Tjahjo: Kemajemukan Bisa Menjadikan Kehidupan Penuh Toleransi

Penulis: Rahmatul Fajri Pada: Jumat, 07 Des 2018, 19:39 WIB Politik dan Hukum
Tjahjo: Kemajemukan Bisa Menjadikan Kehidupan Penuh Toleransi

MI/Susanto

MENTERI Dalam Negeri Tjahjo Kumolo mengatakan kota paling toleran di Indonesia hasil riset SETARA Institut, Singkawang menjadi cerminan kemajemukan etnis dan agama yang membawa pada kehidupan yang toleran.

"Singkawang saja lah misalnya yang etnisnya keturunan 20%, tapi yang menjadi wali kota keturunan juga. Artinya lihat kepala daerah dari prestasinya, dari sisi dedikasi , dari sisi loyalitas dipilih bukan agama atau golongannya apa. Buktinya Singkawang menjadi kota paling toleran," kata Tjahjo ketika menghadiri acara Indeks Kota Toleran di Indonesia di Ashley Hotel, Jakarta, Jumat (7/12).

Ia mengatakan kemajemukan seringkali dicederai dengan gelaran kontestasi Pilkada. Selama itu, Tjahjo mengatakan rentan terjadi perselisihan.

Baca juga: Singkawang Didapuk Jadi Kota Paling Toleran

"Event lima tahun sekali jangan sampe memecah belah aja. Bayangkan waktu kemarin sesama tetangga bisa ga kompak, apalagi bawa masalah etnis, agama, dan golongan. Menyedihkan sekali," kata Tjahjo.

Ia mengatakan kemajemukan harus dijaga, karena justru dengan Bhineka Tunggal Ika itulah yang kemudian membawa kemerdekaan kepada bangsa Indonesia hingga saat ini.

Sebelumnya, dalam indek kota paling toleran di Indonesia menurut SETARA Institut, Kota Singkawang menempati urutan pertama. Dalam pemaparannya, SETARA Institut menilai Singkawang mendapatkan nilai tertinggi dalam variabel yang dijadikan sebagai aspek penilaian, yakni regulasi pemerintah kota, tindakan pejabat terkait, regulasi sosial, demografi agama, dan isu gender.

Adapun peringkat 2 hingga 10 berturut-turut ditempati Salatiga, Pematang Siantar, Manado, Ambon, Bekasi, Kupang, Tomohon, Binjai, dan Surabaya. (OL-4)

Berita Terkini

Read More

Poling

Tingkat kelulusan calon pegawai negeri sipil dalam tes seleksi kompetensi dasar kurang dari 10% atau sekitar 128.236 yang memenuhi ambang batas. Padahal, jumlah peserta yang diperlukan lolos ke tahap seleksi kompetensi bidang (SKB) adalah tiga kali dari jumlah formasi yang dibuka. Karena itu, pemerintah berencana mengurangi nilai ambang batas dan menurunkan 10 poin nilai untuk tes intelegensia umum. Setujukah Anda dengan rencana pemerintah itu?





Berita Populer

Read More