Kolaborasi di Warung Nasi

Penulis: Iis Zatnika Pada: Sabtu, 15 Des 2018, 22:56 WIB Megapolitan
Kolaborasi di Warung Nasi

MI/Iis Zatnika
Umronah, pemilik Warung Putri di Bekasi, Jawa Barat.

Kesibukan di Warung Putri dimulai ketika hari masih gelap. Dini hari menjemput aneka sayur, aneka bumbu, ikan, ayam juga daging sapi di  Pasar Baru Bekasi. Usai azan subuh, empat tungku pun mulai dihidupkan. Air dijerang, bumbu ditumis, ikan digoreng dan aneka lauk pun dimasak.

Pukul tujuh pagi, nasi, sayur, lauk hingga sambal siap disajikan dalam piring, atau dikemas dalam kertas nasi atau plastik untuk disantap dibawa pulang pelanggan. Siang atau sore, ritual memasak terus berlanjut ketika beberapa piring saji telah tandas.

Ikhtiar menjemput rezeki yang dilakukan Umronah, sang pemilik warung bersama dua  perempuan karyawan yang juga kerabatnya itu dilakukan hingga warung tutup pada pukul delapan malam. "Ada 20 jenis sayur, 25 lauk, 50 kg beras dan satu kuali sambal kami masak setiap hari," ujar Umronah ketika ditemui di warungnya.

Berjualan di jalan besar yang dilampaui angkot, namun masih terhitung kawasan pemukiman, Umronah pun mengantisipasi dengan mematok harga yang terjangkau dan mengandalkan volume. Untuk satu piring nasi,  sayur, dan lauk diluar ayam dan ikan, plus segelas air putih, cukup dihargai mulai Rp5.000. Sementara, yang terhitung paling mahal, Rp13 ribu untuk sepiring nasi, sayur, sepotong ayam, dan segelas air.

"Yang penting modal mutar, supaya orang yang mau makan, dari semua kalangan bisa dilayani, juga agar saya dan dua yang kerja di sini juga bisa cari rezeki terus," kata Umronah, yang merintis usahanya bersama sang mendiang suami sejak 2005.

Bertahan dengan menetapkan margin tak terlampau besar dan lebih mengedepankan volume penjualan agar modal berputar, Umronah mengaku masih bersyukur. Selain karena perekonomian di kawasan itu makin menggeliat, dengan munculnya minimarket, toko kelontong, kios mainan anak, hingga jasa pencucian, membuat pangsa pasarnya bertambah, juga karena energi yang disedot kompor-kompornya kian efisien.
 
"Sejak 2016 ada sambungan gas alam PGN ke sini, saya langsung daftar, enggak  pakai ragu. Sekarang cuma habis Rp1 juta sebulan, dulu ketika pakai tabung 3 kg bisa habis 3 tabung sehari, totalnya Rp1,8 juta," kata Umronah yang kendati kini menghuni warung dan bagian belakangnya yang ia huni bersama karyawannya yang semuanya perempuan, tak kuatir dengan pilihan Warung Putri pada energi yang disalurkan melalui
pipa. Terlebih, ia rutin didatangi petugas yang mengontrol, dan pengalamannya yang selama dua tahun belun pernah mengalami masalah dengan sumber bahan bakar itu.

Respons yang tanggap pada perubahan, dipadu dengan konsistensinya mempertahankan kualitas dan batasan harga, membuat Umronah tetap optimistis. "Karena orang pasti butuh makan, yang penting atur keuangan, sekarang kan bisa hemat gas. Juga, kalau bisa, usahakan kalau punya warung, tempatnya milik sendiri, seperti saya, sehingga harga bisa kita tekan. Belinya sih pakai perjuangan, tapi memang harus dikhtiarkan," ujar Umronah yang memilih tak pernah libur, kecuali Ramadan dan Lebaran buat memastikan modalnya terus berputar dan senantiasa mengenyangkan banyak orang.

Warteg Waralaba
Langkah Umronah yang cepat merespon perubahan, juga dilakukan Yudhika yang pemilik bisnis warteg waralaba Kharisma Bahari yang kini memiliki 200 warung di Jabodetabek, setelah sebelumnya berdagang asongan dan menggeluti usaha warung nasi sejak satu dekade lalu. Berawal dari warteg di Cakung, Jakarta Timur, yang semula ia sewa dan kelola bergiliran dengan kawan sekampungnya dari Tegal, selama masing-masing empat bulan, ia merintis metode waralaba.

Model bisnisnya, pemilik modal menyetor dana, dengan membayar uang muka mulai Rp50 juta dan mencicil, sedangkan tenaga kerja dan pengelolaan dilakukan Yudhika, hingga kemudian krtika lunas, warteg menjadi milik pemodal.

"Awalnya hanya terbatas lingkungan Tegal, Brebes dan sekitarnya untuk tenaga sekaligus pemiliknya, dan ada juga semula karyawan jadi pemilik. Target 2018 sudah tercapai. Target 2019 lokasi melebar bukan hanya di Jabodetabek," ujar pria bernama asli Suyadi yang mengubah nama panggilannya menjadi Yudhika dari nama warungnya, Kharisma Bahari. Kekuatan merek Kharisma Bahari itu pun ia jaga betul, termasuk dengan mengecat seluruh warteg dengan kuning dan hijau serta standardisasi pelayanan dan rasa.   

Aplikasi dan kolaborasi
Ada pula Peter Shearer Setiawan, pendiri perusahaan rintisan Wahyoo yang menyediakan aplikasi yang membantu para pelaku usaha warung makan."Kami melakukan edukasi dan standardisasi pelayanan, membantu promosi, dekorasi, pemodalan, penyediaan barang, hingga pengiriman barang gratis," beber Peter yang berkolaborasi dengan banyak perusahaan rintisan hingga korporasi, termasuk ojek daring untuk membatu proses pengiriman bahan baku sekaligus menjadikan warung jejaring Wahyoo menjadi lokasi istirahat pengojek.

Ke depan, Wahyoo bahkan berencana menerapkan sistem pembayaran non tunai pun membuka dapur pusat untuk memberi kesempatan bagi pemilik warung libur namun bisnisnya tetap berjalan.

Daya ungkit
Inovasi-inovasi yang dilakukan Umronah, Yudhika dan Peter, yang sama-sama berikhtiar dalam rantai bisnis warteg, menurut Pendi Yusuf Muhtar Efend, Ketua Umum Koperasi Pemuda Indonesia (Kopindo) yang telah melatih puluhan ribu wirausaha dari 13 provinsi, menjadi penanda pengusaha mikro di bidang kuliner punya potensi dan daya ungkit besar buat sekitarnya.

"Dari tenaga kerja saja, paling minim, paling sedikit tiga orang bekerja di satu warung. Belum serapan pada komoditas sayur mayur, hasil ternak, hasil tangkapan nelayan yang juga luar biasa. Sentuhan inovasi bisa dilakukan pada aspek material, termasuk soal energi yang efisien, manajemen hingga kemasan dan pemasaran, bisa mengangkat bisnis mereka dan akhirnya berdampak ganda pada sektor-sektor lainnya," ujar Pendi.

Peranti buat mengkatrol bisnis mereka, kata Pendi, teramat panjang dan kompleks. Dimulai perusahaan negara penyedia energi yang efisien dengan ketersediaan jaringan pasokannya, edukasi tentang cara pengolahan dan pengemasan yang sehat dari institusi kesehatan, perbankan untuk permodalan hingga perusahaan rintisan digital untuk membawa mereka tak tertinggal dan masuk dalam gerbong kekinian.

"Karena kalau dibilang mereka lincah dan tahan banting, ya sebenarnya itu lebih karena tak ada pilihan, sehingga mereka mau tak mau harus bertarung di sana. Kuncinya, untk pengembangan agar mereka terus relevan dengan kemajuan, kolaborasi dari si warteg serta pemangku kepentingan lainnya."

Kompor-kompor di Warung Putri, Warteg Kharisma Bahari dan jejaring Wahyoo terus menyala, dan apinya akan kian kuat ketika kolaborasi itu terjalin.  (OL-1)

Berita Terkini

Read More

Poling

Minggu (17/3) digelar debat ketiga Pilpres 2019. Debat kali ini diikuti oleh Calon Wakil Presiden Ma'ruf Amin dan Sandiaga Salahudin Uno. Debat ini akan mengangkat tema pendidikan, kesehatan, ketenagakerjaan, sosial, dan budaya. Menurut Anda siapa yang akan unggul dalam debat kali ini?





Berita Populer

Read More