Perupa Jalanan Masuk Mal

Penulis: AT/M-4 Pada: Minggu, 16 Des 2018, 01:00 WIB Weekend
Perupa Jalanan Masuk Mal

MI/ARDI TERISTI HARDI

GRAFITI dan mural identik dengan karya seni yang terpampang di jalan-jalan (street art). Para seniman berekspresi secara merdeka melalui dua media itu untuk menyampaikan kritik sosial ataupun pesan moral kepada masyarakat atau pemerintah.

Namun, apa yang terjadi jika seni tersebut dipindahkan ke dalam mal? Ya, street art kini dapat kita temukan di mana saja, di jalanan, dinding, kereta, bus, bahkan museum dan di berbagai medium lainnya.

Karena itu, Inhype Group menggelar Jakarta Street Art Festival di The Forum, Lippo Puri Indah Mall. Acara yang digelar pada 7 Desember 2018 hingga 6 Januari 2019 ini akan menjadi wadah bagi para pelaku street art untuk berkolaborasi dan menciptakan karya bersama.

Willy Kurniawan, Founder Inhype Group, berharap inisiatif ini bisa menjadi tempat bagi pencinta street art Tanah Air berkolaborasi. “Hype mencoba memberikan warna bagi industri kreatif Indonesia, di antaranya dengan menyelenggarakan Jakarta Street Art Festival. Kami berharap acara ini bisa menjadi wadah kreativitas pecinta seni urban Tanah Air. Mengingat saat ini, seni dan industri kreatif Tanah Air kian mendapat perhatian semua pihak.”

Para seniman yang turut hadir menjadi pengisi acara, antara lain Folker, Mongkiboy, Xenicosh, Cloze, Twomyskeleton, Clarave, HHH, Marzakh, AST, dan masih banyak lagi.
Lukas aka Folker mengatakan, dalam ruangan tersebur dirinya menggambar sosok Jeki dengan latar penuh warna. Menurut dia, sosok Jeki dalam gambarnya merupakan sosok manusia kebanyakan, sedangkan warna-warni yang melatar belakanginya diibaratkan sebagai sebuah budaya. “Pesan saya bahwa budaya yang penuh warna bisa menjadi kesatuan yang indah,” kata dia, Jumat (8/12). Lukas membuat gambar muralnya tersebut sekitar 3 hari dengan cat semprot.

Selain Lukas, ada pula Heru ­Setiawan aka Mongki Boy. Sama dengan Lukas, Heru juga menampilkan gambar mural dengan penuh warna. Bedanya, ia menyebut pilihan warnanya bentuk ekspresi yang tegas.

Heru menyebut, setahun belakangan ia mulai menggambar sosok Mongki Boy sebagai identitasnya ketika membuat mural. Mongki Boy ialah sosok orang utan atau bisa juga dilihat sebagai monyet.

Karakter Mongki Boy dibuat sebagai wujud kritik terhadap semakin ­buruknya lingkungan sekarang. “­Orang bisa mengenal orang utan sebagai satwa yang dilindungi. ­Pesannya jaga kelestarian ­lingkungan,” kata dia.

Public Relations (PR) Inhype Group, Brenda, mengatakan, Jakarta Street Art Festival digelar dengan tujuan agar masyarakat lebih mengenal, lebih dekat, dan lebih mengapresiasi karya-karya seni jalanan. “Di sini kami juga memamerkan berbagai karya seni lukisannya para artis seni lukisan jalanan, baik dari lokal maupun luar negeri,” kata dia. Ada pula museum playground untuk anak-anak.

Untuk masuk pameran ini, tiket masuknya Rp50 ribu untuk dewasa serta Rp25 ribu untuk anak-anak (pada hari kerja) dan Rp75 ribu dewasa dan Rp50 ribu untuk anak-anak (pada akhir pekan).

Berita Terkini

Read More

Poling

Minggu (17/3) digelar debat ketiga Pilpres 2019. Debat kali ini diikuti oleh Calon Wakil Presiden Ma'ruf Amin dan Sandiaga Salahudin Uno. Debat ini akan mengangkat tema pendidikan, kesehatan, ketenagakerjaan, sosial, dan budaya. Menurut Anda siapa yang akan unggul dalam debat kali ini?





Berita Populer

Read More