Mencoba Keluar dari Bayang-Bayang AADC

Penulis: Ardi Teristi Hardi Pada: Minggu, 11 Nov 2018, 07:15 WIB Weekend
Mencoba Keluar dari Bayang-Bayang AADC

DOK. INSTAGRAM MILLY MAMET MOVIE

BAGI Generasi X dan milenial, duo film Ada Apa dengan Cinta (AADC) mungkin begitu melegenda. Romansa Rangga dan Cinta--dua tokoh utama AADC--juga warna-warni persahabatan Geng Cinta, beresonansi dengan diri para penonton muda.

AADC 1 dan 2 pun menjadi amat fenomenal lantaran dibalut ilustrasi musik dan lagu-lagu ciamik dari tangan dingin pasangan suami-istri Anto Hoed dan Melly Goeslaw. Rasa-rasanya, belum ada album soundtrack film Indonesia nonmusikal yang begitu ciamik sebelum AADC yang dirilis pada 2002 itu. Begitu banyak hit lagu yang ditelurkan dari soundtrack AADC menjadikan keduanya begitu identik dengan film yang lantas dibuat sekuelnya pada 2016 tersebut.

Namun, kini, pada film Milly & Mamet yang merupakan sempalan (spin-off) kisah AADC, urusan musik tidak lagi ditangani Anto Hoed dan Melly Goeslaw. Dengan sengaja, sang sutradara, Ernest Prakasa, memilih penata musik Andhika Triyadi, juga artis-artis lain untuk mengisi orisinal soundtrack (OST) film yang akan tayang mulai 20 Desember itu.

Pertimbangan tersebut rupanya lantaran ia ingin lepas dari bayang-bayang AADC dan menghidupkan dunia Milly--salah satu anggota Geng Cinta. "Beban berat buat Milly keluar dari bayang-bayangnya AADC. Kalau Melly Goeslaw (dan Anto Hoed) nanti hawa AADC-nya semakin intens lagi," ujarnya dalam jumpa pers di Jakarta, Kamis (8/11).

Maka dari itu, jika pada AADC kita biasa mendengar suara Melly Goeslaw membuka awal trailer atau film, kali ini ada pengalaman berbeda. Saat menonton klip trailer Milly & Mamet yang dirilis dalam kesempatan serupa, yang terdengar ialah suara Sissy Priscillia, aktris pemeran Milly. Sissy rupanya didaulat menyumbang suara untuk album OST Milly & Mamet. Ia membawakan lagu Kita milik Sheila on 7 yang diaransemen ulang.
Berikutnya, trailer memperdengarkan pula lagu berjudul Berdua Bersama, dinyanyikan Aziz Hayat, alias Jaz. Untuk mini album OST Milly & Mamet, Jaz juga menyumbang lagu berjudul Luluh.

Film yang digarap Ernest bersama istrinya, Meira Anastasia itu juga disemarakkan suara merdu Isyana Sarasvati. Bahkan, ada pula duet perdananya dengan sang kakak, Rara Sekar, yang dikenal sebagai vokalis grup Banda Neira. Keduanya membawakan lagu berjudul Luruh yang akan dirilis sebagai single perdana, bulan depan. Di samping Luruh, ada lagu Stargazing yang disumbangkan Isyana untuk mini album tersebut.

Kendati untuk OST film keempatnya ini Ernest tetap menggandeng Sony Music, ia mengaku menyiapkan waktu lebih panjang. Itu lantaran ia belajar dari kerepotan membuat OST dengan waktu terbatas di waktu lalu.
Milly & Mamet bercerita soal kehidupan pernikahan keduanya setelah memiliki anak. Sebagai pasangan muda, mereka harus menghadapi konflik seputar kompromi pekerjaan dan passion, adaptasi seorang ibu yang berhenti dari karier, dan membina rumah tangga.

Elemen penting
Saat menonton film, memang kita seringkali lupa, film tidak sekadar cerita yang menarik dan para pemerannya. Ada banyak elemen yang ada di dalamnya sehingga film menjadi seru untuk ditonton, salah satunya musik.

"Musik dalam film perlu untuk memberi penekanan beberapa adegan atau mendramatisasi adegan," terang Aksan Sjuman, di Gedung Salihara, beberapa waktu lalu. Ia menyebut perlu karena ada sutradara yang mencoba tidak memakai musik dalam film mereka, dan itu menurutnya tidak menjadi masalah.

Musik juga bisa menyamarkan kelemahan dalam adegan. Mood penonton pun dapat hanyut terbawa alunan musik sehingga adegan yang kurang menarik jadi menarik.

Dalam menata musik di film, lanjut Aksan, seorang penata musik harus tahu dan sadar saat musik diperlukan atau tidak. Pasalnya, jika musik dipaksakan, berisiko merusak adegan film, misalnya, terlalu ramai atau mengurangi dramatisasi.

"Kita (penata musik) tugasnya membantu kerja tim (pembuatan film). Kita harus men-support gambar-gambar itu (yang kurang dramatis)," kata peraih Piala Citra 2013 sebagai Penata Musik Terbaik itu.

Hal senada disampaikan Anto Hoed. Saat membuat musik untuk film AADC 2, misalnya, setelah menerima naskah dan berdiskusi dengan produser dan sutradara, Anto mengirimkan musik adegan pembuka film. Namun, ternyata adegan pembuka diubah. Akhirnya, musik yang telah ia buat dipakai untuk adegan lain. "Tidak setiap yang kita mau (penata musik) cocok dengan yang punya film (sutradara dan produser). Ada toleransi," ujarnya.

Kadang kala meskipun diskusi sudah panjang lebar, tapi hasilnya tidak cocok, musik harus diubah. Menurut dia, hal tersebut jamak terjadi dalam produksi film, tidak hanya di Indonesia, tetapi juga di dunia.
"Menata musik untuk film bukan soal jago atau tidak, tetapi cocok atau tidak," tegas Anto. (AT)

 

Berita Terkini

Read More

Poling

Tingkat kelulusan calon pegawai negeri sipil dalam tes seleksi kompetensi dasar kurang dari 10% atau sekitar 128.236 yang memenuhi ambang batas. Padahal, jumlah peserta yang diperlukan lolos ke tahap seleksi kompetensi bidang (SKB) adalah tiga kali dari jumlah formasi yang dibuka. Karena itu, pemerintah berencana mengurangi nilai ambang batas dan menurunkan 10 poin nilai untuk tes intelegensia umum. Setujukah Anda dengan rencana pemerintah itu?





Berita Populer

Read More