Lindungi Hutan lewat Platform Digital

Penulis: Fathurrozak Pada: Minggu, 11 Nov 2018, 04:40 WIB Weekend
Lindungi Hutan lewat Platform Digital

DOK PRIBADI

KONDISI alam di pesisir Semarang, Jawa Tengah, memicu rasa prihatin tiga anak muda ini. Mereka membuat platform bernama Lindungihutan, untuk urun dana dan daya memfasilitasi publik berdonasi serta berkontribusi menghijaukan hutan yang terdampak perusakan. Hario Laskito Ardi, Chashif Syadzali, dan Miftachur Robani kini telah menyebarkan semangat melestarikan lingkungan yang bisa dipantau secara digital.

Bagaimana perjalanan Lindungihutan selama dua tahun ini? Aktivitas apa yang mereka lakukan? Simak wawancara Muda dengan Lindungihutan, pekan ini.

Lindungihutan berangkat dari keprihatinan akan lingkungan yang terdampak rob di utara Semarang. Namun, apa sebelumnya sudah konsen di bidang lingkungan?

Selain melihat fenomena yang terjadi dan keresahan yang timbul dari pesisir Kota Semarang, kami juga melakukan aktivitas, seperti pendakian gunung, terlibat di komunitas lingkungan, dan kegiatan sosial.

Tim awalnya ada tiga orang yang awet sampai sekarang. Proyek awalnya di Tambakrejo, Semarang Utara, kami berhasil menghimpun 2.113 pohon mangrove dari urunan umum, walaupun awalnya kami menawarkan ke keluarga dan sahabat terdekat. Kami bekerja sama dengan Kelompok CAMAR, yang rumah pengurusnya seperti rumah 'hobbit' karena tidak bisa meninggikan bangunan akibat abrasi, serta kami juga melalui permakaman yang kondisinya air laut lebih tinggi ketimbang makamnya, suatu kondisi yang memprihatinkan.

Bagaimana perkembangan selama dua tahun ini?

Pada tahap awal kami memulainya saat masih kuliah, kemudian hari demi hari kepercayaan masyarakat mulai bertambah dengan jumlah donasi yang naik, jumlah yang mendaftar sukarelawan juga terus bertambah. Namun, kami ingat semasa masih sulit, kita bertiga punya mimpi untuk menanam pohon sebanyak sejumlah penduduk Indonesia pada 2020, dan kami bertemu dengan orang yang punya mimpi sama. Ternyata orang seperti itu banyak.

Sudah ada 37 proyek kampanye alam yang telah usai, bagaimana fokus bidang wilayahnya?

Kami mengakomodasi semua kawasan hutan yang perlu dihijaukan kembali, sementara ini kampanye alam yang telah, sedang, dan belum berjalan kebanyakan merupakan kampanye penghijauan kawasan pesisir sebagai sabuk hijau daratan dari ancaman abrasi. Kami juga memiliki kampanye penghijauan di daerah pegunungan yang mengalami kebakaran atau rawan longsor. Dari 62 kampanye, 47 di antaranya kampanye hutan mangrove dan sisanya untuk hutan darat.

Bagaimana cara kalian melakukan pendekatan ke para donatur?

Kami membuat kampanye dengan melibatkan pihak lokal karena mereka lebih mengerti kondisi di daerahnya masing-masing. Selain itu, transparansi jumlah donasi yang masuk, kami lakukan dengan selalu membarui di website lindungihutan.com. Setelah penanaman pun ada rilis kegiatan di blog dan hasil monitoring penanaman juga selalu diperbarui lewat website. Donatur pun mendapat laporan melalui surel.

Sejak 2018 Lindungihutan sudah berbadan hukum berbentuk Yayasan Lindungihutan sehingga semua kampanye yang kami lakukan dapat dipertanggungjawabkan. Semua orang dapat mengakses siapa donatur dan jumlah donasi melalui situs.

Selain urun dana, ada urun daya, bagaimana urgensinya?

Keduanya sama pentingnya. Kami mengerti penyelamatan alam tidak hanya dilakukan dengan urun dana, perlu orang-orang yang langsung menyumbangkan daya tenaganya untuk menanam bibit yang sudah didonasikan. Untuk urun daya ini kami mewadahinya lewat Grup Relawan Lindungihutan di daerah, yang kini aktif di 62 daerah se-Indonesia. Harapannya, mereka jadi garda terdepan dalam aktivitas pelestarian hutan.

Bagaimana kalian mengawal dan mengontrol semua proyek yang sudah dan sedang kalian jalankan?

Kami bekerja sama dengan kelompok tani dan komunitas-komunitas rekanan yang secara rutin memonitor dan mengontrol kampanye Lindungihutan di daerah masing-masing. Mereka mempunyai tugas merawat dan melaporkan kondisi pohon yang telah tertanam sebagai bagian tanggung jawab kepada para donatur. Semuanya dapat diakses melalui website www.lindungihutan.com.

Kegiatan ini juga melibatkan masyarakat dengan berbagai latar belakang, mulai pelajar sampai ibu-bapak kantoran. Harapannya, mereka langsung terlibat dan melihat sendiri akibat tidak terjaganya hutan. Selain itu, Lindungihutan juga hadir di berbagai forum untuk mengajak semua pihak terlibat dalam gerakan menghijaukan Indonesia.

Bagaimana prosedur untuk memilih hutan atau lingkungan yang akan diperbaiki kondisinya?

Dengan sistem kampanye alam yang terbuka, kami menerima permintaan dari masyarakat di sekitar hutan yang terdampak. Setelah kampanye masuk, kami akan mengklarifikasi kebenaran informasi, masukan dari masyarakat, dan survei kelayakan bersama para sukarelawan Lindungihutan daerah.

Selain berdasarkan laporan dan validitas infonya, kegiatan tersebut harus memiliki izin atau tidak ilegal. Pembuat kampanye harus mau bertanggung jawab merawat dan memberikan laporan perkembangan hasil penanaman.

Bagaimana mekanisme keuntungan yang didapat dan semacam 'upah' untuk para anggota yang tergabung di platform ini?

Seperti platform crowdfunding (urun dana) lainnya, Lindungihutan menggunakan 5% dari donasi untuk kebutuhan operasional. Selain itu, keuntungan dari penjualan aksesori, seperti kaus dan totebag yang di-bundling dengan donasi pohon.

Kampanye alam yang masuk ke Lindungihutan berasal dari berbagai daerah. Kemarin ada kampanye penanaman di Mempawah, Kalimantan Barat, Bengkulu, Ketapang, dan Lombok.

Apa tantangan terbesar menggerakkan Lindungihutan?

Menggugah kesadaran masyarakat bahwa alam sudah terlalu tua dan butuh upaya kita semua untuk menjaga dan melestarikannya. Kampanye berbau isu sosial lebih mudah menarik atensi, daripada kampanye alam.

Semoga semakin banyak orang yang peduli dan menyadari betapa pentingnya alam untuk kita sehingga kampanye pelestarian alam juga akan semakin meningkat. Semoga yang sudah kita tanam sejauh ini dapat hidup dan menghidupi. Kami tidak bisa melakukan ini sendiri, perlu keterlibatan semua pihak. Hutan ialah warisan yang harus dipersiapkan ke anak cucu kita. (M-3)

Berita Terkini

Read More

Poling

Tingkat kelulusan calon pegawai negeri sipil dalam tes seleksi kompetensi dasar kurang dari 10% atau sekitar 128.236 yang memenuhi ambang batas. Padahal, jumlah peserta yang diperlukan lolos ke tahap seleksi kompetensi bidang (SKB) adalah tiga kali dari jumlah formasi yang dibuka. Karena itu, pemerintah berencana mengurangi nilai ambang batas dan menurunkan 10 poin nilai untuk tes intelegensia umum. Setujukah Anda dengan rencana pemerintah itu?





Berita Populer

Read More