Tantangan Dalang bukan soal Regenerasi

Penulis: FR/M-4 Pada: Sabtu, 08 Des 2018, 23:15 WIB Weekend
Tantangan Dalang bukan soal Regenerasi

DOK. MI/DWI APRIANI

BADAN Pendidikan dan Kebudayaan PBB, UNESCO telah menetapkan wayang sebagai warisan budaya dunia yang tidak ternilai dalam seni bertutur (masterpiece of oral and intangible heritage of humanity) pada 7 November 2003. Pengakuan dunia pada seni tradisi Indonesia yang banyak berkembang di Jawa itu tentu sangat menggembirakan. Namun, di balik itu tersirat sebuah tanggung jawab besar, bagaimana agar warisan dunia tersebut terjaga keberlangsungannya.

Dalang senior, Ki Manteb Soedharsono menggarisbawahi tantangan di balik pengakuan UNESCO itu. Menurutnya, tantangan terbesar saat ini bukanlah regenerasi, tetapi mempertahankan eksistensi.

Manteb melihat antusiasme generasi muda untuk menekuni dunia pedalangan sangat tinggi. Itu terlihat dari semakin banyaknya bermunculan dalang muda, remaja, dan profesional.

“Saya tidak khawatir soal regenerasi. Men­cetak dalang itu mudah, dalam satu tahun saya bisa mencetak tiga dalang. Tapi, pertanyaannya siapa yang mau nanggap?” katanya, di sela-sela perhelatan Hari Wayang Dunia 2018 di kampus Institut Seni Indonesia Surakarta, Jawa Tengah, Selasa (6/11).

Walaupun belajar ilmu pedalangan itu bisa memberikan manfaat yang banyak selain mendalang, tetapi tidak dimungkiri generasi muda sekarang belajar mendalang tujuannya ingin laku. Nanti kalau sudah laku ingin laris. Kalau sudah laris, pertanyaan selanjutnya ialah apakah si dalang kuat untuk melanjutkan. Bagaimana dia menjaga supaya masyarakat tidak bosan.

Agar bisa menjawab tantangan itu, lanjut Manteb, dalang harus cerdas. Mereka harus tanggap situasi dan kondisi negara yang terus berkembang sehingga materi yang disampaikan akan lebih kaya muatan.

Selain itu, dalang juga dituntut inovatif, sehingga tidak terkesan monoton saat menyajikan pertunjukkan. Manteb tidak mempersoalkan terobosan-terobosan yang keluar dari pakem, yang penting lakon wayang dikuasai secara utuh.
Ki Manteb yang telah mendalang sejak berusia 15 tahun, telah melakukan itu. Salah satu inovasinya ialah memasukkan kilas balik dari sosok wayang yang sedang dimainkan.

Misalnya, Gatot Kaca yang sakti mandraguna, otot kawat tulang besi, setelah dimasukkan ke kawah Candradimuka. Ada apa di kawah Candradimuka itu, ini yang digali dan diceritakan dalam kilas balik, supaya penonton paham. “Kalau hanya menyampaikan seperti zaman si mbah dahulu, ya bubar. Mungkin masih laku, tapi hanya di bawah rumpun bambu,” kata Ki Manteb sembari tertawa.

Berita Terkini

Read More

Poling

Tingkat kelulusan calon pegawai negeri sipil dalam tes seleksi kompetensi dasar kurang dari 10% atau sekitar 128.236 yang memenuhi ambang batas. Padahal, jumlah peserta yang diperlukan lolos ke tahap seleksi kompetensi bidang (SKB) adalah tiga kali dari jumlah formasi yang dibuka. Karena itu, pemerintah berencana mengurangi nilai ambang batas dan menurunkan 10 poin nilai untuk tes intelegensia umum. Setujukah Anda dengan rencana pemerintah itu?





Berita Populer

Read More