Isu LGBT Rentan Jadi Alat Propaganda

Penulis: (Pro/P-2) Pada: Jumat, 16 Nov 2018, 10:30 WIB Politik dan Hukum
Isu LGBT Rentan Jadi Alat Propaganda

MI/ADAM DWI

KAUM minoritas menjadi kelompok yang rentan mengalami kekerasan, baik fisik maupun psikis. Khususnya di tahun politik, mereka rentan dijadikan alat propaganda pihak tertentu untuk meraup suara dalam pemilu.

“Kaum minoritas rentan jadi korban di tahun politik yang segela sesuatunya kerap dipolitisasi oleh pihak tidak bertanggung jawab,” ujar staf advokasi Serikat Jurnalis untuk Keberagaman (Sejuk), Rifah Zainani, dalam Workshop Jurnalisme Keberagaman di Tahun Politik, di Jakarta, kemarin.

Ia mengatakan sosialisasi dan eduka­si penting bagi masyarakat, khususnya wartawan, terkait dengan pemberitaan mengenai kaum minoritas di tahun politik, khu­susnya dalam pemberitaan soal kaum lesbian, gay, biseksual, dan transgender (LGBT).

“Media massa penting untuk memberi ruang bagi mereka yang tidak bi­sa bersuara. Media harus bisa meng­advokasi peran kaum minoritas yang terpinggirkan dalam berbagai hal, termasuk dalam hal politik,” paparnya.

Kelompok LGBT menjadi salah satu yang kerap dijadikan unsur pencari sua­ra. Akhirnya mereka kerap menja­di semakin terpojok dan terdiskriminasi.

Aktivis keberagaman dan ahli komunikasi UI, Dina Listiorini, mengatakan perubahan pola pikir dan pandang masyarakat terhadap kaum minoritas harus diubah secara komprehensif. Salah satunya yang berperan penting ialah media. “Framing dan diksi di media yang sering dipilih untuk memberitakan minoritas seperti LGBT masih cenderung diskriminatif,” ujar Dina.

Dia mengatakan edukasi untuk membuat wartawan dapat menghadirkan berita yang tidak menyudutkan minoritas harus terus dilakukan. Begitu juga dengan keredaksian media. “Harus ada sudut pandang yang tidak diskriminatif dan pemilihan narasumber yang beragam dan kapabel agar kita bisa menempatkan mereka pada posisi dan proporsi yang layak,” ujarnya.

Di tahun politik, imbuhnya, setiap bentuk pemberitaan bernada diskriminatif tentang kaum minorias akan sangat besar kemungkinan untuk dipolitisasi pihak tertentu. Untuk itu, media harus memiliki perspektif yang luas untuk memandang masalah yang terkait dengan keberadaan dan kepentingan minoritas.

Hal itu sangat penting untuk diperha­ti­­kan agar kontestasi politik tidak sekadar mencari menang dengan me­­ngor­bankan pihak tertentu seperti ke­lompok minoritas semacam LGBT.

Berita Terkini

Read More

Poling

Tingkat kelulusan calon pegawai negeri sipil dalam tes seleksi kompetensi dasar kurang dari 10% atau sekitar 128.236 yang memenuhi ambang batas. Padahal, jumlah peserta yang diperlukan lolos ke tahap seleksi kompetensi bidang (SKB) adalah tiga kali dari jumlah formasi yang dibuka. Karena itu, pemerintah berencana mengurangi nilai ambang batas dan menurunkan 10 poin nilai untuk tes intelegensia umum. Setujukah Anda dengan rencana pemerintah itu?





Berita Populer

Read More