OPEC Kerek Harga Trump kian Jengkel

Penulis: Denny Parsaulian Sinaga Pada: Jumat, 07 Des 2018, 04:45 WIB Internasional
OPEC Kerek Harga Trump kian Jengkel

(Photo by JOE KLAMAR / AFP)

NEGARA-NEGARA anggota organisasi pengekspor minyak dunia atau OPEC dan negara penghasil minyak lainnya berkumpul di Wina, Austria, kemarin. Mereka membahas pengurangan produksi untuk menopang harga.

Di sisi lain, Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump justru mendesak OPEC agar tetap menjaga keran minyak mereka tetap terbuka.

Sejak Rabu (5/12), para menteri perminyakan dari lebih 20 negara berseliweran di ibu kota Austria untuk melakukan negosiasi awal menjelang pertemuan puncak selama dua hari di markas OPEC.

Namun, para delegasi tetap membisu tentang apa yang telah disepakati mereka dalam rapat-rapat tertutup yang digelar di sejumlah hotel paling eksklusif di Wina.

Demikian pula saat Trump me-lontarkan desakan lewat Twitter supaya negara-negara produsen minyak itu terus memompa untuk memastikan harga komoditas tersebut tetap terjangkau, mereka tetap bungkam.

"Mudah-mudahan OPEC akan menjaga aliran minyak seperti apa adanya, tidak dibatasi. Dunia tidak ingin melihat atau membutuhkan harga minyak yang lebih tinggi!" kata Trump.

Sebagai informasi, dahulu Trump berulang kali menuduh sepak terjang kelompok kartel mempertahankan harga minyak agar tetap tinggi.

Di akhir 2016, anggota OPEC bergabung dengan negara-negara lain di luar kartel untuk meninjau kembali output mereka sebagai upaya untuk mengurangi pasokan sehingga melambungkan harga minyak saat itu. Langkah terkoordinasi tersebut kemudian diperpanjang hingga mendorong kenaikan harga minyak sampai Oktober 2018.

Akan tetapi, dalam dua bulan terakhir, harga minyak anjlok kembali. Saat ini, satu barel minyak mentah Brent, patokan Eropa, harganya berada di kisaran US$60.

Kerek harga

Untuk mengangkat kembali harga minyak dunia digelarlah pertemuan OPEC+, yaitu gabungan negara-negara anggota OPEC dengan negara-negara penghasil minyak lainnya. OPEC+ diklaim menyumbang lebih dari separuh minyak dunia.

Mereka datang ke Wina untuk membahas dan memperbarui fakta yang ada saat ini guna menghambat anjloknya harga minyak. Menurut informasi, semua sinyal menunjukkan bahwa pembahasan lebih condong pada pengurangan output meski ada tekanan dari Trump.

Menurut Trump, penutupan keran produksi minyak dapat menghambat ekonomi yang membutuhkan harga minyak yang terjangkau agar dapat terus beraktivitas.

"Ya, kami akan melakukan pemotongan. Kami akan punya waktu untuk menyelesaikan rinciannya," kata Menteri Perminyakan Oman, Mohammed bin Hamad Al Rumhi.

Senada, perwakilan Nigeria juga menyarankan agar pengurangan output harus dilakukan. Namun, produsen terbesar ketiga OPEC, Iran, justru menyerukan sebaliknya.

Mereka meminta agar dibebaskan dari tindakan semacam itu. Menteri Perminyakan Iran Bijan Namdar Zanganeh saat tiba di Wina pada Rabu malam menegaskan agar negaranya tidak diikutsertakan dalam pengambilan keputusan memangkas produksi selama sanksi AS terhadap negara itu tidak dicabut.

Posisi sulit juga dihadapi pemimpin OPEC, yaitu Arab Saudi. Akibat kasus pembunuhan wartawan pengkritik kerajaan Arab Saudi, Jamal Khashoggi, mereka merasa terpojokkan.

Di sisi lain, Arab Saudi yang mendukung harga minyak yang lebih tinggi tertarik untuk tidak menimbulkan kemarahan pemimpin AS.

Pasalnya, dalam kasus pembunuh-an Khashoggi, Trump cenderung membela Putra Mahkota Kerajaan Arab Saudi Mohammed bin Salman yang dituding terlibat dalam peristiwa itu. (AFP/I-2)

Berita Terkini

Read More

Poling

Tingkat kelulusan calon pegawai negeri sipil dalam tes seleksi kompetensi dasar kurang dari 10% atau sekitar 128.236 yang memenuhi ambang batas. Padahal, jumlah peserta yang diperlukan lolos ke tahap seleksi kompetensi bidang (SKB) adalah tiga kali dari jumlah formasi yang dibuka. Karena itu, pemerintah berencana mengurangi nilai ambang batas dan menurunkan 10 poin nilai untuk tes intelegensia umum. Setujukah Anda dengan rencana pemerintah itu?





Berita Populer

Read More