Sempat Diburu, Kini Dugong Lebih Diperhatikan

Penulis: Kumara Anggita Pada: Rabu, 21 Nov 2018, 13:23 WIB Humaniora
Sempat Diburu, Kini Dugong Lebih Diperhatikan

AFP

PEMBURUAN terhadap dugong banyak dilakukan oleh masyarakat di beberapa daerah lantaran mitos yang berkembang mengatakan air mata dugong bisa dijadikan pelet atau ramuan pengasih.

Waringin Barat dan Tolitoli merupakan daerah yang masyarakatnya banyak memburu dugong, namun kini kegiatan tersebut sudah berubah. Warga sudah lebih peduli dengan pelestarian ikan yang kerap juga disebut duyung.

Fungsional Ahli Madya Pengelola Ekosistem Pesisir dan Laut, Syamsul Bahrulubis, mengatakan pemburuan dugong kini sudah berkurang. Apalagi dengan dibentuknya Dugong and Seagrass Conservation Project (DSCP) yang memberikan sosialisasi serta saran alternatif mata pencaharian agar kedua makhluk laut itu tetap lestari.

“Pemburuan sudah berkurang di Waringi barat dan toli-toli, bahkan ada dari mereka yang mengembalikan duyung yang terdampar agar kembali ke laut,” ujar Syamsul di gedung Mina Bahari II KKP, Jakarta, Rabu (21/11).

Baca Juga:

GEF Beri Dana Hibah Untuk Pelestarian Dugong dan Lamun

Alternatif mata pencaharian juga diberikan agar warga tidak terlalu fokus berburu dugong, tetapi melakukan usaha lain yang bisa meningkatkan penghasilan warga.

Saat ini, sudah ada empat lokasi proyek pengembangan, yakni Provinsi Kepri, Kalteng, Sulteng, dan NTT. Seperti di Alor dengan pengembangan wisata, lalu ada juga budi daya spirulina, serta pengembangan sambal khadi di Tolitoli.

Syamsul menambahkan konservasi ini selain untuk menjaga kelestarian dugong dan lamun, ke depannya bisa menjadi keuntungan untuk Badan Usaha Milik Desa (BUMDES)

“Saat ini, kegiatan yang dibuat di empat lokasi proyek potensial sudah selesai, benefitnya untuk keberlanjutan badan usaha milik desa,” lanjut Syamsul.(OL-5)

Berita Terkini

Read More

Poling

Tingkat kelulusan calon pegawai negeri sipil dalam tes seleksi kompetensi dasar kurang dari 10% atau sekitar 128.236 yang memenuhi ambang batas. Padahal, jumlah peserta yang diperlukan lolos ke tahap seleksi kompetensi bidang (SKB) adalah tiga kali dari jumlah formasi yang dibuka. Karena itu, pemerintah berencana mengurangi nilai ambang batas dan menurunkan 10 poin nilai untuk tes intelegensia umum. Setujukah Anda dengan rencana pemerintah itu?





Berita Populer

Read More