Rumah pun Menjadi Ladang Pundi

Penulis: (M-2) Pada: Minggu, 11 Nov 2018, 04:00 WIB Weekend
Rumah pun Menjadi Ladang Pundi

DOK. POKDARWIS NGALENGGERAN

PEMBERDAYAAN masyarakat Nglanggeran tidak sebatas usaha kakao. Melalui Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Desa Nglanggeran, warga terlibat menjadi pelaku wisata. Ada yang menjadi pemandu wisata dan ada yang menjadikan rumah mereka sebagai penginapan atau homestay.

Mursidi, 46, Ketua Pokdarwis Desa Nglanggeran, mengaku memang ingin memberdayakan semua potensi yang ada di masyarakat. Tujuannya, warga terlibat aktif, bukan sekadar menonton. “Karena kita mengembangkan Desa Wisata berbasis masyarakat,” ujar Mursidi saat dihubungi Media Indonesia, baru-baru ini.

Dari situlah, warga memanfaatkan rumah mereka sebagai usaha penginapan atau homestay. Jelas Mursidi, ada 80 rumah warga yang dioperasikan sebagai homestay. Tempatnya tersebar di 3 dusun, yakni Dusun Nglanggeran Kulon, Dusun Nglanggeran Wetan, dan Dusun Gunungbutak.

Usaha warga menjadikan rumah mereka sebagai homestay, menurut Mursidi, sudah dimulai sejak 2013. Pemanfaatan itu, lanjut Mursidi, mampu menumbuhkan kemandirian ekonomi karena mendatangkan pundi-pundi penghasilan selain dari pertanian. “Warga mendapatkan pemasukan dari pengelolaan itu,” kata dia.

Mulanya hanya beberapa rumah. Seiring berjalannya waktu, wisatawan yang berkunjung ke Nglanggeran untuk menikmati wisata alam di Gunung Api Purba bertambah. Mereka pun membutuhkan penginapan. Pokdarwis menangkap peluang itu dengan memberdayakan warga setempat agar mengelola rumah menjadi homestay.

Secara kelompok, warga mengelola homestay Nglanggeran yang seluruhnya sudah diinteg rasikan dengan lokasi wisata. Wisatawan yang menginap di homestay langsung mendapatkan berbagai fasilitas dan pelayanan terpadu. “Kami buat 1 paket,” terang Mursidi.

Pelayanan itu meliputi tiket masuk dan pemandu ke sejumlah lokasi wisata alam di Nglanggeran, seperti ke Gunung Api Purba, Embung Nglanggeran, Air Terjun Kedung Kandang, atau ke Kampung 7. Wisatawan juga memperoleh fasilitas dua kali makan per hari. “Harga Rp150 ribu per orang, sudah termasuk asuransi,” imbuh Mursidi seusai merinci apa saja yang didapat wisatawan saat menginap di homestay warga.

Harga itu sama untuk turis asing maupun dalam negeri. Uang pembayaran homestay, dibagi antara pemilik rumah dan Pokdarwis Desa Nglanggeran. Dari Rp150 ribu itu, pemilik rumah mendapatkan Rp100 ribu, dan Rp50 ribu untuk Pokdarwis. Rata-rata setiap bulan, ada 4-5 wisatawan yang menginap sehingga pemilik rumah bisa mengantongi tambah an pemasukan sekitar Rp400 ribu-Rp500 ribu. “Bisa bertambah saat musim liburan tiba,” ujar Mursidi.

Bagi Mursidi dan 79 warga Desa Nglanggeran lainnya, homestay ialah usaha mendulang rezeki dari wisata alam yang ada di Desa Nglanggeran. Persis seperti niatan warga yang ingin menjadikan Gunung Api Purba sebagai destinasi wisawa alam berbasis lingkungan dan pemberdayaan masyarakat. Lingkungan terjaga, warga berdaya, dan tumbuh geliat usaha ekonomi kreatif dan mandiri. (M-2)

Berita Terkini

Read More

Poling

Tingkat kelulusan calon pegawai negeri sipil dalam tes seleksi kompetensi dasar kurang dari 10% atau sekitar 128.236 yang memenuhi ambang batas. Padahal, jumlah peserta yang diperlukan lolos ke tahap seleksi kompetensi bidang (SKB) adalah tiga kali dari jumlah formasi yang dibuka. Karena itu, pemerintah berencana mengurangi nilai ambang batas dan menurunkan 10 poin nilai untuk tes intelegensia umum. Setujukah Anda dengan rencana pemerintah itu?





Berita Populer

Read More