ASEAN Tingkatkan Kerja Sama Perubahan Iklim

Penulis: Indrastuti Laporan dari Katowice,Polandia Pada: Kamis, 06 Des 2018, 07:30 WIB Internasional
ASEAN Tingkatkan Kerja Sama Perubahan Iklim

ANTARA/PRASETYO UTOMO
KERTAS HARAPAN: Pengunjung membaca tempelan kertas harapan di Paviliun Indonesia dalam ajang Konferensi Perubahan Iklim ke-24 di Katowice, Polandia, Selasa (4/12). Selain menjadi tempat untuk mengakses informasi upaya Indonesia dalam mitigasi dan adaptasi

NEGARA-NEGARA ASEAN (ASEAN Member State/AMS) yang tergabung dalam ASEAN Working Group on Climate Change (AWGCCC) sepakat untuk memperkuat kerja sama dan memperluas kolaborasi menghadapi kompleksitas masalah yang diakibatkan perubahan iklim.

Kesepakatan itu mengemuka dalam talkshow bertemakan ASEAN nationally determined contribution (NDC) partnership yang digelar di Paviliun Indonesia dalam Konferensi Perubahan Iklim PBB (COP 24) di Katowice, Polandia, Selasa (4/12). Talkshow diikuti oleh negara-negara ASEAN yang ikut meratifikasi Paris Agreement.

"Implementasi Paris Agreement memerlukan basis ilmiah yang kuat sekaligus dapat meningkatkan capacity building, khususnya negara berkembang. Di sini terbuka kesempatan untuk mendorong kerja sama antar-AMS," jelas Penasihat Senior Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) sekaligus National Focal Point Indonesia Nur Maspriatin yang menjadi keynote speaker talkshow.

Emisi gas ASEAN meningkat tajam menjadikannya sangat terpengaruh atas efek pemanasan global karena kondisi geografis setiap negara. Ancaman banjir, kekeringan, badai, serta siklon tropis meningkat seiring dengan perubahan iklim meskipun AMS bukan sumber utama emisi.

"Selain itu, wilayah ASEAN rentan cuaca ekstrem dan kenaikan permukaan air laut. Myanmar, Filipina, Thailand, dan Vietnam ialah 4 dari 10 negara yang paling terdampak hal ini," ujarnya.

Nur juga mendorong AMS untuk memperluas kolaborasi yang ada untuk mencapai tujuan jangka panjang Paris Agreement dan tujuan pembangunan setiap negara ASEAN. "Kita harus berkolaborasi karena apa yang kita punya dapat digunakan untuk mendorong usaha untuk menghadapi perubahan cuaca. Kita saling terkait dan membutuhkan."

Di sela-sela acara COP 24 kemarin, Menteri LHK Siti Nurbaya mengunjungi Wieliczka Salt Mine, bekas tambang garam di Krakow, Polandia, yang kini menjadi destinasi wisata. Kunjungan ini melihat bagaimana pengelolaan lokasi bekas tambang yang bertransformasi menjadi destinasi wisata sehingga dapat diterapkan di bekas tambang mineral di Indonesia. (X-10)

Berita Terkini

Read More

Poling

Tingkat kelulusan calon pegawai negeri sipil dalam tes seleksi kompetensi dasar kurang dari 10% atau sekitar 128.236 yang memenuhi ambang batas. Padahal, jumlah peserta yang diperlukan lolos ke tahap seleksi kompetensi bidang (SKB) adalah tiga kali dari jumlah formasi yang dibuka. Karena itu, pemerintah berencana mengurangi nilai ambang batas dan menurunkan 10 poin nilai untuk tes intelegensia umum. Setujukah Anda dengan rencana pemerintah itu?





Berita Populer

Read More