Atasi CAD, Atur Waktu Impor dan Tingkatkan Devisa

Penulis: Cahya Mulyana Pada: Sabtu, 10 Nov 2018, 11:45 WIB Ekonomi
Atasi CAD, Atur Waktu Impor dan Tingkatkan Devisa

ANTARA/ADWIT B PRAMONO

GURU Besar sekaligus Dekan Fakultas Ekonomi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (FEB UI), Ari Kuncoro, menyarankan pemerintah untuk mengatur waktu impor BBM dan barang modal supaya defisit neraca berjalan (curent account deficit/CAD) bisa segera teratasi. 

Pemerintah juga dinilai perlu menggenjot sektor pariwisata untuk mendapatkan dana segar atau devisa.

"Perlu mengaturan timing dari impor barang yang berpengaruh besar terhadap neraca berjalan. Itu seperti BBM dan barang modal jangan dilakukan dalam waktu bersamaan," katanya kepada Media Indonesia, Sabtu (10/11).

Menurut dia, pemerintah tidak akan mampu keluar dari ketergantungan terhadap impor BBM dan belanja modal. Namun hal itu harus diatur dengan baik supaya tidak membebani neraca berjalan, salah satunya dengan manajemen waktu.

 

Baca juga: Tekan Defisit dengan Mendorong Kepercayaan Investor

 

Selain itu, kata dia, persoalan defisit neraca berjalan yang sudah melebar menjadi US$8,8 miliar juga perlu ditangani lewat cara lain. Misalnya dengan menarik dana segar melalui devisa.

Devisa yang cepat bisa diperoleh dengan cara menggaet wisatawan untuk berkunjung ke pusat-pusat pariwisata nasional. Kemudian juga membuat tujuan wisata baru untuk memperluas pasar tujuan wisata.

"Kemudian bisa ditambah dengan meningkatkan remmitance dari tenaga kerja di luar negeri untuk mengunakan bank BUMN," tutupnya. (OL-3)

Berita Terkini

Read More

Poling

Tingkat kelulusan calon pegawai negeri sipil dalam tes seleksi kompetensi dasar kurang dari 10% atau sekitar 128.236 yang memenuhi ambang batas. Padahal, jumlah peserta yang diperlukan lolos ke tahap seleksi kompetensi bidang (SKB) adalah tiga kali dari jumlah formasi yang dibuka. Karena itu, pemerintah berencana mengurangi nilai ambang batas dan menurunkan 10 poin nilai untuk tes intelegensia umum. Setujukah Anda dengan rencana pemerintah itu?





Berita Populer

Read More