MA Terapkan PTSP Sebagai Strategi Antisuap

Penulis: Antara Pada: Jumat, 07 Des 2018, 20:21 WIB Politik dan Hukum
MA Terapkan PTSP Sebagai Strategi Antisuap

MI/Susanto

MAHKAMAH Agung (MA) menerapkan manajemen antisuap melalui kebijakan satu pintu dalam setiap peradilan.

"Sekarang sedang digalakkan, kebijakan bahwa di setiap peradilan selenggarakan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PTSP) agar semua aparatur tidak bisa berkomunikasi langsung dengan pencari keadilan," kata Kepala Biro Hukum dan Hubungan Masyarakat MA Abdullah di Gedung MA Jakarta, hari ini.

Melalui manajemen ini, kata Abdullah, masyarakat hanya bisa dilayani di luar PTSP tersebut. "Untuk akreditasi, apabila masih ada aparatur yang berkomunikasi dengan pencari keadilan, pengadilan tersebut tidak akan mendapatkan akreditasi," kata Abdullah.

Kebijakan PTSP ini dilakukan oleh KY sejak pencanangan zona integritas oleh Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (Kemenpan-RB) dengan melakukan survei ke berbagai pengadilan di Indonesia.

"Ada beberapa pengadilan yang sudah memenuhi syarat sebagai wilayah bebas korupsi dan birokrasi yang bersih dalam melayani," kata Abdullah.

Sebagai contoh, Abdullah menyebutkan bahwa Pengadilan Tinggi Jakarta dan Pengadilan Tinggi Bandung sebagai pengadilan yang sudah memenuhi syarat sebagai pengadilan bebas wilayah korupsi dan birokrasi bersih.

"Manajemen ini dilakukan karena MA tidak memberikan toleransi kepada aparaturnya yang terlibat korupsi," kata Abdullah.

Lebih lanjut Abdullah mengatakan bahwa MA mengutuk keras tindak pidana korupsi apalagi bila hal tersebut dilakukan oleh aparat penegak hukum di dalam lingkungan MA.

"Hal ini tidak saja jatuhkan citra dan wibawa MA, tetapi juga merusak citra bagsa dan negara Indonesia di mata dunia," pungkas Abdullah. (OL-4)

Berita Terkini

Read More

Poling

Pemungutan suara Pemilu Presiden dan Wapres (Pilpres) 2019 telah terlaksana. Saat ini, penghitungan manual masih berlangsung oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU). Perhitungan berjalan paralel dengan real count berbasis teknologi informasi (TI) oleh KPU. Hanya saja, terjadi beberapa kesalahan dalam input data dalam proses real count. Bagaimana menurut Anda seharusnya sikap KPU?





Berita Populer

Read More