Meregang Nyawa

Penulis: Adang Iskandar Redaktur Bahasa Media Indonesia Pada: Minggu, 11 Nov 2018, 07:00 WIB Weekend
Meregang Nyawa

DOK PRIBADI

BELAKANGAN, bencana yang menimbulkan banyak korban jiwa melanda negeri ini. Dalam kurun empat bulan terakhir, bencana datang silih berganti.

Agustus lalu, gempa bumi dengan kekuatan 7,0 pada skala Richter mengguncang Lombok, Nusa Tenggara Barat. Tak lama berselang, pada Oktober wilayah Palu, Sigi, dan Donggala di Sulawesi Tengah juga dihantam gempa bumi yang disertai tsunami dan bahkan likuefaksi, fenomena pencairan tanah yang jarang terjadi.

Baru-baru ini, tragedi penerbangan yakni jatuhnya pesawat Lion Air PK-LQP di perairan Tanjung Pakis, Karawang, Jawa Barat, membuat kita terhenyak karena ratusan jiwa ikut menjadi korban.

Terkait dengan pemberitaan peristiwa bencana atau musibah yang menimbulkan korban jiwa cukup besar itu, ada satu frasa atau ­gabungan kata yang menurut pengamatan saya cukup laku dipakai di kalangan insan pers, yakni meregang nyawa, untuk mengacu pada kondisi korban yang meninggal dunia atau tewas.

Saya menduga penulis berita ingin mendapatkan efek dramatis dengan penggunaan meregang nyawa dalam kalimat yang menggambarkan peristiwa bencana atau musibah tersebut.

Alih-alih menggunakan kata tewas atau meninggal dunia, yang mungkin terkesan kurang berkesan dramatis, mereka lebih suka memakai frasa meregang nyawa.

Sayangnya, pada penggunaannya dalam sebuah penulisan berita, mereka tidak pernah menggali makna sebenarnya dari frasa meregang nyawa itu.

Sebagai contoh, saya kerap menemukan kalimat seperti ini, Musibah itu mengakibatkan ratusan orang meregang nyawa.

Saya kira, kalau membaca kalimat tersebut, pembaca akan memaknai frasa meregang nyawa di kalimat itu sebagai kondisi mati, meninggal dunia, tewas, gugur, atau wafat, yang berarti sudah hilang nyawanya atau tidak hidup lagi. Begitu pula dengan saya pada awalnya.

Namun, lama-kelamaan kalimat seperti itu meng-usik pikiran saya. Mengapa demikian?

Jika kita melihat Kamus Besar Bahasa Indonesia, frasa meregang nyawa berarti ‘hampir-hampir mati atau sekarat’. Jadi, ketika seseorang dikatakan meregang nyawa, kondisinya belum meninggal, belum hilang nyawanya, baru sakratulmaut atau dalam keadaan saat-saat menjelang kematian (ajal) tiba.

Dengan kondisi demikian, berarti masih ada setitik kehidupan dalam diri sang makhluk atau dalam hal ini koban musibah yang diberitakan tersebut.

Oleh karena itu, apabila kita cermati lagi, tentu sangatlah tidak tepat jika korban bencana atau musibah yang dalam hal ini sudah dipastikan meningal dunia masih disebut meregang nyawa.

Di beberapa artikel pernah disebutkan bahwa dalam beberapa kejadian, beberapa orang yang pernah dalam kondisi sakratulmaut atau berada pada ambang antara hidup dan mati, kemudian--entah karena mukjizat atau apa--bisa selamat, dan akhirnya bisa melanjutkan hidup. Dengan demikian, kondisi meregang nyawa itu ialah sebuah proses menjelang kematian, bukan berarti sudah pasti mati.

Menurut saya, dalam sebuah penulisan berita sangat tidak elok jika kita menggunakan sebuah kata hanya demi ‘gagah-gagahan’, padahal menyimpang dari esensi makna kata tersebut.

Tentu sebagai penulis berita kita wajib memiliki empati dalam memilih diksi karena di balik frasa meregang nyawa itu ada tersirat kondisi ‘hal yang sangat sakit’ dari para korban bencana atau musibah, dan tentu saja hal itu bisa membuat para keluarga korban yang ditinggalkan semakin terguncang dan larut dalam kesedihan yang mendalam.        

Berita Terkini

Read More

Poling

Tingkat kelulusan calon pegawai negeri sipil dalam tes seleksi kompetensi dasar kurang dari 10% atau sekitar 128.236 yang memenuhi ambang batas. Padahal, jumlah peserta yang diperlukan lolos ke tahap seleksi kompetensi bidang (SKB) adalah tiga kali dari jumlah formasi yang dibuka. Karena itu, pemerintah berencana mengurangi nilai ambang batas dan menurunkan 10 poin nilai untuk tes intelegensia umum. Setujukah Anda dengan rencana pemerintah itu?





Berita Populer

Read More