GIBRAN RAKABUMING RAKA Ambil Untung dari Pemberitaan Negatif

Penulis: Rudy Polycarpus Pada: Minggu, 09 Des 2018, 04:55 WIB Weekend
GIBRAN RAKABUMING RAKA Ambil Untung dari Pemberitaan Negatif

ANTARA FOTO/Maulana Surya

DAMPAK pemberitaan negatif media tidak melulu merugikan. Bagi Gibran Rakabuming Raka, 31, putra sulung Presiden Joko Widodo, pemberitaan negatif tetap berjasa bagi perkembangan bisnis kulinernya.

Oleh karena itu, ia mengaku sama sekali tidak terusik oleh pemberitaan negatif. Bahkan, kelahiran 1 Oktober 1987 tersebut mengakui pentingnya peran media terhadap eksistensi bisnisnya. Hal itu disebabkan media-media ia anggap sebagai teman-teman yang membesarkan bisnisnya sejak ia memulainya dari nol hingga sekarang.

"Ketika ada berita positif, saya terbantu. Ada berita negatif pun, saya terbantu karena berita itu menguntungkan bagi saya," ujarnya saat acara bincang santai keluarga Presiden Jokowi dengan peliput Istana Presiden di Green Garden Cafe, Kebun Raya Bogor, kemarin.

Ia menyebutkan, bisnis martabaknya, Markobar, ialah salah satu yang dibesarkan oleh media. Apalagi, Markobar hanya makanan kaki lima yang dijual mulai dari pinggir jalan.

"Kalau (Markobar) enggak dibesarkan sama teman-teman media, enggak bakalan jadi apa-apa," tutur Gibran. Oleh karena itu, ia yakin keberhasilan usaha martabaknya sebagian besar berkat jasa para wartawan yang telah ikut serta membesarkan.

Ayah dari satu anak itu mulai terjun ke dunia bisnis kuliner dengan mendirikan Chilli Pari Catering di Solo, Jawa Tengah, pada penghujung 2010. Usaha tersebut kemudian berkembang menjadi penyedia jasa pesta pernikahan. Ia pun merintis Markobar di Solo pada 2015. Saat ini, Markobar sudah membuka cabang di beberapa kota besar dan akan merambah ke Filipina.

Menurutnya, yang dibesarkan oleh media tidak hanya usaha martabaknya. CEO Go-Jek Nadiem Makarim juga sangat diuntungkan dengan keberadaan media. Bahkan, Go-Jek kini mampu berekspansi ke mancanegara, seperti Singapura, Filipina, Thailand, dan Vietnam.

"Kan dia (Nadiem) memoles sesuatu yang sebenarnya sangat kecil, sangat sepele, tukang ojek. Setelah dipersenjatai dengan teknologi, menjadi seperti sekarang. Saya yakin, itu tidak akan sebesar sekarang kalau tanpa bantuan dari teman-teman media," tuturnya.

Gibran ternyata sependapat dengan ayahnya, Presiden Joko Widodo, yang menilai media berjasa besar bagi kehidupan mereka saat ini.

Dalam menjalankan usaha, ayah dari anak balita bernama Jan Ethes tersebut mengaku kerap menerima komentar negatif terkait dengan produk-produknya. Bukannya terusik, komentar itu justru ditanggapi secara positif. Untuk mempertahankan dan mengembangkan usahanya, ia terus berinovasi dengan melakukan diferensiasi menu makanan.

"Saya tekankan kepada anak muda, pekerjaan sekecil apa pun kalau ditekuni, pasti akan jadi besar," katanya.

Tanpa nama Jokowi

Pada kesempatan itu Gibran juga mengatakan, ia dan adik-adiknya selama ini tidak pernah memakai dan membawa nama besar ayah mereka saat merintis dan membangun eksistensi bisnis. Bahkan, tidak seorang pun dari mereka yang menggunakan nama Jokowi di belakang nama masing-masing.

"Saya Gibran Rakabuming. Kaesang (sang adik) juga (memakai nama) Kaesang Pangarep, dan bukan Kaesang Widodo atau Kaesang Jokowi," ujar Gibran.

Ia mengaku selalu dituntut untuk membangun eksistensi dirinya sendiri. Bisnis yang ia rintis maupun yang dirintis adiknya bisa besar dan sukses bukan karena menggunakan embel-embel nama besar Jokowi. Bila kemudian publik mengenalnya sebagai putra Jokowi, hal itu dianggapnya hanya sebagai bonus.

"Kami dituntut untuk menanggung nama sendiri, saya sebagai Gibran. Kalau nanti secara bisnis atau politik tetap kebawa nama Bapak, ya rezeki. Tapi, kita selalu menonjolkan nama sendiri-sendiri, bukan nama orangtua," katanya. (H-1)

Berita Terkini

Read More

Poling

Tingkat kelulusan calon pegawai negeri sipil dalam tes seleksi kompetensi dasar kurang dari 10% atau sekitar 128.236 yang memenuhi ambang batas. Padahal, jumlah peserta yang diperlukan lolos ke tahap seleksi kompetensi bidang (SKB) adalah tiga kali dari jumlah formasi yang dibuka. Karena itu, pemerintah berencana mengurangi nilai ambang batas dan menurunkan 10 poin nilai untuk tes intelegensia umum. Setujukah Anda dengan rencana pemerintah itu?





Berita Populer

Read More