Pemilih Milenial dan Pemilu 2019

Penulis: Arya Fernandes Peneliti Departemen Politik dan Perubahan Sosial, CSIS Pada: Kamis, 06 Des 2018, 02:15 WIB Opini
Pemilih Milenial dan Pemilu 2019

MI/seno

PENINGKATAN jumlah pemilih kelompok milenial pada Pemilu Nasional 2019 menyebabkan studi tentang perilaku dan karakteristik pemilih milenial menjadi relevan dan strategis.

Bonus demografi pemilih milenial terjadi beriringan dengan meningkatnya akses pemilih terhadap internet dan media sosial. Dua hal itu akan memengaruhi konfigurasi politik dan pergerakan dukungan pemilih kepada capres dan partai dalam pemilu mendatang.

Persepsi terkait dengan pemilih milenial sering kali mengabaikan faktor demografi, seperti karakteristik wilayah desa-kota, tempat tinggal (Jawa dan luar Jawa), serta jenis kelamin. Kadang kala, pembacaan terkait dengan milenial juga cenderung bias perkotaan dan bias kelas menengah. Kesalahan dalam melihat milenial itu akan berpengaruh pada kekeliruan dalam merumuskan strategi dan advokasi terhadap pemilih.

Survei nasional Centre for Strategic and International Studies (CSIS) pada 2017 dan 2018, menunjukkan terdapat perbedaan karakteristik, sikap, dan perilaku milenial berdasarkan karakteristik wilayah tempat tinggal.

Karateristik wilayah itu dibedakan antara milenial yang tinggal di perdesaan dan perkotaan. Perbedaan tempat tinggal itu memengaruhi pandangan, sikap, dan perilaku politik mereka. Faktor jenis kelamin serta Jawa dan luar Jawa juga memengaruhi perbedaan cara pandang milenial.

Setidaknya ada beberapa hal yang dapat membedakan karakteristik milenial perdesaan dan perkotaan, di antaranya keterlibatan dan aktivitas politik, ekspresi politik di media sosial, kepercayaan kepada lembaga politik, sikap terhadap karakter capres, dan optimisme terhadap pemerintahan.

Keterlibatan politik
Secara umum, keterlibatan milenial dalam kegiatan-kegiatan politik, baik secara offline maupun online masih rendah. Rendahnya keterlibatan politik itu terjadi karena milenial tidak mempunyai ikatan psikologis yang kuat kepada capres atau parpol tertentu. Kegiatan politik juga bukan kegiatan utama yang disukai milenial.

Dalam dua tahun terakhir, kegiatan olahraga paling diminati kelompok milenial, yakni di angka 30% (2017) dan 29% pada 2018. Sementara itu, keterlibatan dalam kegiatan politik di bawah 3%.

Rendahnya kepercayaan milenial kepada parpol dan DPR sebagai lembaga yang menjadi sumber utama aktivitas politik publik juga menyumbang rendahnya minat milenial terhadap aktivitas politik. Secara umum, dari 12 lembaga publik yang diuji, ketidakpercayaan tertinggi berada pada parpol dan DPR. Sementara itu, kepercayaan tertinggi pada presiden.

Bila diambil rata-rata dari 12 lembaga, kepercayaan milenial di perdesaan lebih tinggi kepada lembaga publik jika dibandingkan dengan milenial di perkotaan. Sebesar 79,4% milenial di perdesaan percaya kepada lembaga publik dan 73,6% milenial di perkotaan.

Dari sisi medium, kelompok milenial lebih tertarik mengekspresikan sikap politiknya di media sosial jika dibandingkan dengan di dunia nyata. Hal itu terlihat dari rendahnya keinginan milenial dalam menghadiri kegiatan kampanye atau menjadi sukarelawan politik atau menggunakan atribut kampanye jika dibandingkan dengan aktivitas politik milenial di media sosial.

Antara milenial perdesaan dan perkotaan, keterlibatan milenial perkotaan dalam aktivisme politik lebih tinggi jika dibandingkan dengan milenial di perdesaan. Keterlibatan itu tampak dari tingginya aktivitas milenial perkotaan relawan capres/parpol atau menjadi anggota parpol jika dibandingkan dengan milenial perdesaan.

Ekspresi politik
Studi CSIS menemukan karakter milenial sebagai kelompok pemilih yang independen secara politik dan memiliki kecenderungan tidak bersedia diasosiasikan menjadi bagian dari tim capres atau parpol tertentu.

Dari tiga aspek yang diuji, rata-rata hanya sebesar 8,3% milenial yang pernah menunjukkan secara terbuka pilihan dan sikap politiknya. Angka itu berasal tiga aspek yang diuji, yaitu frekuensi mem-posting berita tentang capres/partai tertentu, frekuensi menulis pendapat/opini tentang capres/partai, dan frekuensi mem-forward video atau infografik. Dari sisi kota dan desa, milenial kota lebih tinggi mengartikulasikan posisi politiknya jika dibandingkan dengan milenial desa.

Data survei CSIS juga menunjukkan bahwa milenial kota lebih aktif mengekspresikan sikap dan pilihan politiknya jika dibandingkan dengan milenial desa. Milenial perkotaan juga lebih terbuka menunjukkan dukungan politiknya di media sosial jika dibandingkan dengan milenial perdesaan. Kecenderungan lainnya ialah milenial perkotaan lebih aktif menjadi kader parpol jika dibandingkan dengan perdesaan.

Faktor demografi lainnya yang membedakan milenial ialah pendidikan, pendapatan, pekerjaan, dan jenis kelamin. Dari sisi pendidikan dan pendapatan, milenial di perkotaan lebih baik jika dibandingkan dengan milenial perdesaan.

Dari sisi pekerjaan, milenial kota lebih banyak bekerja di sektor white collar (pegawai dan profesional). Sementara itu, milenial perdesaan di sektor blue collar (buruh, petani, dan nelayan). Selain itu, milenial laki-laki juga lebih tertarik mengikuti kegiatan politik jika dibandingkan dengan milenial perempuan.

Akses media sosial
Selain lingkungan, pandangan, sikap, dan perilaku politik, milenial juga dipengaruhi atau dibentuk dari perilaku dalam mengakses internet dan media sosial. Dalam dua tahun terakhir, akses milenial kepada internet dan media sosial mengalami peningkatan.

Akses pada platform media sosial, seperti Facebook, Instragram, Youtube, dan Whatsapp juga mengalami peningkatan. Akses kepada Facebook misalnya, mengalami kenaikan dari 81% pada 2017 menjadi 93% pada 2018. Begitu juga akses kepada Instagram dari 54% (2017) menjadi 67% (2018) dan Youtube dari 43% ke 56,3%.

Perbedaan akses internet dan media sosial ialah salah satu penjelasan mengapa milenial di perkotaan lebih aktif secara politik jika dibandingkan dengan milenial perdesaan. Sebesar 75,7% milenial di perkotaan pada 2018 mengakses media sosial setiap hari dan hanya 56,5% dari milenial perdesaan yang mengakses setiap hari. Dari sisi kepemilikan media sosial, 92,7% di perkotaan memiliki akun media sosial dan hanya 83,5% di perdesaan.

Narasi politik
Strategi capres dan partai dalam merangkul pemilih milenial tidak mudah. Milenial secara umum tidak memiliki keinginan kuat terlibat dalam kegiatan politik dan secara psikologis berjarak dengan capres dan parpol.

Sikap apolitis milenial itu membuat tidak mudah bagi capres dan parpol untuk menggaet suara pemilih milenial. Calon dan partai harus menyajikan sebuah narasi soal pentingnya peran politik dalam proses pembuatan kebijakan dan kepentingan kolektif publik. Calon dan partai juga harus mampu memberikan perhatian pada program pemberantasan korupsi, inovasi politik, dan optimisme sebagai tiga hal yang disukai milenial.

 

 

 

 

Berita Terkini

Read More

Poling

Tingkat kelulusan calon pegawai negeri sipil dalam tes seleksi kompetensi dasar kurang dari 10% atau sekitar 128.236 yang memenuhi ambang batas. Padahal, jumlah peserta yang diperlukan lolos ke tahap seleksi kompetensi bidang (SKB) adalah tiga kali dari jumlah formasi yang dibuka. Karena itu, pemerintah berencana mengurangi nilai ambang batas dan menurunkan 10 poin nilai untuk tes intelegensia umum. Setujukah Anda dengan rencana pemerintah itu?





Berita Populer

Read More