat menyulitkan ketika harga karet di pasar internasional jatuh seperti saat ini.

Maka dari itu, pemerintah mencoba mengupayakan produksi karet alam untuk bisa diserap lebih maksimal untuk keperluan nasional terutama dalam hal pembangunan infrastruktur.

Ketua Umum Gabungan Pengusaha Karet Indonesia (Gapkindo) Moenardji Soedargo mengatakan jatuhnya harga karet disebabkan beberapa faktor. Salah satunya ialah perekonomian global yang tengah mengalami perlambatan.

Selain itu, saat ini, tercipta persepsi yang menggambarkan seolah-olah sedang terjadi kelebihan pasokan karet di dunia. Hal itu mengakibatkan banyak spekulasi dan membuat harga menjadi tertekan. (OL-2)

Berita Terkini

Read More

Poling

POLISI tidak langsung menangkap creator dan buzzer berita bohong atau hoaks mengenai 7 kontainer surat suara tercoblos di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara. Alasannya, aparat masih melakukan pendalaman dari sisi aspek alat bukti untuk penyelidikan kasus tersebut dan masih menunggu hasil laboratorium forensik terkait identifikasi suara. Setujukah Anda dengan sikap Polri tersebut?





Berita Populer

Read More