Relawan Kemanusiaan Jadi Tren Anak Muda

Penulis: Dhika Kusuma Winata Pada: Minggu, 16 Des 2018, 10:45 WIB Humaniora
Relawan Kemanusiaan Jadi Tren Anak Muda

MI/PANCA SYURKANI

BENCANA tsunami Aceh pada 2004 silam menjadi momen penting bagi dunia kerelawanan di Indonesia. Tragedi yang merenggut ratusan ribu korban jiwa itu menggerakkan ruh kemanusiaan anak bangsa untuk bergerak saling menolong.

Penggalangan dana dilakukan di mana-mana. Relawan kemanusiaan dari berbagai daerah berdatangan ke lokasi bencana. Sejak saat itulah banyak komunitas relawan tumbuh bak jamur di musim hujan.
Bermula dari situ pula, kata Roel Mustafa, 40, dunia relawan banyak diminati kaum muda. “Sekarang ini anak muda sudah terlecut untuk terjun ke dunia kerelawanan. Mungkin ada anggapan ini kegiatan keren bisa membantu orang lain. Seperti yang baru-baru ini di Lombok dan Palu, banyak relawan muda,” ujar Roel, Co-Founder Sekolah Relawan Depok, kemarin.

Sekolah Relawan ini berdiri sejak 2013, bergerak di bidang edukasi kere­lawanan. Setiap tahunnya, puluhan hingga ratusan anak muda datang ke Sekolah Relawan itu. Mereka berasal dari komunitas, mahasiswa, hingga anak sekolah.

Program utama sekolah tersebut ialah pemberian keterampilan dan wawasan, antara lain pelatihan menghadapi situasi darurat, pelatih­an dasar penanganan bencana (SAR), manajemen relawan, manajemen logistik, dan manajemen posko.

“Moto kami, menggaungkan berlaku adil dan membantu masyarakat sebagai wujud komitmen membantu masyarakat yang terdampak musibah,” imbuh Manager Pengumpulan Dana Sekolah Relawan, Rani Alfiani. Hingga kini, tercatat relawan sekolah tersebut berjumlah 1.200 ­orang, tersebar di 30 titik di Indonesia, dan ditambah 43 leader.

“Menjadi relawan di daerah bencana bagi saya ialah panggilan jiwa untuk membantu meringankan beban saudara kita yang tertimpa musibah,“ kata relawan dari PKPU Human Initiative, Sukismo, kemarin. Dia yang sering terjun di daerah ­bencana di Indonesia juga di luar negeri seperti Rohingya dan Afrika ini berpendapat menjadi relawan itu ­selain berpahala sesuai agamanya juga jadi kebanggaan tersendiri ­karena dapat terlibat langsung menolong orang yang tertimpa musibah.

Bahkan ada yang menjadi kebiasaan sampai hari tua. “Ada yang menjadi hobi dan kesenangan ­akhirnya sebagai pekerjaan sampai hari tua. Ini bisa dikatakan sebagai gaya hidup yang positif,” tuturnya.
 

Ujung tombak kemanusiaan
Gerakan relawan di kalangan kaum muda dipandang positif oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana. Juru bicara BNPB Sutopo Purwo Nugroho mengatakan, dalam setiap bencana, aksi relawan anak muda memang terbilang menonjol.

Peran relawan, menurutnya, amat membantu, baik itu yang melakukan penggalangan dana, mengumpulkan bantuan logistik, maupun membantu langsung ke lokasi bencana. Ia berpandangan kini anak-anak muda melihat kegiatan relawan sebagai bentuk aktualisasi diri yang positif.

Palang Merah Indonesia (PMI) pun melihat peran relawan amat penting dan strategis dalam manajemen bencana. Pasalnya, relawan merupakan ujung tombak kegiatan kemanusiaan di masyarakat.

“Tanpa relawan, pelayanan kemanusiaan PMI ini tidak akan terjadi. Saya yakin organisasi berbasis relawan lainnya juga memiliki pendapat serupa,” kata Kabiro Humas PMI Pusat Aulia Arriani, kemarin. (KG/Bay/N-1)

Berita Terkini

Read More

Poling

Minggu (17/3) digelar debat ketiga Pilpres 2019. Debat kali ini diikuti oleh Calon Wakil Presiden Ma'ruf Amin dan Sandiaga Salahudin Uno. Debat ini akan mengangkat tema pendidikan, kesehatan, ketenagakerjaan, sosial, dan budaya. Menurut Anda siapa yang akan unggul dalam debat kali ini?





Berita Populer

Read More