Ayu Kartika Dewi, Urgensi Intoleransi Harus Disudahi

Penulis: Rizky Noor Alam Pada: Sabtu, 08 Des 2018, 22:30 WIB Humaniora
Ayu Kartika Dewi, Urgensi Intoleransi Harus Disudahi

MI/Susanto

BAGINYA  benih-benih buruk sangka tersebut harus segera disudahi agar kehidupan dapat berjalan normal seperti sedia­kala sebelum konflik memecah belah mereka. Hal tersebutlah yang kemudian menginspirasi dirinya bersama teman-temannya untuk membuat sebuah prog­ram bernama Sabang Merauke sebuah program pendidikan pertukaran pelajar antardaerah yang bertujuan untuk menanamkan nilai-nilai toleransi, pendidikan, dan keindonesiaan.

Lalu, bagaimana pandangan Ayu terkait dengan kondisi toleransi, kebinekaan, dan isu-isu perdamaian di Indonesia saat ini? Berikut petikan wawancara Media Indonesia, Senin (3/12).

Sebagai orang yang berke­cim­pung pada isu-isu toleransi dan kebinekaan, bagaimana Anda melihat kondisi Indonesia saat ini?
Kalau saya sekarang merasa Indonesia sedang darurat intole­ransi, jadi misalnya yang terjadi di Whatsapp Group sekarang sudah menjadi semacam entitas sosial bukan hanya sekadar grup chat jadi semacam organisasi sosial jadi kalau ada yang keluar dari Whatsapp Group pasti diomongin. Ini ialah salah satu contoh sederhana yang membuat saya yakin bahwa Indonesia sedang darurat intoleransi.

Kemudian, kalau kita berbicara soal toleransi kan bicara soal perbedaan dan itu tidak masalah, kita mau beda suku, agama, pilihan politik itu sebenarnya ialah hal yang biasa yang salah, kemudian kita memperlakukan orang lain dengan tidak baik ketika kita ada perbedaan. Yang saya lihat ialah orang semakin tidak santai dalam menghadapi perbedaan, gagap, dan semakin tidak tahu caranya menghadapi perbedaan, semakin keras, dan semakin galak terhadap orang yang berbeda.

Dari amatan Anda, sejak kapan benih-benih intoleran­si tersebut berkembang di Indonesia?

Banyak orang berpendapat bahwa hal itu terjadi sejak Pemilu 2014 dan diperparah dengan kasus Ahok. Bagaimana menurut Anda?
Saya tidak punya data sejak kapan bibit-bibit intoleransi itu muncul. Tapi jauh sebelum terjadi seperti pilkada atau misalnya pilpres yang kemudian semakin panas, sebenarnya tahun 1998 itu sebuah kejadian di mana wujud mengerikan dari sebuah intoleransi salah satunya adalah peristiwa 1998, saat itu masyarakat bisa dibakar, bisa dibuat benci, bisa dibuat marah, membunuh, memperkosa mereka yang berbeda dan ini menyeramkan apa pun di balik itu siapa pun yang menggerakan. Hal ini artinya kohesi sosial kita belum cukup kuat dan masih bisa diutak-atik dan ini menakutkan.

Mengapa Anda tertarik dengan isu-isu toleransi dan kebinekaan? bagaimana awal Anda merintis Sabang Merauke?
Salah satu hal yang saya percayai bahwa dalam hidup itu kita harus punya keberanian untuk melakukan apa yang bisa dilakukan. Saya pernah jadi guru SD di Maluku Utara dan jadi guru SD-nya itu kira-kira 11 tahun setelah kerusuhan di sana selesai, tapi saya masih melihat bahwa bekas-bekas kerusuh­an itu masih ada, orang hidupnya masih tersekat-sekat ada desa Islam atau desa Kristen dan masih banyak prasangka satu sama lain. Setelah itu saya kembali ke Jakarta dan berdiskusi dengan teman-teman untuk melakukan sesuatu.

Ada teman dekat saya yang bilang kalau kita mau cari tujuan hidup kita itu maka cari tahu 2 hal, yaitu apa yang kita cintai atau cari apa yang buat kita marah. Kalau kita tahu apa yang kita cintai, kita akan melakukan sesuatu untuk hal atau orang yang kita cintai dan kalau kita tahu yang buat kita marah, kita akan melakukan perubahan atau menghentikan apa yang membuat kita marah, jadi saya membuat Sabang Merauke itu karena saya marah dengan intoleransi dan marah melihat anak kecil yang seharusnya masih murni tanpa prasangka tapi bisa punya kebencian sama orang yang beda agama, jadi harus ada yang dilakukan.

Selama Anda mengajar dari 2010-2011 di daerah pasca konflik seperti Maluku Utara, tantangan apa yang kerap Anda alami untuk mengubah mindset masyarakat di sana terkait dengan toleransi?
Mengubah mindset anak-anak itu jauh lebih gampang, apalagi anak-anak belum pernah mengalami konflik dan anak-anak biasanya jauh lebih murni pikirannya dan prasangka-prasangka jauh lebih sedikit. Jadi pelan-pelan dan kadang-kadang kita memanfaatkan anak-anaknya sebagai duta perdamaian dengan cerita kepada orangtuanya.

Lalu terkait dengan Sabang Merauke, sekarang sudah berapa anak yang ikut prog­ram pertukaran pelajar antardaerah tersebut dan kriterianya apa saja?
Kalau kita yang ikut partisipasi ada adiknya jadi anak-anak SMP, kemudian ada kakaknya anak SMA, kemudian kakak mahasiswa yang jadi pendamping dan keluarganya. Sekarang sudah berjalan 6 tahun dan total sudah 400-an orang lebih, kalau relawan sudah ribuan. Jadi, sudah banyak sekali yang terlibat dan membaca ceritanya karena kita juga berkolaborasi dengan beberapa content creator untuk membuat video dan disebar ke banyak orang, kemudian kita juga barusan mencetak buku anak, yang terinspirasi dari cerita anak Sabang Merauke.

Bagaimana feedback selama 6 tahun program Sabang Me­rau­ke itu berjalan seperti apa? Pengalaman apa saja yang paling berkesan selama ini?
Banyak sekali, feedback-nya itu hampir selalu positif karena yang namanya perjumpaan itu tidak bisa bohong. Orang yang berprasangka kemudian dipertemukan itu hampir pasti tembok prasangkanya runtuh. Jadi ceritanya itu selalu berakhir dengan “ternyata...”, ternyata mereka tidak sejahat yang dibanyangkan, ternyata orang Kristen tidak jahat seperti yang dibayangkan, ternyata orang Islam tidak semengerikan yang dibayangkan, pokonya begitu banyak ternyata.

Isu-isu primordial belakang memang menguat bahkan tidak hanya di Indonesia, bahkan di beberapa negara lainnya. Bagaimana Anda melihat hal tersebut?
Menurut saya ini adalah kondisi yang menyedihkan tapi saya tidak kaget. Kenapa? banyak sekali di sekolah kita tidak mengajarkan anak-anak berpikir kritis. Kemudian hal lain adalah soal empati, kalau dulu belajar empati kan di pelajaran PPKN dan salah satu contoh yang sering disebut adalah membantu nenek menyeberang jalan, sedangkan itu adalah contoh yang sangat langka yang tidak membumi yang jarang dilihat di kehidupan sehari-sehari padahal contoh yang sederhana adalah bagaimana menghadapi bullying yang merupakan contoh yang terjadi sehari-hari, jadi wajar kalau misalnya ada hoaks, persekusi, bullying si orang-orang baiknya ini diam karena mereka tidak tahu apa yang harus diperbuat.

Bagaimana pendapat Anda soal fenomena anak-anak SD yang ikut mengafirkan temannya? Lalu bagaimana Anda melihat survei bahwa pelajar SMA di Indonesia banyak yang setuju dengan tindakan radikal?
Orang baik kurang berisik, orang baik itu banyak, banyak yang sedih melihat anak SD mengafirkan temannya ataupun anak-anak SMA yang meng­iyakan kekerasan boleh dilakukan bagi mereka yang berbeda agama, banyak yang sedih tapi kurang berisik, kita tidak buat konten positif di media sosial atau tidak mengajari hal itu ke orang lain, atau kita kurang mengajari berpikir kritis dan empati ke anak, jadi kita kurang berisik saja, we have to do something.

Bagaimana evaluasi prog­ram edukasi toleransi dan kebinekaan yang Anda buat sekarang?
Evaluasi Sabang Merauke selama ini selalu positif karena perjumpaan itu tidak bisa bohong, orang kalau sudah berjumpa maka dinding-dinding prasangka itu runtuh jadi penting sekali untuk bisa berjumpa. Kita selalu melihat anak-anak ini berubah dan kita berharap berubahnya bertahan jangka panjang dan dapat mengubah teman-temannya dengan menceritakan apa yang mereka alami dan harapannya makin banyak orang untuk bergerak melakukan sesuatu, evaluasinya selalu positif.

Bagaimana peran ideal pemerintah untuk kembali memupuk nilai-nilai toleransi dan kebinekaan?
Ada beberapa hal, pertama revolusi pendidikan di Indonesia menurut saya pendidikan kita itu banyak sekali menyuapi dan guru-guru juga disuapin, guru-guru tidak merdeka belajar kalau istilahnya Najeela Shihab, guru-guru dipaksa ikut training bukan ikut pelatihan yang dia suka sehingga saat dia mengajar juga menyalurkan keterpaksaannya kepada anak-anak dan akhirnya anak-anak belajar dengan keterpaksaan. Kemudian, proses berpikir kritis juga tidak diajarkan secara serius di sekolah.

Yang kedua adalah empati, sering sekali kita mengajarkan empati dengan contoh-contoh yang tidak membumi. Kemudian harus lebih banyak kebijakan untuk memperbanyak ruang-ruang perjumpaan dan ruang perjumpaan tersebut harus nyata, seharusnya ruang perjumpaan itu efektif untuk membangun kohesi sosial seperti klub fotografi bareng terlepas dari etnik dan agamanya apa, buat nonton bareng, atau diajak masak bareng.

Apa aksi-aksi nyata yang dapat dilakukan orangtua dan masyarakat untuk merawat toleransi dan kebinekaan?
Semua orang punya tanggung jawab untuk mendidik anaknya, muridnya, orang di sekitar kita, jadi yang harus dilakukan kita tidak boleh diam saja ketika misalnya harus melakukan sesuatu apa pun itu untuk mendidik. Kemudian proses-proses mengajarkan critical thinking, mengajar anak berempati dan melatih berempati itu harus dilakukan sering dan mulai hal sederhana, misalnya bagaimana memperlakukan binatang dengan baik, ucapkan terima kasih, membereskan meja setelah makan di restoran, ini kan hal-hal sederhana yang bisa diajarkan ke anak. (M-4)

 

Berita Terkini

Read More

Poling

Tingkat kelulusan calon pegawai negeri sipil dalam tes seleksi kompetensi dasar kurang dari 10% atau sekitar 128.236 yang memenuhi ambang batas. Padahal, jumlah peserta yang diperlukan lolos ke tahap seleksi kompetensi bidang (SKB) adalah tiga kali dari jumlah formasi yang dibuka. Karena itu, pemerintah berencana mengurangi nilai ambang batas dan menurunkan 10 poin nilai untuk tes intelegensia umum. Setujukah Anda dengan rencana pemerintah itu?





Berita Populer

Read More