Ditemukan Buruknya Penggunakan Bahasa Indonesia di Lomba Kritik Film

Penulis: Retno Hemawati Pada: Jumat, 07 Des 2018, 07:00 WIB Weekend
Ditemukan Buruknya Penggunakan Bahasa Indonesia di Lomba Kritik Film

Ilustrasi

PERFILMAN Indonesia berkembang setelah film Kuldesak yang disutradarai oleh Mira Lesmana, Riri Riza, Rizal Mantovani, dan Nan Achnas dirilis pada 1998. Seiring perkembangan film,  muncul Kritik film. Tanpa kritik film,  tidak ada penimbang kualitas sebuah film.

"Jadi, kritik bisa membuat kreatornya berinteraksi dengan pengkritik dan penonton filmnya. Seperti sayur tanpa garam. Tanpa kritik, film menjadi hambar," demikian dikatakan John de Rantau, selaku sutradara, ihwal gelaran Lomba Kritik Film dan Artikel Film 2018, saat tapping Studio 7 TVRI, Jakarta,  Kamis (6/12) malam.

John de Rantau yang juga merangkap sebagai anggota dewan juri Kritik Film, bersama Wina Armada, Bre Redana, Remy Sylado, Dr. Maman Wijaya, Dr. Ekky Imanjaya, akhirnya memutuskan Ary Saptaji sebagai pemenang kategori Kritik Film. Dengan tulisan berjudul Surat Terbuka Untuk Marlina di film Marlina Si Pembunuh dalam Empat Babak, Ari mengalahkan 147 dari peserta dalam kategori ini.

Ketua Dewan Juri Kritik Film Wina Armada mengatakan, ada kesalahan mendasar pada hampir semua peserta kategori Kritik Film. Yaitu penggunaan bahasa Indonesia yang masih buruk. Serta terlalu banyaknya penggunaan bahasa asing, yang tidak pada tempatnya. "Lebih banyak yang menulis dengan menggunakan gaya bahasa milenial, tanpa pemahaman bahasa Indonesia yang memadai," kata Wina.

Sedangkan untuk kategori Artikel Film, Dewan Juri Artikel Film 2018, yang beranggotakan Ilham Bintang (Ketua), Benny Benke (Sekretaris), Lola Amaria, Yan Wijaya, Dimas Supriyanto, Sanggupri dan Doddy Budiatma, memilih nama Achmad Muchtar sebagai pemenang. Dengan tulisan berjudul Marlina Si Pembunuh Dalam Empat Babak: Perempuan Menolak Kalah, Muchtar menyisihkan 47 pesaingnya.

Dewan Juri Artikel Film mencatat terdapat kesalahan mendasar pada hampir seluruh artikel  peserta lomba. Pertama, terdapat kelemahan  yang sangat mengganggu pada penggunaan bahasa Indonesia yang belum mencapai taraf yang baik dan benar.

Kedua, terjadi inkonsistensi pilihan topik artikel dengan pembahasannya. Ketiga, terlihat  kemalasan penulis untuk mengupdate  (memperbarui) bahan dan data  untuk menguatkan argumentasi analisisnya.

Dukungan data yang kurang memadai, untuk tidak mengatakan amat lemah mewarnai hampir semua artikel. Keempat, naskah peserta didominasi kutipan-kutipan berbagai nara sumber yang terkadang kurang relevan dengan topik bahasan.

Terlepas maupun terkait dengan kelemahan peserta Lomba Kritik Film dan Artikel Film 2018,  Dr.  Maman Wijaya, selaku Kepala Pusbangfilm Kemendikbud RI, mengatakan peserta lomba Kritik Film dan Artikel Film 2018 membludak, dibandingkan gelaran serupa tahun lalu

"Terkumpul 148 naskah kategori Kritik film dan 48 naskah Artikel Perfilman dari 65 film yang berbeda,  yang beredar selama setahun ke belakang," katanya.

Dia menambahkan,  dari sisi kajian, kritiknya beragam. Tidak sekedar menyalin ulang. Tapi juga memberikan masukan kepada pembuatnya. "Hal ini sejalan dengan program Pusbangfilm Kemendikbud untuk turut memajukan Kritik film di Indonesia," kata Maman Wijaya. (RO/M-4)

Berita Terkini

Read More

Poling

Tingkat kelulusan calon pegawai negeri sipil dalam tes seleksi kompetensi dasar kurang dari 10% atau sekitar 128.236 yang memenuhi ambang batas. Padahal, jumlah peserta yang diperlukan lolos ke tahap seleksi kompetensi bidang (SKB) adalah tiga kali dari jumlah formasi yang dibuka. Karena itu, pemerintah berencana mengurangi nilai ambang batas dan menurunkan 10 poin nilai untuk tes intelegensia umum. Setujukah Anda dengan rencana pemerintah itu?





Berita Populer

Read More