Bahasa Cinta dari Busana Peranakan

Penulis: Suryani Wandari Pada: Minggu, 16 Des 2018, 01:25 WIB Weekend
Bahasa Cinta dari Busana Peranakan

MI/ADAM DWI

BUKANKAH kita berasal dari peranakan?” desainer Bramanta Wijaya balik bertanya saat wawancara sebelum menggelar peragaan koleksinya di Jakarta, Jumat (7/12). Pertanyaan itu menjadi caranya menjawab soal inspirasi di balik koleksi busana koktail dan pengantin musim semi/panas 2019 yang diberi tajuk Tresno tersebut. Peranakan yang dimaksud Bramanta bukan saja rumpun etnik Tionghoa, melainkan juga Eropa. Hal ini terlihat dari siluet maupun motif busana. Tidak hanya berdiri sendiri, pada beberapa busana unsur Tionghoa dan Eropa itu dipadukan sehingga menciptakan koleksi yang makin unik.

Contohnya ialah gaun selutut tanpa lengan bentuk kerah shanghai. Sementara itu, untuk siluet bagian tubuh, Bramanta menggunakan bentuk trapeze dress (gaun trapesium). Siluet trapesium menghasilkan tampilan yang berbeda dari sekadar gaun longgar yang tidak membentuk pinggang.

Ciri khususnya bisa dilihat pada bagian sisi kanan dan kiri yang lebih panjang dari sisi depan maupun belakang, sesuai dengan bentuk trapesium. Unsur peranakan Eropa juga terlihat dari motif buketan (buket bunga) krisan dan warna biru indigo. “Motif khas ini dikembangkan oleh kaum peranakan Tionghoa dan Eropa yang merindukan warnawarna cerah dari buket bunga, hadiah yang melambangkan kasih,” kata Bramanta.

Perlambang kasih itu pula yang kemudian disematkan menjadi inspirasi tajuk koleksi. Motif-motif itu hadir dalam dua nuansa warna berbeda. Pada sekuel pertama, dominasi warna biru dan hijau mendominasi koleksi. Pada nuansa warna ini, ia bahkan mengombinasikan dengan garis geometris dan motif awan yang mengingatkan pada Mega Mendung khas Cirebon.

Di sekuel selanjutnya, Bramanta menampilkan busana yang menggunakan teknik cetak blok pada batik. Kini ia menampilkan nuansa warna merah berpadu coklat khaki bermotif bunga yang ceria. Salah satunya ialah busana bersiluet mirip jubah selutut yang dilengkapi kancing, tetapi pada belahan kaki menyembul kain ruffle. Ada pula busana gaun malam dengan bustier yang dipadukan dengan rok yang menjuntai.

Beberapa busana tampak terinspirasi dari Jubah Manchu yang muncul pada Dinasti Qing, Bramanta mengolahnya lebih luwes dengan penggunaan bahan yang jatuh. Motif garis geometris pada busana itu bukan hanya menjadi pelengkap, melainkan juga menggantikan detail keras yang biasanya hadir di busana Manchu.

Namun, Bramanta juga membuat sisi kasual dengan paduan kulot panjang. Ada pula yang hadir dengan padanan celana pendek atau jumpsuit asimetris.


Busana pengantin

Tak hanya menampilkan gaun-gaun malam, Bramanta menampilkan kurang lebih 5 gaun pengantin. Desainer yang memang dikenal dengan rancangan gaun pengantin yang romantis dan seksi itu juga konsisten menampilkan inpirasi peranakan tadi. Beberapa gaun pengantinya menampilkan siluet a-line dengan kain brokat bermotif bunga yang timbul dan berkerah shanghai. Bramanta menjelaskan penggunaan siluet longgar sekaligus beranjak dari tren gaun mermaid pada tahun lalu.

Pada koleksi kali ini terlihat penggunaan kain-kain menerawang tidak sebanyak koleksi sebelumnya. Dengan begitu koleksi kali ini menguarkan pula kesan pengantin yang tangguh. Terlebih dengan adanya busana pengantin bergaya jubah yang dipadankan dengan gaun brokat mini. Kesan megah juga hadir dengan bentuk lengan yang panjangnya hampir menyamai gaun. (M-1)

Berita Terkini

Read More

Poling

Debat perdana Pilpres 2019 menjadi ajang untuk menunjukkan impresi para kandidat Pasangan Calon Capres-Cawapres nomor urut 01 Joko Widodo-Ma'ruf Amin dan nomor urut 02 Prabowo Subianto-Sandiaga Uno. Menurut Anda siapa yang unggul di debat perdana ini?





Berita Populer

Read More