Menjadi Guru 5.0 untuk Siapkan Generasi Pelita Masa Depan

Penulis: Dedy Setyo Afrianto Kepala SMAIT Nurul Fikri Boarding School Bogor Konsultan e-learning di Pusdiklat Kementerian ESDM Instruktur Nasional TIK Kemendikbud RI Pada: Selasa, 27 Nov 2018, 06:00 WIB Opini
Menjadi Guru 5.0 untuk Siapkan Generasi Pelita Masa Depan

MI/Seno

DAN Brown, penulis novel Origin, bercerita tentang kemajuan teknologi hebat di masa depan, komputer dengan kecerdasan buatan (artificial intelligence) telah mampu membuat novel sendiri. Ternyata tak hanya berada di cerita fiksi, peneliti dari Future University di Hakodate, Jepang, itu pun pada 2016 berhasil membuktikan bahwa hal ini bukan isapan jempol semata.

Hasilnya ialah sebuah novel berjudul Konpyuta ga Shousetsu wo Kaku Hi berhasil ditulis oleh komputer. Di tempat lainnya, Scorpion, tayangan serial fiksi yang diinisiasi oleh Walter O’Brien, pernah menyajikan tentang hebatnya komputer di masa depan yang bisa menggambar selevel dengan skill Da Vinci. Tak hanya di dunia fiksi semata, Google pada April 2017 pun berhasil mengembangkan teknologi AI yang memungkinkan komputer menggambar sketch sendiri.  Tampaknya tak seberapa lama, khayalan Walter O’Brien itu sepertinya mewujud dalam dunia nyata.

Dua kisah itu untuk memberikan ilustrasi bahwa impian manusia untuk kemajuan yang berkelanjutan terus-menerus mencapai level tertingginya. Fase revolusi industri yang sudah mencapai 4.0 ini pun sudah berada di depan kita, pergeseran dunia yang semakin cepat dan lincah ini membuat siapa pun terus-menerus bergerak dan berinovasi jika tak ingin tersisih.

Dunia pendidikan juga menemui tantangannya sendiri. Menurut Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi per Maret 2018 angka pengangguran lulusan perguruan tinggi kita masih mencapai 630 ribu orang. Angka itu menyumbang 8,8% dari 7 juta pe­ngangguran di Indonesia. Angka itu membuat kita miris sehingga harus menata ulang pendidikan kita.


Tantangan abad 22

National Academy for Enginee­ring (USA), seperti disampaikan Prof Musthak Al Atabi dalam Think Like An Engineer, mengidentifikasi setidaknya ada 14 tantangan besar yang dihadapi manusia pada abad 22 mendatang. Dua isu utama yang muncul ialah penyediaan energi dan akses air bersih.

Hal itu tentu saja tidak akan mudah dihadapi, jika pendidikan sebagai salah satu pilar peradaban hari ini belum bertemu dengan titik optimalnya. Kemudian, faktor sentral yang menjadi ujung tombak kualitas pendidikan ialah guru. Guru-guru terbaiklah yang akan membuat kualitas pendidikan lebih maju.

Jika pendidikan telah maju, kapasitas bangsa ini akan terus-menerus menuju garis terdepan sehingga tak lebih dan tak kurang, guru menjadi salah satu pilar penting dalam kemajuan peradaban melalui jalur pendidikan.

Menghadapi era revolusi industri 4.0 dan masa depan yang tidak sederhana ini, kita butuh kapasitas guru yang bisa melangkah lebih jauh ke depan sekaligus menjawab berbagai tantangan. Pertama, intellectual curiosity. Judy Gilbert (Direktur Talent Google) ketika ditanya prasayarat apa yang dibutuhkan Google ketika merekrut SDM-nya, Gilbert menjawab, “Tentu saja kami merekrut orang dengan skill terbaik, memiliki kemampuan coding yang oke. Namun, di luar itu semua, kami butuh SDM yang bisa melihat masalah, kemudian menyelesaikannya.

Alih-alih menunggu orang lain untuk menyelesaikan masalah itu, orang ini berusaha dengan kemampuan terbaiknya, menggunakan sumber daya yang dimilikinya untuk menyelesaikan problem tersebut”. Inilah yang dimaksud kemampuan intellectual curiosity.

Di masa depan, tantangan dan problem menjadi lebih variatif, kemampuan ini menjadi sangat penting untuk menjawab realitas kehidupan yang semakin kompleks.

Kedua, berpikir kritis, memecahkan masalah dan kolaborasi. Tony Wagner merumuskan tujuh skill penting untuk bisa survive di masa depan. Tiga di antaranya ialah berpikir kritis, memecahkan masalah, dan kolaborasi. Tiga skill itu dianggap penting untuk menghadapi krisis dunia di masa depan.

 
Guru dengan kemampuan itu, akan melibatkan siswa untuk ikut andil melihat problem, serta memecahkan masalah dengan kolaboratif sehingga dengannya, siswa akan dididik memandang lebih utuh bahwa setiap problem akan bisa diatasi dengan kerja sama dengan banyak pihak.

Ketiga, teladan kebaikan. Inilah skill yang tidak bisa diwakilkan oleh teknologi apa pun. Skill itu (walau lebih dekat kepada karakter) menjadi pembeda antara guru dan hanya sebagai penyampai informasi.     

Teknologi dengan berbagai pendekatannya yang menyenangkan akan dengan sangat mudah menghanguskan peran guru di masa depan, sekali lagi jika peran guru hanya sebagai penyampai pengetahuan. Namun, jika sebagai teladan, peran guru akan senantiasa sangat vital dan tak akan lekang oleh waktu.

Hal itu menjadi catatan penting untuk berbenah terus-menerus di masa kini dan nanti. Peran-peran keteladanan dalam kebaikan inilah fungsi vital sejatinya guru, baik di kelas maupun di luar kelas.

Jika teladan ini ada pada setiap guru, tak akan susah para siswa menemukan sosok inspiratif di sekitarnya. Karena kebaikan itu menular, semakin banyak mentor kebaikan, akan semakin banyak pula agen kebaikan.

Semoga hari guru tahun ini, menjadi momentum yang baik untuk terus-menerus menjadi teladan kebaikan. Pengawal moral dan lini terdepan dalam kemajuan bangsa. Teruslah menjadi lentera yang menyinari dunia.

Berita Terkini

Read More

Poling

Tingkat kelulusan calon pegawai negeri sipil dalam tes seleksi kompetensi dasar kurang dari 10% atau sekitar 128.236 yang memenuhi ambang batas. Padahal, jumlah peserta yang diperlukan lolos ke tahap seleksi kompetensi bidang (SKB) adalah tiga kali dari jumlah formasi yang dibuka. Karena itu, pemerintah berencana mengurangi nilai ambang batas dan menurunkan 10 poin nilai untuk tes intelegensia umum. Setujukah Anda dengan rencana pemerintah itu?





Berita Populer

Read More