Menjayakan

Penulis: Donny Tjiptonugroho Redaktur Bahasa Media Indonesia Pada: Minggu, 18 Nov 2018, 07:15 WIB Weekend
Menjayakan

MI/ADAM DWI

KONGRES Bahasa Indonesia (KBI) yang berlangsung pada 28-31 Oktober 2018 mengangkat tema Menjayakan bahasa dan sastra Indonesia. Kongres itu diharapkan dapat menjadi wahana untuk pencapaian banyak hal penting yang berkaitan dengan bahasa dan sastra Indonesia.

Di antara hal yang banyak itu, ada keinginan untuk membangkitkan lagi kebanggaan rakyat Indonesia untuk menggunakan bahasa Indonesia dan meningkatkan kedudukan bahasa Indonesia di dunia internasional.

Namun, yang menarik bagi saya ialah kata menjayakan itu. Kata menjayakan yang dibentuk dari kata dasar jaya itu istimewa bagi saya. Yang tersangkut dalam benak saya selama ini ialah kata jaya dan berjaya. Kata jaya lekat karena umum saya temui dipakai sebagai nama perusahaan. Kata berjaya tidak asing karena sering dipakai para pengarang cerita rakyat untuk menceritakan keberhasilan seorang tokoh atau kerajaan di masa lalu. Belakangan kata berjaya seperti ditinggalkan orang Indonesia dan lebih sering muncul di televisi dalam episode-episode film animasi Upin dan Ipin.

Karena itu, kata menjayakan memunculkan hal-hal besar yang bermain dalam benak saya. Makna menjayakan bukan sekadar 'menyebabkan jaya' sebagai tertuang dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia. Kata itu memberi ilustrasi tentang posisi sangat unggul, tahan terpaan ujian, dan kondisi nyaman.

Kalau tidak, bagaimana mungkin orang akan menggunakan kata jaya untuk nama perusahaan mereka?

Masalahnya kondisi bahasa Indonesia di Indonesia sendiri masih beberapa tingkat di bawah kategori jaya. Ada yang beranggapan bahasa Indonesia sedang dalam kondisi tergusur.

Bahasa Indonesia semakin jauh ditinggalkan orang Indonesia karena ada anggapan bahasa Indonesia bukan bahasa unggul dan pantas bersanding dengan bahasa asing lain di dunia internasional. Bahasa Indonesia dinilai tak layak untuk jadi acuan intelektualitas orang. Karena itu, bahasa asing diburu, terutama bahasa Inggris. Bahasa Inggris menjadi simbol status.

Jangan dulu menguasai bahasa Inggris, sekadar sudah memasukkan kata-kata dari negeri Ratu Elizabeth itu dalam percakapan lisan dan tertulis saja sudah merasa di atas rata-rata.

Ketika situasi itu perlu diperbaiki, pemerintah yang seharusnya turun tangan dengan kuasa politik justru seperti tidak banyak membantu. Penggunaan berlebihan istilah asing di ruang publik terasa dibiarkan.

Terkait dengan bahasa Indonesia bagi tenaga kerja asing, Pasal 26 Peraturan Presiden RI Nomor 20 Tahun 2018 menyatakan  setiap pemberi kerja tenaga kerja asing (TKA) wajib memfasilitasi pendidikan dan pelatihan bahasa Indonesia kepada TKA, tetapi tidak ada kewajiban bagi TKA yang bekerja di Indonesia itu bisa atau mengerti bahasa Indonesia.  

Bandingkan dengan Inggris yang justru memiliki peraturan wajib berbahasa Inggris dengan mengikuti ujian standardisasi Inggris IELTS.

Wajar jika ada yang mengatakan bahasa Indonesia memang belum jaya di negeri sendiri meski sudah diajarkan di 45 lembaga pendidikan di luar negeri. Mungkin lebih realistis tema yang diusung bukan Menjayakan bahasa dan sastra Indonesia, melainkan Aksi bela  bahasa Indonesia.

Berita Terkini

Read More

Poling

Tingkat kelulusan calon pegawai negeri sipil dalam tes seleksi kompetensi dasar kurang dari 10% atau sekitar 128.236 yang memenuhi ambang batas. Padahal, jumlah peserta yang diperlukan lolos ke tahap seleksi kompetensi bidang (SKB) adalah tiga kali dari jumlah formasi yang dibuka. Karena itu, pemerintah berencana mengurangi nilai ambang batas dan menurunkan 10 poin nilai untuk tes intelegensia umum. Setujukah Anda dengan rencana pemerintah itu?





Berita Populer

Read More