Para Pemuda Penyebar Toleransi

Penulis: Rizky Noor Alam Pada: Minggu, 16 Des 2018, 01:50 WIB Weekend
Para Pemuda Penyebar Toleransi

MI/Duta

ISU intoleransi di Indonesia belakangan memang semakin panas. Sebagai negara Bhinneka Tunggal Ika, Indonesia seharusnya amat toleran. Pasalnya, dibangun di atas banyak perbedaan, mulai suku, agama, ras, sampai golongan.

Salah satu sosok yang peduli isu toleransi di Ibu Pertiwi ialah Ayu Kartika Dewi yang merupakan Co-Founder dari Sabang Merauke, sebuah organisasi yang memiliki program pertukaran pelajar antardaerah.

Pengalamannya menjadi guru SD selama 1 tahun (2010-2011) di sebuah daerah bekas konflik di Maluku Utara membuatnya geram sekaligus tersadar pentingnya toleransi dan perdamaian dalam kehidupan manusia.

“Saat saya datang ke sebuah desa di Maluku Utara untuk mengajar, sepanjang perjalanan banyak sekali puing-puing gereja bekas kerusuhan 1998-1999, padahal saya datang 11 tahun pascakerusuhan tersebut,” jelas Ayu dalam acara We Diverse Festival 2018 (WEDFEST 2018) di Jakarta, awal Desember.

Kala itu, kata Ayu, di daerah tempatnya mengajar, penduduk tinggal sesuai agama. Mereka yang memeluk Islam tinggal di desa muslim dan sebaliknya. Fenomena itu akibat pengalaman pahit yang tertinggal dari konflik itu. Ayu menuturkan pemisahan itu dilakukan pemerintah setempat untuk meminimalkan gesekan yang mungkin terjadi. Mungkin pemisahan bisa menjadi solusi jangka pendek, tapi jangka panjang memegaruhi pembauran pada anak-anak.

“Suatu sore ada murid saya bilang sambil lari-lari panik, ‘Ibu, kita harus hati-hati kerusuhan akan datang sudah dekat, sudah sampai Ambon’. Padahal kan Ambon itu jauh dari daerah saya mengajar, butuh waktu berhari-hari dari Ambon untuk sampai ke desa saya. Waktu saya beri pengertian Ambon itu lokasinya jauh mereka malah bilang nanti kerusuhan datang naik pesawat. Itu artinya anak-anak ini tidak mengerti apa arti dari kata kerusuhan itu sendiri,” imbuh Ayu.

Tidak hanya itu, ada pula muridnya yang memberi peringatan agar berhatihati dengan orang Kristen. Dalam pemikirannya, orang Kristen itu jahat dan suka membakar rumah warga muslim.

“Ini kan gila, anak-anak SD ini belum pernah bertemu dengan orang Kristen, tapi mereka sudah punya ketakutan dan kebencian padahal belum pernah bertemu,” imbuh Ayu.


Pertukaran

Pengalamannya itu yang membuat Ayu bersama temannya membentuk Sabang Merauke. Salah satu program pertukaran pelajar selama tiga minggu. Pesertanya merasakan hidup bersama dengan keluarga yang berbeda dengannya baik dari etnik maupun agamanya. Program tersebut sekarang sudah berjalan selama 6 tahun.

“Mengapa pertukaran pelajar? Karena kami pernah mengalami ikut pertukaran pelajar dan program semacam itu mengubah hidup, membuka mata, melihat hal-hal yang sebelumnya tidak pernah dirasakan. Merasakan hidup dan tahu bagaimana susahnya sebagai minoritas,” jelas Ayu.


Milenial Islami

Tidak hanya itu, setahun belakangan Ayu juga disibukkan membangun Milenial Islami, sebuah program yang mengajarkan Islam kepada generasi milenial mengenai Islam yang sejuk, damai, dan menghargai perbedaan. Salah satu kegiatannya kompetisi baik dalam bentuk esai, meme, vlog, maupun video.

“Selain itu, kami buat kegiatan pesantren kilat yang basis kurikulumnya adalah toleransi. Jadi, sama seperti pesantren kilat pada umumnya diselenggarakan saat bulan puasa, ada pelajaran mengaji, zikir, menginap di pesantren, tapi yang menarik adalah kita ada materi kunjungan ke rumah ibadah agama lain, lalu setelah selesai kunjungan ada acara ngobrol dengan teman-teman berbeda agama dan etnik atau ask me anything,” jelas Ayu.

Hasilnya positif menurut Ayu, dari sebelumnya mereka memiliki prasangka buruk dengan teman-temannya yang berbeda agama dan etnik, setelah berkunjung dan mengobrol, testimoni mereka pun positif.

“Saya percaya perjumpaan bisa meruntuhkan tembok prasangka, makanya kita harus sering-sering melakukan aktivitas yang melibatkan orang yang berbeda, aktivitas apa pun, misal, fotografi , jalan-jalan bareng, apa pun asalkan ada perjumpaan karena kalau kita tidak pernah bertemu akan selalu ada prasangka. Toleransi itu tidak hanya diajarkan, tapi juga harus dialami dan dirasakan,” tambah Ayu.


Kepercayaan

Dalam kesempatan itu, Israruddin dari Sustainable Development Solutions (SDSN) Southeast Asia juga aktif sebagai Executive Director Yayasan Sahabat Pulau Indonesia menceritakan ia lahir dan besar di tengah konflik Aceh. Ia mengaku sulit untuk melakukan apa pun di daerah konflik.

“Saya adalah anak asal Bireun, Aceh. Saya tumbuh besar dan lahir ketika konflik Aceh dan daerah saya adalah daerah red zone. Saya pernah mengungsi berbulan-bulan, sekolah saya dibakar, guru ngaji saya ditembak. Saya merasakan sekali tidak enaknya hidup dalam konflik,  mau melakukan apa pun susah dan kita patut bersyukur sekarang bisa hidup dengan nyaman sekali,” ungkap pria yang akrab disapa Isra tersebut.

Menurut Isra, konflik terjadi akibat hilangnya unsur kepercayaan dalam bermasyarakat. “Terjadinya konfl ik itu karena ada satu hal yang hilang, yaitu kepercayaan. Kita tidak percaya sama orang, kehilangan kepercayaan untuk tolongmenolong, kehilangan kepercayaan untuk membangun bersama sehingga timbul konflik,” imbuhnya.

Bagi Isra, Indonesia ialah negara yang amat besar dan beragam sehingga jika rakyatnya tidak memiliki rasa saling percaya, tentunya Indonesia sudah terpecah sejak 1998. “Alhamdulilahnya bangsa Indonesia itu masih memiliki rasa percaya dan mau berjuang sebagai bangsa yang utuh dan sampai sekarang NKRI masih bertahan. Ini sangat riskan jika ke depan tidak dirawat dan dipelihara karena kadang kita tidak sadar melalukan
sesuatu yang merusak keberagaman dan persatuan itu,” pungkasnya. (M-3)

Berita Terkini

Read More

Poling

Debat perdana Pilpres 2019 menjadi ajang untuk menunjukkan impresi para kandidat Pasangan Calon Capres-Cawapres nomor urut 01 Joko Widodo-Ma'ruf Amin dan nomor urut 02 Prabowo Subianto-Sandiaga Uno. Menurut Anda siapa yang unggul di debat perdana ini?





Berita Populer

Read More