Pergub Plastik

Penulis: Mathias S Brahmana Wartawan Media Indonesia Pada: Senin, 07 Jan 2019, 06:00 WIB Opini
Pergub Plastik

OK.MI

HARIMAU mati meninggalkan belang, gajah mati meninggalkan gading, manusia mati meninggalkan nama, paus mati meninggalkan plastik. Paus mati meninggalkan sampah plastik terjadi akhir tahun lalu di perairan Wakatobi, Sulawesi Tenggara.

Dalam perut paus sepanjang 9,6 meter yang terdampar ditemukan menggulung sampah plastik dengan jumlah mencengangkan yang beratnya hampir mencapai 6 kg. Aktivis Yayasan Lestari Alam Wakatobi, Saleh Hanan, memperkirakan penyebab kematian paus karena sampah plastik.

Perkiraan tersebut masuk akal sebab sifat molekul plastik tidak bisa diolah oleh pencernaan. Berbeda dengan tulang ikan, meskipun keras namun tetap bisa dicerna dan diurai.Sampah yang ditemukan di dalam perut paus jenis sperma itu berupa plastik keras (19 pcs, 140 gram), botol plastik (4 pcs, 150 gram), kantong plastik (25 pcs, 260 gram), sandal jepit (2 pcs, 270 gram), tali rafia yang sudah berbentuk jaring (3,26 kg), serta gelas plastik (115 pcs, 750 gram).

Sampah-sampah plastik tadi sudah beracun yang kemudian merusak pencernaan dan membunuh paus dengan berat sekitar 11 ton tersebut. Sebelum paus terdampar, pegiat lingkungan dari Komunitas Melihat Alam Wakatobi telah menggelar aksi bersih sampah pada Maret 2018 dan berhasil mengumpulkan 1,7 ton sampah plastik di wilayah pesisir dan pantai sekitar Wakatobi.

Mengerikan! Itulah yang terjadi di lingkungan kita. Bila disederhanakan dalam bentuk kantongan, sampah plastik dalam perut ikan paus itu cukup buat membungkus seluruh dagingnya setelah dipotong-potong. Selembar plastik ukuran 40 cm x 60 cm biasa dipakai untuk kemasan daging seberat 10 kg.

Satu pack berisi 50 lembar plastik dengan berat total 250 gram. Untuk 6 kg sampah plastik dalam perut paus dikalkulasikan menjadi 24 <i>pack<p>k atau sebanyak 1.200 lembar kantong plastik. Jika setiap lembar kantong plastik dapat mengemas 10 kg daging, total yang bisa dibungkus 12.000 kg atau 12 ton.

Paus yang terdampar hanya seberat 11 ton, yang berarti masih tersisa kantong plastik buat mengemas 1 ton daging lagi. Paus bukan satu-satunya kelompok hewan yang mati karena sampah. Lumba-lumba juga bernasib serupa. Menurut ahli,  sebanyak 14 potong plastik kecil sudah dapat membunuh penyu laut.

Burung-burung laut dan polip karang pun sering ditemukan mati karena memakan potongan plastik. Sadar atau tidak, masyarakat Indonesia yang gemar makan ikan patut diduga telah mengonsumsi plastik. Sofi H Amirulloh dan kawan-kawan pernah meneliti  cemaran mikroplastik pada ikan. Mereka mengambil 179 sampel dari 90 spesies, 70 genera, dan 44 famili dari pasar wilayah Provinsi Banten.

Hasilnya, lebih 80% ikan laut konsumsi yang ditangkap dari Teluk Banten mengandung partikel mikroplastik. Perbuatan manusia akan memangsa manusia itu sendiri. Warga Jakarta terbiasa  membuang sampah plastik ke sungai yang bermuara ke laut. Ikan ‘salah makan’ plastik. Manusia dengan lahap mengonsumsi ikan-ikan itu dalam bentuk bakar, goreng, atau gulai.  

Plastik sekali pakai
Ancaman bagi kesehatan inilah yang mendorong masyarakat meminta Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan segera menandatangani peraturan larangan penggunaan plastik sekali pakai. Sebagai salah satu kota terpadat di dunia, Jakarta yang dihuni sekitar 11 juta orang, memiliki problematika sampah sebagai dampak besarnya populasi.

Gubernur Djarot Saiful Hidayat yang memimpin Ibu Kota sebelum Anies telah menyatakan Jakarta darurat sampah plastik. Program transportasi air Gubernur Sutiyoso yang sudah diresmikan pada 2007 akhirnya gagal total karena sampah plastik kerap melilit baling-baling kapal. Betapa tidak! Jakarta memproduksi sampah sekitar 7 ribu ton per hari.

Seberat 1,9 ton-2,4 ton merupakan sampah plastik. Lalu ratusan ton lagi berserakan di perairan, baik sungai maupun lautan. Melindungi masyarakat dari sampah sudah diamanatkan Undang-Undang.  Merujuk Pasal 15 Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah, disampaikan produsen harus bertanggung jawab atas sampah kemasannya.

Artinya, produsen harus mau mengubah model bisnisnya untuk mengurangi dan menghentikan penggunaan kemasan plastik sekali pakai. Bila diabaikan, pemerintah harus menindak tegas produsen sesuai instruksi Undang-Undang No 18 tentang Kebijakan Pemerintah.

Riuhnya larangan plastik sekali pakai semakin terasa dalam aktifitas masyarakat. Restoran cepat saji sudah menghilangkan sedotan meski masih menggunakan kemasan plastik untuk tempat sambal. Sebagian gerai waralaba juga mulai menanyakan apakah membawa keranjang atau pakai kantong plastik.   

Secara sadar warga sudah menyadari bahwa sampah plastik merupakan ancaman. Wajarlah bila ada yang berharap Pergub Plastik menjadi hadiah tahun baru dari Gubernur DKI buat warga Ibu Kota Negara. Sayangnya harapan itu masih angan-angan meski tahun 2019 sudah terjalani selama seminggu.

Berita Terkini

Read More

Poling

Minggu (17/3) digelar debat ketiga Pilpres 2019. Debat kali ini diikuti oleh Calon Wakil Presiden Ma'ruf Amin dan Sandiaga Salahudin Uno. Debat ini akan mengangkat tema pendidikan, kesehatan, ketenagakerjaan, sosial, dan budaya. Menurut Anda siapa yang akan unggul dalam debat kali ini?





Berita Populer

Read More