Hanya 23% Perusahaan Taat Kelola Lingkungan

Penulis: Bayu Anggoro Pada: Jumat, 07 Des 2018, 05:20 WIB Humaniora
Hanya 23% Perusahaan Taat Kelola Lingkungan

. MI/RAMDANI

HINGGA kini baru 437 perusahaan yang memenuhi unsur ketaatan pengelolaan lingkungan atau sekitar 23% dari 1.903 perusahaan multinasional. Perusahaan berpredikat hijau emas tersebut diminta membina perusahaan lain di sekitarnya agar taat terhadap baku mutu pengelolaan lingkungan.

"Baru 437 perusahaan multinasional yang telah melakukan efisiensi energi, konservasi air, hayati, pengurangan limbah B3 (bahan berbahaya dan beracun)," kata Dirjen Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) Karliansyah dalam seminar Kontribusi Dunia Usaha dalam mencapai SDGs di Indonesia yang digelar KLHK di Universitas Padjadjaran (Unpad) Bandung, kemarin.

Dalam acara yang dihadiri sejumlah perwakilan industri berskala besar ia mengatakan, predikat hijau emas seperti yang disandang 437 perusahaan itu bisa diperoleh bila perusahaan memenuhi standar baku mutu pengelolaan lingkungan dalam operasionalnya. Standar tersebut diawasi dan dievaluasi ketat oleh pemerintah pusat dan daerah.

Ia meminta 437 perusahaan besar yang telah memenuhi standar tersebut menjadi rujukan bagi perusahaan-perusahaan kecil agar taat dalam pengelolaan lingkungan. "Perusahaan yang hadir di sini kami minta sebagai pembina perusahaan di sekitarnya, perusahaan yang hijau emas itu rujukan mereka (perusahaan yang belum memenuhi standar pengelolaan lingkungan). Enggak usah jauh-jauh, perusahaan lain bisa belajar (dari perusahaan hijau emas)," katanya.

Sementara itu, kepada perusahaan yang masih berpredikat merah, pemerintah memberi kesempatan untuk segera memenuhi indikator-indikator baku mutu. "Merah itu perusahaan-perusahaan yang sudah berusaha memenuhi baku mutu, tapi belum mencapai. Jadi, merah dalam satu bulan di satu titik (berarti) ada parameter yang enggak bisa mereka penuhi," ujarnya.

Ia juga menyebutkan, 437 perusahaan berpredikat hijau emas kinerjanya berhasil menginternalisasi tujuan pembangunan berkelanjutan (sustainable development goals/SDGs) dalam pengelolaan lingkungan hidup (Proper).

Dunia usaha, ujarnya, dapat berkontribusi lebih dengan menginternalisasikan SDGs ke dalam peta jalan perencanaan dan program perusahaan agar dapat mendukung dan berkolaborasi dalam pencapaian target SDGs nasional.

DAS Citarum

Pada kesempatan itu, Karliansyah mengungkapkan, hampir seluruh perusahaan yang berada di sepanjang Daerah Aliran Sungai (DAS) Citarum belum mengolah limbah dengan baik. Hal tersebut terlihat dari tidak adanya satu pun industri di kawasan tersebut yang menerima penilaian hijau dalam Proper yang dilakukan KLHK.

Menurutnya, hingga saat ini belum ada perusahaan di sekitar DAS Citarum yang memperoleh penilaian hijau. Dengan begitu, kinerja perusahaan masih buruk dalam mengelola lingkungan hidup, yang salah satunya menyangkut limbah. "Belum ada di bantaran Citarum perusahaan yang hijau," tegasnya.

Selama ini, lanjutnya, KLHK selalu membina dan mengevaluasi ratusan industri di kawasan itu. Di wilayah Bandung tercatat ada 187 perusahaan dan di Kota Cimahi sekitar 200 perusahaan.

Ia meminta industri di sepanjang Citarum segera meningkatkan pengolahan limbah agar tidak berdampak negatif terhadap lingkungan. (Ant/H-1)

Berita Terkini

Read More

Poling

Tingkat kelulusan calon pegawai negeri sipil dalam tes seleksi kompetensi dasar kurang dari 10% atau sekitar 128.236 yang memenuhi ambang batas. Padahal, jumlah peserta yang diperlukan lolos ke tahap seleksi kompetensi bidang (SKB) adalah tiga kali dari jumlah formasi yang dibuka. Karena itu, pemerintah berencana mengurangi nilai ambang batas dan menurunkan 10 poin nilai untuk tes intelegensia umum. Setujukah Anda dengan rencana pemerintah itu?





Berita Populer

Read More