Kebelet Berkuasa

Penulis: Ono Sarwono Pada: Minggu, 06 Jan 2019, 00:00 WIB Opini
Kebelet Berkuasa

DURYUDANA gelisah. Ia sudah tidak sabar lagi untuk segera menduduki singgasana raja Astina. Jabatannya sebagai prabu anom yang diberikan bapaknya, raja ad-interim Drestarastra, dianggap menggantung masa depannya. Bahkan, ia merasani ayahnya tidak tegas.

Sengkuni, sang paman, yang berada di sampingnya, berusaha menenangkan sekaligus meyakinkan keponakannya itu. Jabatan resmi sebagai raja Astina pasti didapat. Sengkuni juga menyarankan sulung Kurawa itu sedikit bersabar dulu dan mempersiapkan diri.   

Itulah prolog lakon Puntadewa Dadi Ratu di Tugu Proklamasi, Jakarta (21/12/2018) yang dibawakan Ki Manteb Soedharsono. Dalang wayang kulit asal Karanganyar, Jawa Tengah, ini seperti menyindir situasi politik saat ini yang semakin memanas menjelang Pilpres mendatang.


Sengkuni mengakali

Sebenarnya, Duryudana menjadi haus kekuasaan awalnya juga karena Sengkuni. Semula, Duryudana dan ke-99 adiknya tidak paham dan peduli tentang kekuasaan. Namun, karena setiap hari sejak usia dini dicecoki Sengkuni tentang nikmatnya kekuasaan, dewasanya mereka seperti kalap.

Sengkuni ialah adik Dewi Gendari, ibunda Kurawa. Putra Raja Negara Plasajenar Prabu Gendara itu mulai mengabdi di Astina sejak zaman Prabu Pandu Dewanata. Ia meraih jabatan sebagai patih menggantikan Gandamana yang ia gulingkan lewat politik berlumur kelicikan.

Drestarastra menjadi raja Astina sementara waktu untuk mengisi kekosongan setelah Pandu gugur dalam Perang Pamuksa. Sesuai dengan pesan Pandu, yang ialah adiknya sendiri, singgasana raja akan diberikan kepada Pandawa (putra Pandu) jika mereka menginjak dewasa.

Sikon itulah yang dimanfaatkan Sengkuni. Setelah gagal menghabisi Pandawa (Puntadewa, Werkudara, Arjuna, Nakula, dan Sadewa) dalam lakon Pendadaran Siswa Sokalima, Sengkuni dengan dibantu para cecunguknya, merancang pembunuhan keji dan mengeksekusinya. Ia membakar hidup-hidup Pandawa dalam lakon Bale Sigala-gala.

Upaya genosida Pandawa dilakukan menjelang Drestarastra akan mengembalikan kekuasaan kepada keponakannya itu. Namun, meski pembasmian Pandawa itu gagal, ia berani melaporkan (menipu) kepada Drestarastra bahwa Puntadewa dan keempat adiknya telah tewas gosong.

Drestarastra, yang cacat netra (buta) sejak lahir, memercayai laporan Sengkuni. Ia tampak sangat terpukul atas peristiwa itu. Pada saat kakak iparnya galau itulah, Sengkuni terus-menerus memengaruhinya agar kekuasaan diberikan kepada putra kandung, Duryudana (Kurawa).

Selain Sengkuni, Gendari juga tidak bosan-bosan merayu suaminya agar menyerahkan kekuasaan kepada kulit dagingnya sendiri. Menurutnya, Kurawa tidak beda dengan Pandawa, sama-sama trah Abiyasa.

Cukup lama Drestarastra memikirkannya. Akibat tiada jeda dirajuki istri dan adik iparnya, pada akhirnya terpengaruh. Ia lalu mengangkat Duryudana sebagai prabu anom (raja muda). Menurut paugeran negara, prabu anom ialah calon raja dan belum berhak duduk di singgasana raja sehingga tidak memiliki kekuasaan sah.

Drestarastra memang ragu-ragu untuk langsung menetapkan putranya menjadi raja resmi di Astina. Nuraninya terus terusik. Ia merasa ada sesuatu yang tidak beres di sekelilingnya.


Membabati Wanamarta

Apa yang dikhawatirkan Drestarastra benar adanya. Werkudara alias Bratasena tiba-tiba datang menghadapnya. Ia mengabarkan bahwa Pandawa dan ibunda, Kunti Talibrata, dalam keadaaan sehat walafiat. Selain itu, kedatangannya ingin menanyakan apa pesan bapaknya sebelum wafat.

Drestarastra mengaku gembira ternyata Pandawa selamat karena sebelumnya dikabarkan telah mati terbakar. Soal wasiat Pandu, ia ungkapkan bahwa intinya kekuasaan Astina mesti diberikan kepada Pandawa bila mereka semua telah dewasa.
Drestarastra mengaku dengan kehadiran Werkudara, dirinya menghadapi masalah dilematik. Satu sisi, ia harus menjalankan pesan Pandu, di sisi lain dirinya sudah telanjur ‘melabeli’ Duryudana sebagai calon raja. Ia tidak mau disebut mencla-mencle atas sabda yang telah terucap. Sabda pendita ratu tak kena wola-wali.  

Oleh karena itu, sebagai gantinya, Drestarasra memberikan tanah yang masih berupa hutan, yakni Wanamarta, kepada Pandawa. Ia meminta Pandawa membabati belantara itu sebagai tempat mendirikan negara baru. Ini solusi agar Pandawa tidak meminta kekuasaan Astina.

Werkudara memahami semua yang diucapkan uaknya. Ia pun menyatakan sanggup membabati hutan bersama saudara-saudaranya untuk mendirikan negara baru. Bahkan, ia menolak bantuan apa pun yang ditawarkan Drestarastra. Pandawa bertekad membangun negara secara mandiri.

Jawaban Werkudara melegakan Drestarastra. Ketika Pandawa mulai membabati hutan, ia menobatkan Duryudana sebagai raja resmi Astina bergelar Prabu Duryudana. Bagaimana pun Duryudana (Kurawa) ialah anak kandungnya sendiri. Ia pun tidak ingin anak-anaknya telantar.

Wanamarta sesungguhnya wilayah yang masih masuk teritorial Negara Wiratha. Hutan ini dikenal gung liwang-liwung, yang sangat angker. Ibaratnya, jalma mara jalma mati, siapa pun yang berani memasuki hutan itu dipastikan akan lenyap.  

Namun, Werkudara yang dibantu saudara-saudaranya, tiada takut sedikit pun. Memang tidak mudah. Selain lebatnya pohon, ia dihadang prajurit siluman penghuni hutan. Namun, berkat kerja keras dan ketekunan serta bantuan Bathara Indra, Pandawa berhasil melewati semua kendala.  

Tidak ada yang mengetahui, sejatinya di hutan itu berdiri kerajaan yang tidak bisa dilihat dengan mata telanjang. Negara yang didirikan Bathara Indra bernama Indraprastha itu dipimpin Yudistira. Ia memiliki empat adik, yaitu Danduwacana, Dananjaya, Ditya Sapujagad, dan Ditya Sapulebu.


Ibarat seumur jagung

Singkat cerita, Indraprasta berubah menjadi wujud dalam dunia nyata yang sangat indah dan megah. Puntadewa dan keempat adiknya lalu ‘menyatu’ dalam jiwa Pandawa sebagai simbol dukungannya. Puntadewa kemudian menjadi raja Indraprasta bergelar Prabu Yudistira.

Harapan Drestarastra menjadi kenyataan. Pandawa memiliki negara sendiri yang juga diberi nama Amarta. Drestarastra merasa trah Abiyasa, Pandawa dan Kurawa, bisa hidup rukun berdampingan.

Namun, ternyata langkah win-win solution Drestarastra itu tidak membuat Kurawa berpuas. Kurawa tetap menjadikan Pandawa sebagai ancaman sekaligus satru abadi yang harus dihabisi. Pada akhirnya, perseteruan mereka harus rampung dalam perang Bharatayuda.

Duryudana yang kebelet berkuasa memang bisa berkuasa penuh atas Negara Astina. Namun, kekuasaannya ibarat seumur jagung. Bahkan, bukan hanya kehilangan kekuasaan, nyawanya pun hilang bersama semua saudara serta para sekutunya di Kurusetra. (M-2)

Berita Terkini

Read More

Poling

Minggu (17/3) digelar debat ketiga Pilpres 2019. Debat kali ini diikuti oleh Calon Wakil Presiden Ma'ruf Amin dan Sandiaga Salahudin Uno. Debat ini akan mengangkat tema pendidikan, kesehatan, ketenagakerjaan, sosial, dan budaya. Menurut Anda siapa yang akan unggul dalam debat kali ini?





Berita Populer

Read More