Persepsi Masyarakat tentang SKM Perlu Diluruskan

Penulis: (Dhk/H-2) Pada: Rabu, 21 Nov 2018, 08:20 WIB Kesehatan
Persepsi Masyarakat tentang SKM Perlu Diluruskan

ANTARA FOTO/Yulius Satria Wijaya/

PRODUK susu kental manis (SKM) memiliki kandungan protein yang rendah dan tinggi gula. Oleh sebab itu, ditinjau dari aspek gizi, SKM bukanlah susu. Sosialisasi tentang hal itu kepada masyarakat perlu digencarkan.

Hal itu mengemuka dalam diskusi publik yang digelar Koalisi Perlindungan Kesehatan Masyarakat (Kopmas) di Gedung LBH Jakarta, pekan lalu. Turut hadir perwakilan dari Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) dan Kementerian Kesehatan.

"Rata-rata produk SKM bukanlah susu karena kandungan proteinnya amat sedikit. Sebagian bahkan hanya 2% kandungan proteinnya. Jadi, ini tidak masuk kategori susu," kata dokter spesialis anak dari IDAI, Damayanti Rusli Sjarif.

Badan Pengawas Obat dan Makanan (POM) sebelumnya telah mengeluarkan Peraturan Kepala Badan POM No 31 Tahun 2018 tentang Label Pangan Olahan. Di dalamnya terdapat pasal yang mengatur produk SKM.

Salah satunya mengenai larangan pernyataan/visualisasi yang menggambarkan produk susu kental dan analognya disajikan sebagai hidangan tunggal berupa minuman susu dan sebagai satu-satunya sumber gizi. Larangan lainnya ialah pernyataan/visualisasi yang menampilkan anak di bawah usia lima tahun pada label.

Menurut Damayanti, label pada produk kental manis yang saat ini beredar masih tidak konsisten dan misleading. "Di bagian depan sudah memakai nama 'kental manis', tapi di bagian belakang anjuran pakainya masih untuk minuman seperti susu. Kalau di luar negeri jelas anjuran pakainya untuk pelengkap sajian," jelasnya.

Dia menambahkan, penggunaan SKM untuk konsumsi harian berisiko bagi kesehatan. Risiko mengonsumsi gula terlalu banyak dalam jangka panjang menyebabkan diabetes.

Ketua Kopmas Arif Hidayat menyatakan, langkah Badan POM menerbitkan kebijakan tersebut seharusnya menjadi langkah awal bagi edukasi kesehatan masyarakat. Menurutnya, hal itu bisa terwujud dengan kesadaran penuh dari produsen untuk segera menaati peraturan dan tidak lagi mempromosikan produk kental manis sebagai minuman susu.

"Selama berpuluh tahun, persepsi masyarakat terlanjur terbentuk oleh iklan yang menggambarkan SKM sebagai susu. Produsen harus dengan tegas mengatakan bahwa produknya hanya dapat digunakan untuk bahan tambahan dalam makanan. Jika regulasi sudah ada, namun produsen masih berpromosi seperti seperti biasa, edukasi pola hidup sehat untuk masyarakat tidak akan optimal. Hasil riset kesehatan dasar terbaru, jelas penyakit tidak menular termasuk diabetes meningkat," ujarnya.

Kasubdit Peningkatan Mutu dan Kecukupan Gizi Kementerian Kesehatan, Galopong Sianturi, menegaskan pihaknya memandang SKM bukan produk susu.

"Itu salah besar iklan yang menggambarkan SKM sebagai minuman tunggal dikocok air," ucapnya.

Berita Terkini

Read More

Poling

Tingkat kelulusan calon pegawai negeri sipil dalam tes seleksi kompetensi dasar kurang dari 10% atau sekitar 128.236 yang memenuhi ambang batas. Padahal, jumlah peserta yang diperlukan lolos ke tahap seleksi kompetensi bidang (SKB) adalah tiga kali dari jumlah formasi yang dibuka. Karena itu, pemerintah berencana mengurangi nilai ambang batas dan menurunkan 10 poin nilai untuk tes intelegensia umum. Setujukah Anda dengan rencana pemerintah itu?





Berita Populer

Read More