Perlu Peran Bersama Menjaga Ekosistem Batangtoru

Penulis: Antara Pada: Minggu, 16 Des 2018, 17:00 WIB Humaniora
Perlu Peran Bersama Menjaga Ekosistem Batangtoru

Nanang SUJANA / SUMATRAN ORANGUTAN CONSERVATION PROGRAMME / AFP

KEBERADAAN penampungan limbah tambang atau tailing menjadi salah satu persoalan yang harus menjadi perhatian pemerintah terutama pada daerah dengan potensi sesar gempa seperti di kawasan Batangtoru, Tapanuli Selatan, Sumut.

Tak tertutup kemungkinan penampungan limbah yang biasanya mengandung bahan-bahan kimia berbahaya seperti mercuri maupun sianida tersebut akan rusak saat terjadinya gempa. Dampaknya akan mencemari lingkungan sekitar.

Direktur Jaringan Monitor Tambang (JMT) menyatakan Ali Adam menyatakan, potensi masalah itu nyata dan mesti menjadi bagian yang harus diawasai pemerintah.

"Meskipun pihak perusahaan tambang mengklaim penampungan limbahnya aman, publik tetap mengkhawatirkan risiko yang terjadi jika gempa di sesar," kata dia dalam keterannya, Minggu (16/12).  

Menurutnya, risiko kebocoran limbah setelah gempa terjadi bisa terjadi terhadap penampungan limbah pertambangan emas di kawasan Batangtoru. Bahkan saat ini saja, Ali menyebut penampungan limbah tambang itu telah menimbulkan dampak negatif terhadap kelestarian lingkungan Sungai Batangtoru.

Ali menyampaikan pihaknya pernah melakukan investigasi terkait keberadaan kolam penampungan limbah tambah milik salah satu perusahaan pertambangan di Batangtoru.

Ia memastikan bahwa perusahaan itu memang memiliki kawasan penampungan untuk memproses limbah tambang sebelum dibuang ke Sungai Batangtoru. Namun, letak penampungan itu berada di kawasan tebing yang berbatasan langsung dengan masyarakat yang ada di bawahnya.

"Meskipun proses tersebut dilakukan untuk memastikan sisa limbah yang dibuang sudah memenuhi standar tertentu, tetapi pembuangan limbah sisa tambang tersebut sangat mempengaruhi kelestarian sungai," ucapnya.

Sebelumnya, Penasehat Masyarakat Konservasi Tanah Indonesia (MKTI) Soetino Wibowo mengatakan pengelolaan berkelanjutan sebuah bentang DAS tidak bisa diserahkan pada satu pihak saja.

Menurut dia, aktivitas yang berpotensi merusak harus disiapkan mitigasi bahkan sebisa mungkin dihindari. Dia menjelaskan bentang ekosistem DAS bukan hanya kiri-kanan sungai saja, namun juga keseluruhan wilayah daratan yang membentang dari hulu hingga hilir yang berfungsi menyerap, menyimpan, dan mengalirkan air ke sungai.
      
Sebagai contoh, di ekosistem DAS Batangtoru ada aktivitas pemanfaatan untuk perkebunan, pertanian oleh masyarakat, dan proyek pembangkit listrik tenaga air (PLTA) serta ada aktivitas pertambangan emas. aktivitas pemanfaatan boleh dilakukan sepanjang tidak merusak.
       
"Jadi tidak bisa hanya mengharapkan PLTA saja yang menjaga ekosistem DAS di Batangtoru. Semua harus bertanggung jawab," kata Soetino.

Ekosistem DAS Batangtoru mencakup lima Kabupaten dan satu kota. Menurut data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), luas DAS Batangtoru sekitar 329.420 hektare. Saat ini, DAS Batangtoru diklasifikasikan sebagai 'dipulihkan'. (X-12)

Berita Terkini

Read More

Poling

Debat perdana Pilpres 2019 menjadi ajang untuk menunjukkan impresi para kandidat Pasangan Calon Capres-Cawapres nomor urut 01 Joko Widodo-Ma'ruf Amin dan nomor urut 02 Prabowo Subianto-Sandiaga Uno. Menurut Anda siapa yang unggul di debat perdana ini?





Berita Populer

Read More