Menuju Kesetaraan Gender Asahan

Penulis: Hilda Julaika Pada: Minggu, 09 Des 2018, 00:40 WIB Weekend
Menuju Kesetaraan Gender Asahan

DOK PRIBADI

LAHIR dan tumbuh di daerah yang memberi keterbatasan bagi anak perempuan, memacu Budi Santoso memperjuangkan kesetaraan gender. Apalagi ia melihat banyak anak perempuan di Asahan, Sumatra Utara, dinikahkan pada usia 17 tahun. Mereka seharusnya berkesempatan belajar dan mengembangkan diri.
Muda berkesempatan berbincang dengan Budi tentang upayanya mengangkat kesetaraan gender di Jakarta, pada Rabu (12/12). Berikut petikan wawancaranya.

Mengapa tergerak membentuk komunitas Cerdas Anak Perempuan Indonesia?
Tergerak karena pengalaman pribadi saya. Saya hidup di isu perkawinan anak usia dini. Misalnya, sepupu dan teman-teman saya menikah diusia 17 dan 18 tahun. Tidak hanya anak perempuan, tetapi juga anak laki-laki. Saya berpikir seharusnya mereka bisa belajar dan bermain. Bukan mengurus anak.
Saya akhirnya belajar mengenai permasalahan ini. Ternyata permasalahan ini banyak, tidak hanya psikis, tetapi juga dampak ekonomi dan kemungkinan kekerasan.

Akhirnya, saya mulai sosialisasi kepada anak-anak bermodalkan pengalaman saya mengikuti program Sehari Menjadi Menteri.  
Saya pun memberanikan diri membentuk organisasi dan sosialisasi kecil-kecilan ke sekolah-sekolah yang terindikasi banyak perkawinan usia anak. Saya memberikan pandangan sederhana, seperti jangan dulu menikah di usia dini atau jangan pacaran yang berlebihan dan tidak sehat. Awalnya mereka merasa tabu membahas isu ini, bahkan saya sempat di-judge sebagai orang yang feminin. Selain itu, kami pun membuka forum mentoring kepada remaja. Sekarang kami sudah jalan dan telah mencapai tahun kedua. Sudah sekitar 500 anak yang kami bimbing.

Apa program di komunitas ini?
Di daerah saya tidak ada organisasi yang mengapasitasi pergerakan sosial, jadi saya yang pertama. Program pertama kami ‘Silahan’ atau silaturahmi anak Asahan. Kami mengumpulkan sekitar 160 anak Asahan untuk berdiskusi bersama dan memperkenalkan isu (perkawinan anak).

Ternyata mereka tidak menyadari itu ialah permasalahan. Indikator keberhasilan bila mereka sadar permasalah dan mencari solusi pencegahannya. Sederhana tapi hal yang urgen di daerah saya.

Setelah itu, kami mengadvokasi kepada pemerintah. Awalnya ditolak karena dianggap tidak tahu apa-apa. Padahal kami peduli.
Program terbaru ialah Rumah Caper. Setelah sempat berpindah-pindah, akhirnya orangtua saya menghibahkan rumah di samping rumah utama mereka untuk menjadi pusat peradaban dan pemberdayaan anak muda. Salah satu bimbingan kami, Fatiyya berhasil menjadi perwakilan Sumatra Utara di Forum Anak Nasional sekaligus satu-satunya di Indonesia Ketua Forum Anak dari perempuan.  
Salah satu programnya berupa pemberdayaan ekonomi bagi anak yang putus sekolah. Mereka diberi modal untuk kreatif secara ekonomi yang mendorong penundaan pernikahan.

Bagaimana pembagian pembimbingan?
Kalau untuk anak tingkat sekolah dasar (SD), kita isunya halus, seperti isu perokok anak dan sentuhan. Baik sentuhan nakal pada diri anak atau pelecehan anak.
Kalau SMP dan SMA mulai ke ranah advokasi dan menyiapkan mereka menjadi pelopor. Isunya kita tambah dan beberapa isu prioritas, seperti perkawinan usia anak, kejahatan seksual, narkoba, dan anak berhadap­an dengan hukum.

Apa dampak program ini terhadap anak Asahan?
Dahulu mereka terkungkung di kenakalan remaja. Sekarang mulai menyadari mereka harus menyelesaikan masalah lingkungan mereka. Jadi, yang dulunya nol, sekarang sudah 500 anak sadar isu itu, dan siap menjadi pelopor juga pelapor.

Sebagai pemenang penghargaan inovator muda dari Konsorsium SDG, kamu mendapatkan ilmu apa?
Capacity building dan grand. Jadi, ini sebagai modal kami memperluas kebermanfaatan di Asahan. Kami pun diberikan modal dalam bentuk uang untuk kegiatan kami. Sebelumnya, tanpa ada modal uang pun, kegiatan kami tetap jalan. Modal ini akan digunakan untuk kegiatan agar lebih sustain.

Apa yang kamu rasakan setelah menjalani program itu?
Saya hidup di dalam isu sosial ini. Saya masih ingat kata-kata dari guru saya, beliau mengatakan sebaik-baiknya orang ialah yang paling bermanfaat untuk orang lain. Dari situ saya merasa itu bentuk pukulan bagi saya. Karena tidak ada indikator bagi usia, asalkan kamu manusia, kamu harus memberikan manfaat.
Melalui hal itu, ketika saya menemukan masalah yang dekat dengan diri saya, saya mulai tergerak. Ini kesempatan saya menjadi manusia bermanfaat. Saya sangat merasakan kebahagiaan, bahkan ketika saya tidak produktif itu saya merasakan kesedihan. Saya harus terus mencari dan mencari lagi untuk terus bermanfaat bagi orang lain.

Skill apa yang dibutuhkan sebagai inovator sepertimu?
Yang dibutuhkan ialah skill berempati terhadap permasalahan yang ada. Kemudian, skill atau kemampuan berkomunikasi mengenai bagaimana kita bisa memberikan penga­ruh kepada orang lain. Jadi, kemampuan bersilat lidah inilah yang bisa membuat orang lain berubah. Sejauh ini, itu yang sangat saya rasakan pengaruhnya.

Saya orangnya berani melawan keadaan. Saya sempat ingin bersekolah SMP dan SMA ke kota, saya dilarang orangtua. Sementara itu, jarak dari rumah saya menuju kota sekitar 25 kilometer (km). Waktu itu, saya dilarang dan diminta bersekolah di desa saja karena budayanya seperti itu. Namun, saya berani menolak. Akhirnya, saya daftar sendiri dan mandiri. Lalu, saya pun lolos dan orangtua akhirnya luluh mendukung. Jadi, dari kecil saya selalu dididik secara mandiri. Sekarang saya diharuskan selalu kuat dan mandiri dalam menjalani hidup baik secara psikis maupun fisik.

Bagaimana memastikan program yang kamu bangun bisa terus bertahan dan berkelanjutan?
Sebenarnya sederhana, kalau kita sudah berhasil mencetak pelopor dan regenerasi, kemungkinan terus berkelanjutan lebih pasti. Program yang saya canangkan ialah mencetak generasi-generasi yang akan meneruskan. Apa­lagi, program ini sesuai sustainable development goals (SDGs). Saya yakin program terkait dengan penyetaraan anak perempuan untuk kesetaraan gender ini, memberikan perspektif baru terhadap anak-anak dan pada 2030 kita yang akan menjadi orang dewasa dan orangtua. Akhirnya, mereka tidak akan memetakan peran laki-laki dan perempuan. Mereka pun pasti tidak akan menikahkan anak mereka di usia anak lagi. (M-3)

Berita Terkini

Read More

Poling

Tingkat kelulusan calon pegawai negeri sipil dalam tes seleksi kompetensi dasar kurang dari 10% atau sekitar 128.236 yang memenuhi ambang batas. Padahal, jumlah peserta yang diperlukan lolos ke tahap seleksi kompetensi bidang (SKB) adalah tiga kali dari jumlah formasi yang dibuka. Karena itu, pemerintah berencana mengurangi nilai ambang batas dan menurunkan 10 poin nilai untuk tes intelegensia umum. Setujukah Anda dengan rencana pemerintah itu?





Berita Populer

Read More