Beng Rahadian Bawakan Komik Konten Sosial

Penulis: (Jek/M-4) Pada: Minggu, 11 Nov 2018, 03:00 WIB Weekend
Beng Rahadian Bawakan Komik Konten Sosial

MI/PERMANA

KARTUN-KARTUN komik karya Beng Rahadian sudah banyak berseliweran di berbagai media cetak, buku komik, pameran, juga platform digital. Sosoknya bisa dikatakan merupakan salah satu yang ikut menggairahkan kembali komik di Indonesia.

Gaya kartunnya yang bertema isu sosial, menjadi salah satu ciri khas komikus Beng Rahadian. Ia telah terpapar dengan dunia komik sejak 1980-an, ketika dirinya masih bersekolah dasar di Bandung, lantaran menjadi anggota perpustakaan (penyewaan buku). Salah satu buku yang disewanya, ialah komik wayang milik RA Kosasih, juga beberapa komik pahlawan super dalam negeri.

“Kalau gaya pertama yang ditiru ialah gambarnya Wedha, ilustrator novel Lupus dan majalah Hai, Kemudian mulai berkenalan dengan gambar-gambar gaya kartun di komik-komik Eropa, seperti Dupuis, Uderzo, dan Morris. Kalau konten banyak terpengaruh dari cerita-cerita pendek dan bacaan lainnya,” katanya pada Rabu (7/11), di sela-sela persiapannya menuju festival komik di Malaysia.

Beng menjadi salah satu pembicara dalam Kotakomik Kajang, untuk membahas perkembangan komik dalam negeri. Meski suatu festival komik berskala kecil di Malaysia, penyelenggaranya ialah Comicore, yang giat dalam menggerakkan komik dari akar rumput, dan memiliki visi membangun jaringan komik bangsa serumpun.

“Ini bukan hal baru, gagasan ini pernah juga dilontarkan di beberapa festival di negara-negara Asia Tenggara, terutama Indonesia sebab sudah tak ada halangan lagi bagi sesama negara-negara AFTA (ASEAN Free Trade Area) yang sepakat membaur dalam industri juga kebudayaan,” jelas jebolan desain komunikasi visual Institut Seni Indonesia Yogyakarta ini.

Menurutnya, komunitas menjadi bagian penting dari pertumbuhan komik di Indonesia, bahkan dapat menjadi penyokong pertumbuhan komik dan sarana pengayaan bagi komikusnya. Ia juga menegaskan, hal esensial dalam komik ialah cerita, dan cara komikus menceritakannya. Ia juga menganggap banyak ide brilian dari komik Indonesia. “Semua bentuk pameran, bahkan presentasi komik lintas disiplin ilmu sudah biasa, bahkan gerakan dari komunitasnya saya kira paling solid. Namun, untuk skala produksi (industri) masih kalah dengan Malaysia.”

Komik digital berkembang
Penulis buku komik 101 Canda Kopi ini menuturkan, era digital saat ini sangat memungkinkan komik mendatangi pembacanya lewat berbagai kanal digital, termasuk media sosial. Secara teknis, katanya, komik bisa lebih cepat menyebar dan murah karena biaya produksi rendah.

Komik bisa dibaca di gawai, merupakan upaya optimal dalam era medsos. Ia melihat kilas masa ketika zaman para seniornya, ketika komik dicetak berjilid-jilid dan konsisten menjadi serial, komikus harus terlatih dan terampil dalam membuat suatu produk komik dengan cerita panjang nan kompleks. “Pada saat itu, komikus merangkap sebagai penulis cerita dan penulis teks, bahkan beberapa sampai dengan ilustrasi sampulnya.” (Jek/M-4)

Berita Terkini

Read More

Poling

Tingkat kelulusan calon pegawai negeri sipil dalam tes seleksi kompetensi dasar kurang dari 10% atau sekitar 128.236 yang memenuhi ambang batas. Padahal, jumlah peserta yang diperlukan lolos ke tahap seleksi kompetensi bidang (SKB) adalah tiga kali dari jumlah formasi yang dibuka. Karena itu, pemerintah berencana mengurangi nilai ambang batas dan menurunkan 10 poin nilai untuk tes intelegensia umum. Setujukah Anda dengan rencana pemerintah itu?





Berita Populer

Read More