Korea Utara Kutuk Pemberlakuan Sanksi Dari AS

Penulis: Tesa Oktiana Surbakti Pada: Senin, 17 Des 2018, 16:27 WIB Internasional
Korea Utara Kutuk Pemberlakuan Sanksi Dari AS

NICHOLAS KAMM and SAUL LOEB / AFP

KOREA Utara mengutuk Amerika Serikat (AS) atas pemberlakuan sejumlah sanksi terbaru. Sekaligus, mengingatkan sikap AS berpotensi menghambat jalan menuju denuklirisasi di Semenanjung Korea.

Setelah pemulihan hubungan diplomatik yang ditandai Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) AS-Korea Utara di Singapura, proses negosiasi persenjataan nuklir Pyongyang mengalami stagnasi. Dalam KTT yang mempertemukan Presiden AS Donald Trump dan Pemimpin Korea Utara Kim Jong-un, sepakat menandatangani pernyataan samar mengenai nuklirisasi. Namun sejak itu, kedua belah pihak malah tidak sependapat.

Baca juga: Kabut Tebal Kacaukan Jadwal Penerbangan di Belanda

Saat ini, Korea Utara menuntut penghapusan sanksi dari AS. Berikut, mengutuk sikap AS layaknya "gangster-like" yang mendesak Korea Utara segera menghangcurkan senjata nuklir. Di lain sisi, AS tetap mempertahankan sanksi terhadap Korea Utara sampai denuklirisasi akhir yang sepenuhnya diverifikasi.

Pekan lalu, pemerintah AS menjatuhkan sanksi kepada tiga pejabat senior Korea Utara, atas pelanggaran hak asasi manusia (HAM). Di antaranya termasuk Choe Ryong Hae, yang disinyalir sebagai tangan kanan Kim Jong-un.

Dalam sebuah pernyataan resmi yang disiarkan kantor berita resmi KCNA, Korea Utara menyebut Trump berulang kali menyatakan keinginan untuk memperkuat hubungan bilateral. Akan tetapi, hal itu berbeda dengan sikap Kementerian Luar Negeri AS yang cenderung menggiring kembali hubungan bilateral AS-Korea Utara pada status tahun lalu, yang ditandai dengan pertukaran api. Sejumlah politisi AS termasuk Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo, dituding kerap memfitnah Korea Utara. Sebagaimana ditekankan Direktorat Riset Kebijakan Institut Kementerian Luar Negeri untuk Studi AS.

"Menggunakan sanksi dan tekanan untuk membuat kita menyerahkan senjata nuklir, menjadi kalkulasi besar yang salah. Itu malah akan memblokir jalan menuju denuklirisasi di Semenanjung Korea selamanya," bunyi pernyataan resmi tersebut.

KTT putaran kedua antara Korea Utara dan AS, diperkirakan akan kembali dadakan tahun depan. Trump sendiri menghadapi kritik keras atas rencana pertemuan tersebut, mengingat Korea Utara sudah mengambil beberapa langkah konkret untuk meninggalkan program rudal nuklir dan balistik.

Pyongyang sudah lama menekankan urgensi senjata untuk menghalangi potensi invasi AS. Negara itu menghabiskan waktu puluhan tahun untuk mengembangkan amunisi persenjataan. Meski telah menggelontorkan anggaran fantastis, strategi Korea Utara menuai sanksi dari PBB, AS dan negara-negara Uni Eropa.

Bersamaan dengan publikasi besar terhadap peringatan kematian Kim Jong Il, ayah dari Pemimpin Kim, koran Rodong Sinmun menerbitkan editorial panjang yang memuji upaya Kim Jong Il mengamankan kekuatan militer untuk mencapai perdamaian dan kemakmuran. Setahun yang lalu, koran tersebut juga memuji prestasi abadi dalam membangun kekuatan nuklir Korea Utara. Halaman muka didominasi gambar tentara dan pejabat tinggi termasuk Kim Jong-un, yang memberi hormat di makam Kim Jong Il di sebuah istana luas.

Baca juga: Foto 6,8 Juta Pengguna Facebook Bocor

Trump tampaknya mengecilkan harapan untuk tercapainya kesepakatan yang membuat Pyongyang melepaskan program senjata nuklir. Di samping itu, dia menyatakan optimismenya terhadap ekonomi Korea Utara yang memiliki potensi luar biasa. Akan tetapi, dia memandang Kim akan memanfaatkan hal itu untuk kepentingan tertentu.

Menanggapi desakan Kongres AS, pemerintahan Trump mengatakan segera menyita aset AS dari tiga pejabat Korea Utara guna membendung kebebasan berbicara. Pembatasan seperti itu mungkin berdampak kecil bagi individu di salah satu negara paling tertutup di dunia. Namun, memiliki dampak simbolis yang besar ketika Korea Utara mencari penerimaan dari AS. (AFP/OL-6)

Berita Terkini

Read More

Poling

Debat perdana Pilpres 2019 menjadi ajang untuk menunjukkan impresi para kandidat Pasangan Calon Capres-Cawapres nomor urut 01 Joko Widodo-Ma'ruf Amin dan nomor urut 02 Prabowo Subianto-Sandiaga Uno. Menurut Anda siapa yang unggul di debat perdana ini?





Berita Populer

Read More