Melawan Hoaks dengan Sastra dan Humor, Bisakah?

Penulis: Hilda Julaika Pada: Rabu, 05 Des 2018, 19:05 WIB Weekend
Melawan Hoaks dengan Sastra dan Humor, Bisakah?

Thinkstock

HOAKS terus menjadi fenomena yang menakutkan dan berbahaya. Di India, seorang pemuda dibunuh karena hoaks, sementara di dalam negeri persatuan kita juga mulai terancam karena hoaks.

Namun bukan berarti hoaks sulit dilawan. Berbagai pihak juga terus mengkampanyekan perlawanan hoaks, termasuk kalangan dunia sastra. Ini pula yang terpapar dari diskusi bertajuk “Hancur Lebur karena Hoaks, Melawan dengan Sastra & Humor”, di Teater Kecil, Taman Ismail Marzuki, jakarta, Selasa, (4/12).

Sejumlah sastrawan dan jurnalis di antaranya, UU Suhardi, A.S Laksana, dan Linda Christanty membahas perlawanan hoaks dengan dua ranah itu. Bagi A.S Laksana sastra akan kalah bila disandingkan dengan hoaks karena penyebaran hoaks yang sangat militan dan terorganisir. Namun, baginya ada cara lain untuk membuat perjuangan melawan hoaks melalui sastra ini menjadi realistis. Sastra perlu diimbangi dengan pengetahuan ilmiah yang dimiliki publik.

Dalam pandangan A.S Laksana, perlu untuk mempelajari pengetahuan mengenai bagaimana menguasasi sastra sebagai sebuah alat perlawanan.  “Saya rasa peran sastra perlu, kalau kita benar-benar serius memikirkan sastra sebagai alat perlawanan. Siapa pendukung gerakan ini, dan dalam situasi seperti apa karya tersebut mendapat tempat di hati publik. Kalau tidak, hanya menjadi dua kemungkinan, simplistik atau hanya berupa teriakan yang parau saja,” papar A.S Laksana.

Sementara itu, Linda Christanty menjelaskan bahwa hoaks memiliki banyak macam, di antaranya, hoaks untuk memicu perang urat syaraf,  ada juga jenis hoaks yang merupakan perlawanan arus bawah terhadap narasi yang ada pada media arus utama, kemudian ada juga hoaks dalam dunia jurnalisme yang terjadi di wilayah-wilayah yang wartawan sulit untuk mengakses narasumbernya.

Linda yang seorang jurnalis juga memaparkan apabila seorang jurnalis itu memiliki figur jurnalis yang baik, maka Ia akan menulis berita yang sesuai dengan fakta di lapangan. Tidak akan memasuki hal-hal yang sifatnya masih asumsi. Dalam jurnalisme kebenaran sifatnya tidak mutlak. Ketika kita melakukan peliputan dan telah mempublikasikan tulisan kita. Namun seiring berjalannya waktu, kita melakukan wawancara dengan narasumber yang baru dan dinilai kredibel beserta riset lainnya yang dilakukan. Lantas kita menemukan fakta baru, maka kita bisa melakukan verifikasi atas tulisan kita sebelumnya.

“Dalam jurnalisme kebenaran tidak mutlak dan tidak betul-betul 100% dalam sehari itu memang seperti faktanya,” tukas Linda.

Hoaks sebagai sebuah alat perlawanan, geliatnya akan terus berpotensi bergerak di masyarakat. Bagi A.S Laksana, hoaks akan muncul terus-menerus tak peduli bagaimana respon yang ada. Namun, ketika kita mampu memiliki kerangka berpikir ilmiah termasuk pada hoaks yang memiliki niat baik sekali pun maka dampak dan resikonya akan mampu diminalisir. (M-1)

Berita Terkini

Read More

Poling

Tingkat kelulusan calon pegawai negeri sipil dalam tes seleksi kompetensi dasar kurang dari 10% atau sekitar 128.236 yang memenuhi ambang batas. Padahal, jumlah peserta yang diperlukan lolos ke tahap seleksi kompetensi bidang (SKB) adalah tiga kali dari jumlah formasi yang dibuka. Karena itu, pemerintah berencana mengurangi nilai ambang batas dan menurunkan 10 poin nilai untuk tes intelegensia umum. Setujukah Anda dengan rencana pemerintah itu?





Berita Populer

Read More