Target Rp80 Triliun dari SBN Ritel

Penulis: Nur Aivanni Pada: Jumat, 11 Jan 2019, 02:30 WIB Ekonomi
Target Rp80 Triliun dari SBN Ritel

Ilustrasi

PEMERINTAH berencana menerbitkan surat berharga negara (SBN) ritel sebanyak 10 kali selama 2019 baik dalam bentuk konvensional maupun syariah.

“Sudah ada daftar rencana penerbitan kita pada 2019, ada 10 kali penerbitan,” kata Direktur Surat Utang Negara Ditjen Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kementerian Keuangan Loto S Ginting seusai peluncuran SBR005 di Giyanti Coffee, Jakarta,  Kamis (10/1).

Jika diperinci, dari 10 instrumen ritel tersebut, 8 instrumen ritel tidak dapat diperdagangkan dan 2 instrumen dapat diperdagangkan.

Target pemerintah dalam penerbitan SBN ritel tahun ini ialah 9%-10% dari total penerbitan SBN ritel 2019 atau Rp80 triliun.

Kemarin, Kementerian Keuangan telah membuka masa penawaran savings bond ritel (SBR) seri SBR005 kepada investor individu secara online atau e-SBN. Masa penawaran tersebut akan berlangsung hingga dua pekan ke depan atau berakhir di 24 Januari 2019.

Pada penerbitan SBR005 ini, kupon yang ditawarkan sebesar 8,15% per tahun dengan tenor 2 tahun. Investor dapat memesan instrumen itu minimum Rp1 juta dan maksimum Rp3 miliar. Kuota maksimal SBR005 sebesar Rp5 triliun dengan target indikatif Rp2 triliun.

Jenis kupon ini bersifat floating with floor, yakni mengikuti perkembangan suku bunga BI-7 days reverse repo rate dengan kupon minimal. Penawaran SBR005 tersebut dilakukan sebagai bentuk partisipasi masyarakat dalam pembangunan nasional, khususnya dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia, terutama untuk pendidikan.

Loto mengatakan penerbitan SR005 diharapkan mampu memancing gairah generasi milenial yang identik dengan hal-hal baru seperti membeli instrumen SUN ritel.

“Kita berharap generasi milenial makin mendapat pemahaman bagaimana berinvestasi maupun mengenal lebih baik dari aspek berinvestasi,” ujarnya.

Perhatikan likuiditas bank
Penerbitan SBN ritel hingga 10 kali merupakan sebuah lonjakan tersendiri bagi pemerintah. Apalagi berdasarkan data, SBN ritel baru terbit hingga empat kali sejak pertama kali diluncurkan 4 tahun lalu.

Sejumlah pengamat memper-ingatkan potensi pengetatan likuiditas perbankan dengan rencana penerbitan SBN ritel sebanyak itu.

Direktur Riset Center of Reform on Economics (CORE) Piter Abdullah mengatakan dana masyarakat nantinya banyak terserap dalam penerbitan SBN tersebut. Apalagi, yield SBN ritel di atas suku bunga deposito yang dijamin oleh LPS. Dengan begitu, ada potensi perebutan dana masyarakat (crowding out).

Untuk mengantisipasi terjadinya pengetatan likuiditas perbankan, Piter berpendapat otoritas moneter dan perbankan harus diikuti dengan kebijakan yang tepat.

Secara terpisah, peneliti Institute for Development Economy and Finance (Indef) Bhima Yudhistira Adhinegara menilai bahwa jadwal penerbitan SBN harus disesuaikan dengan kondisi likuiditas perbankan.

“Jadi, koordinasi antara Kementerian Keuangan dan OJK serta pelaku perbankam amat penting,” tegas Bhima. (E-1)

Berita Terkini

Read More

Poling

POLISI tidak langsung menangkap creator dan buzzer berita bohong atau hoaks mengenai 7 kontainer surat suara tercoblos di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara. Alasannya, aparat masih melakukan pendalaman dari sisi aspek alat bukti untuk penyelidikan kasus tersebut dan masih menunggu hasil laboratorium forensik terkait identifikasi suara. Setujukah Anda dengan sikap Polri tersebut?





Berita Populer

Read More