Taufik Lagi Taufik Lagi

Penulis: (Nic/J-3) Pada: Senin, 19 Nov 2018, 03:00 WIB Megapolitan
Taufik Lagi Taufik Lagi

MI/MOHAMAD IRFAN

PADA 27 Agustus, Sandiaga Uno meletakkan jabatannya sebagai Wakil Gubernur DKI Jakarta. Pertengahan September, Partai Keadilan Sejahtera menyambutnya dengan mengumumkan dua nama untuk menggantikan posisi Sandi. Mereka ialah Agung Yulianto dan Ahmad Syaikhu.

Genderang yang disuarakan PKS itu lama tidak bersambut. Partai Gerindra rekan koalisi mereka tidak juga membunyikan tetabuhan untuk mengikuti irama PKS.

Pasang gas kencang tidak akan menyerahkan posisi wakil gubernur begitu saja ke PKS, Ketua DPD Partai Gerindra DKI Jakarta Mohamad Taufik akhirnya melemah. Bosnya, Ketua Umum Gerindra, Prabowo Subianto, sudah memutuskan kursi untuk PKS.

Namun, Gerindra belum melepas ekor. Calon wagub disyaratkan harus melalui tes kepatutan dan kelayakan.

PKS tunduk. Pada 12 November lalu, mereka mengajukan dua nama sebagai anggota tim penguji. Mereka ialah Ketua Fraksi Partai PKS DPRD DKI Jakarta Abdurrahman Suhaimi dan Ketua DPW PKS DKI Syakir Purnomo.

Dua hari kemudian Gerindra juga mengajukan Wakil Ketua DPD Gerindra Jakarta Syarif dan pakar politik dari LIPI Siti Zuhro. Kehadiran Siti Zuhro diyakini mampu menelurkan calon Wakil Gubernur DKI yang berkualitas.

Lagi-lagi, Taufik berulah. Ia meminta PKS menambah jumlah bakal calon wagub yang diusulkan untuk ikut proses uji kelayakan dan kepatutan.

Tapak tangga yang dibuat Gerindra itu membuat Abdurahman Suhaimi kesal. Ditemui akhir pekan lalu, ia menilai sikap Gerindra terkesan mengulur waktu.

"Kami berharap dan saya juga sudah sampaikan, fit and proper test itu seharusnya tidak ada. Hanya karena Gerindra mengatakan itu adalah mekanisme partai, maka kami menghormatinya. Hanya saja, ya jangan ini untuk mengulur-ulur waktu," tegasnya.

Suhaimi mengingatkan tarik-ulur proses pemilihan Wagub DKI juga merugikan bagi Gerindra sendiri, khususnya kepada Ketua Partai Gerindra DKI Jakarta Mohamad Taufik.

"Semakin ada kesan itu dipersulit dan diulur-ulur itu dampaknya semakin negatif pada Gerindra. Semakin diulur-ulur, masyarakat semakin tidak percaya pada Pak Taufik," desak Suhaimi.

Sejak awal, ujarnya, PKS telah menunjuk dua orang untuk menjadi calon wagub DKI, yakni Ahmad Syaikhu dan Agung Yulianto. Tidak ada kesepakatan kedua partai untuk menambah jumlah bakal calon.

"Yang disepakati, kursi wagub untuk PKS. Selain itu, ada proses fit and proper test untuk calon wagub," paparnya.

Dalam Pemilihan Gubernur DKI Jakarta, Gerindra berkoalisi dengan PKS mengusung Anies Baswedan-Sandiaga Uno. Pasangan ini mampu menyisihkan pasangan petahana Basuki Tjahaja Purnama dan Djarot Saiful.

Koalisi kembali terbentuk saat mereka menjagokan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno dalam Pemilihan Presiden 2019. Sandiaga merupakan kader Gerindra.

PKS mengalah tidak menempatkan kadernya dalam koalisi itu. Mereka menjadi pendukung bersama Partai Amanat Nasional dan Partai Demokrat. Posisi Wakil Gubernur DKI, pengganti Sandi pun, diminta PKS. Konon, itu syarat mati untuk kelanggengan koalisi.

Berita Terkini

Read More

Poling

Tingkat kelulusan calon pegawai negeri sipil dalam tes seleksi kompetensi dasar kurang dari 10% atau sekitar 128.236 yang memenuhi ambang batas. Padahal, jumlah peserta yang diperlukan lolos ke tahap seleksi kompetensi bidang (SKB) adalah tiga kali dari jumlah formasi yang dibuka. Karena itu, pemerintah berencana mengurangi nilai ambang batas dan menurunkan 10 poin nilai untuk tes intelegensia umum. Setujukah Anda dengan rencana pemerintah itu?





Berita Populer

Read More