Wahyudi, Dedikasikan Diri lewat Menjahit

Penulis: Hilda Julaika Pada: Sabtu, 15 Des 2018, 07:25 WIB Weekend
Wahyudi, Dedikasikan Diri lewat Menjahit

MI/PIUS ERLANGGA

SESAMA manusia tidak adil bila diperlakukan berbeda hanya karena tampilan fisik. Sempat dipandang sebelah mata, para manusia-manusia kuat yang merupakan disabilitas ini membuktikan bahwa penyandang disabilitas bisa hidup mandiri, bahkan memberikan kebermanfaatan kepada orang lain dalam menjalani hidup. Berikut Kick Andy merangkumnya.

DI daerah tempatnya tinggal, Ungaran, anak-anak disabilitas kerap disembunyikan oleh orangtua masing-masing. Alasannya klise, karena malu. Namun, lewat dedikasi Wahyudi yang juga seorang disabilitas ini, anak-anak diberikan kursus menjahit secara gratis di rumahnya. Bagi Wahyudi dengan mengamalkan ilmu ialah bagian dari pembuktian bahwa kaum disabilitas juga setara dan bisa mandiri dalam menjalani hidup, bahkan bermanfaat untuk orang di sekitar.

Wahyudi memang sudah terlahir dengan lengan kanannya yang kurang sempurna. Panjangnya sebatas siku dan terdapat jari yang melengkapinya. Sedari kecil hingga tamat SMA hidup di kalangan orang-orang nondisabilitas, Wahyudi menjalani kehidupan seperti orang lain kebanyakan. Berlari dengan semangat, melompat dengan riangnya seperti anak-anak pada umumnya.

Namun, saat mengikuti pelatihan di balai latihan kerja (BLK) di Jawa Tengah, Wahyudi baru menyadari bahwa dirinya ialah seorang disabilitas. Ia bertemu dengan teman-teman lainnya dengan tingkat disabilitas yang beragam, bahkan menurutnya lebih parah dari dirinya.

Di BLK tersebut melalui Dinas Tenaga Kerja, Wahyudi diberikan pengajaran berupa keterampilan. Awalnya, ia mengaku tidak mengetahui apa-apa. Lantas diberikan pelatihan dan fasilitas. Hingga akhirnya Wahyudi, memiliki keterampilan menjahit. Keterampilan ini pun menjadi titik balik dalam hidupnya untuk bisa mandiri, bahkan memberikan manfaat kepada orang lain. Lewat membuka tempat menjahit sekaligus memberikan kursus menjahit bagi disabilitas secara gratis. Kursus ini diperuntukkan bagi disabilitas, khususnya tunadaksa, tunarungu, dan tunawicara.

"Walaupun saya tidak kaya, tapi saya merasa kaya. Saya ingin membantu adik-adik saya. Saya tidak membantu dengan harta, tetapi membagi dengan ilmu saya. Motivasi saya niatnya ibadah dan pengen membantu adek-adek saya," ujarnya dengan lembut.

Sebelum membuka tempat menjahit dan kursus menjahit ini, Wahyudi sempat melamar pekerjaan ke salah satu perusahaan. Mirisnya, ia diperlakukan dengan sebelah mata, bahkan sebelum melakukan wawancara oleh satpam di perusahaan tersebut. Satpam tersebut bertanya dengan nada yang meremehkan mengenai pekerjaan apa yang bisa dilakukan Wahyudi dengan hanya satu tangan.

"Ketika orang memandang disabilitas itu sebelah mata mungkin bisa saja, tapi kalau kita menunjukkan hasil karya kita dan bagaimana kita bisa bekerja mungkin orang akan berpandangan lain kepada kita. Oleh karena itu, saya tunjukkan kepada mereka bahwa saya bisa. Saya tidak berbeda dengan mereka, hanya saja saya mungkin ingin diberi kesempatan. Jangan kasihani saya, jangan rendahkan saya, tapi tolong berikan kesempatan kepada saya!" papar Wahyudi.

Perusahaan konveksi

Kini selain membuka tempat jahit dan kursus menjahit gratis bersama istrinya yang seorang disabilitas juga, Wahyudi turut mengajar di salah satu sekolah luar biasa (SLB) di Ungaran dengan memberikan pelajaran tata busana. Bersama dengan istrinya yang disabilitas juga, mereka berkarya dan kerap mengikuti pameran dan menjadi guru di SLB.

Kini anak didiknya sudah ada yang berhasil untuk membuat bisnis sendiri di bidang busana, bahkan menurut Wahyudi sudah lebih besar daripada usaha miliknya saat ini. Selain itu, pun beberapa ada yang bekerja di perusahaan garmen juga konveksi. Menurutnya, di daerah sekitarnya memang banyak perusahaan jenis konveksi tersebut.

Wahyudi memberikan harapannya, "Harapan agar disabilitas ini bisa berguna, pertama bagi keluarga dan masyarakat. Kemudian disabilitas tidak diremehkan. Artinya, tidak dipandang sebelah mata oleh masyarakat. Mereka bisa berkarya, menghasilkan, dan berguna bagi keluarga, masyarakat, dan negara," tukasnya penuh harap. (M-4)

Berita Terkini

Read More

Poling

Minggu (17/3) digelar debat ketiga Pilpres 2019. Debat kali ini diikuti oleh Calon Wakil Presiden Ma'ruf Amin dan Sandiaga Salahudin Uno. Debat ini akan mengangkat tema pendidikan, kesehatan, ketenagakerjaan, sosial, dan budaya. Menurut Anda siapa yang akan unggul dalam debat kali ini?





Berita Populer

Read More