Bisnis Tanaman tidak Pernah Mati

Penulis: Haufan Hasyim Salengke Pada: Jumat, 11 Jan 2019, 05:50 WIB Weekend
Bisnis Tanaman tidak Pernah Mati

MI/Galih Pradipta

AJANG pameran flora dan fauna menyapa masyarakat di pusat berbelanjaan Depok Town Square (Detos), Depok, Jawa Barat. Acara ini juga dirangkaikan dengan pesta durian.

Pameran itu berlangsung selama satu bulan penuh, dari 1 hingga 31 Januari 2019. Berbagai macam tumbuhan, mulai tanaman hias, hidroponik, dan buah dipamerkan. Ada pula komunitas seperti kalangan pencinta burung kicau dan reptil.

Pantauan Media Indonesia, kemarin, sekitar belasan stan pedagang tanaman dan binatang di acara itu. Suswanto, 28, salah satu peserta pameran, datang jauh-jauh dari Solo. Ia menjual aneka jenis tanaman, dari bunga wijaya kusuma, anturium, hingga bidara atau widara.
Soal harga bergantung pada jenis dan ukuran. Suswanto membanderol bungan wijaya kusuma Rp500 ribu dan di atas Rp1 juta kalau sudah berbunga. Bidara ia jual sekitar Rp150 ribu untuk yang termurah.

"Yang paling banyak dicari konsumen bidara. Lagi musimnya," ujar Suswanto. Tumbuhan ini banyak dicari untuk digunakan sebagai media mengusir jin, kegiatan rukiah, atau menangkal sihir, selain sejumlah manfaat kesehatan.

Meski tidak sebesar ajang serupa di Lapangan Banteng, Jakarta Pusat, Suswanto mengaku pameran di Detos dapat dibilang lumayan secara ekonomi. Ia bisa menerima sekitar 7-8 konsumen saban hari. Untuk tempat, ia menyewa Rp2,5 juta sebulan.

Pedagang lain, Rifki, 23, memamerkan tanaman anggrek, aglaonema, pohon kurma, buah tin, bidara arab, hingga anggur. Harga berkisar dari Rp45 ribu sampai ratusan ribu.

Pria yang mengaku hobi dengan tumbuhan sejak bangku sekolah dasar itu memastikan bahwa dunia flora tidak pernah mati. Pameran selalu ada setiap bulan.

Selain berpameran langsung, Rifki juga memaksimalkan promosinya via daring. Perkembangan teknologi informasi dan media sosial mendongkrak penjualan. Alhasil, ia kerap mengirim tanaman kepada konsumen di Palembang, Kalimantan, Gorontalo, Bali, dan Medan. "Karena dunia online, naik lagi pasar flora," tandasnya.

Penghijauan
Dagangan yang berbeda dipajang Suanda, 40. Pedagang tanaman asal Bogor ini menjual mangga thailand, jeruk manis, jeruk dekopon, lengkeng merah, pohon kurma, dan lengkeng matalada. "Yang paling diminati mangga, satu pohon saya jual Rp850 ribu," ujarnya.
Bagi Suanda, kagiatan pameran tidak sekadar berjualan atau meraup untung, tetapi juga edukasi kepada masyarakat. Ia berharap kesadaran masyarakat untuk isu-isu lingkungan semakin meningkat.

Pameran flora dan fauna seperti ini penting, imbuhnya, supaya semakin banyak masyarakat yang terdorong untuk menanam tumbuhan atau pepohonan. Daerah resapan juga menjadi terjaga.

"Tanaman lokal kita kalau enggak dilestarikan akan punah. Pengetahuan anak sekolah tentang tanaman masih rendah. Banyak yang enggak tahu nama atau jenis tanaman," pungkasnya.

Pendapat Suanda diamini salah seorang pengunjung pameran, Edi Ebner, 62. Ia hobi memelihara tanaman karena secara langsung diajak untuk berbuat kreatif.

Menurutnya, menjaga lingkungan melalui penghijauan dapat dimulai dari lingkungan rumah sendiri. Setidaknya, ia mengalokasikan Rp500 ribu-Rp600 ribu per bulan untuk keperluan hobinya tersebut.

Edi berharap pemerintah menyediakan banyak tempat khusus untuk pedagang tanaman. Misalnya, dengan memanfaatkan pinggir jalan yang gersang, rest area tol, atau area di pusat perbelanjaan.

"Ketimbang pemerintah yang menanam sendiri, mending kasih ke pedagang. Mereka pasti merawat karena enggak mungkin mau rugi," usulnya.

Ia mengaku mulai tertarik dengan dunia flora sejak sang istri mengalami sakit paru-paru. Ia tinggal di daerah yang kumuh di Menteng Dalam, Tebet, Jakarta Selatan.

Lantas, Edi melakukan penghijauan di lingkungan rumah. Dari semula membeli satu tanaman, akhirnya ia kecanduan dan menanam menjadi hobinya hingga kini. (S-4)

 

Berita Terkini

Read More

Poling

Minggu (17/3) digelar debat ketiga Pilpres 2019. Debat kali ini diikuti oleh Calon Wakil Presiden Ma'ruf Amin dan Sandiaga Salahudin Uno. Debat ini akan mengangkat tema pendidikan, kesehatan, ketenagakerjaan, sosial, dan budaya. Menurut Anda siapa yang akan unggul dalam debat kali ini?





Berita Populer

Read More