Medsos Lahirkan Generasi O

Penulis: Putri Anisa Yuliani Pada: Sabtu, 10 Nov 2018, 02:45 WIB Humaniora
 Medsos Lahirkan Generasi O

Thinkstock

KEHADIRAN media sosial (medsos) membuat sebagian orang memiliki gaya hidup hedonisme. Mereka berlomba-lomba memamerkan gaya hidup mewah itu di medsos masing-masing.

Padahal, gaya hidup yang menargetkan seseorang mencapai tingkat ekonomi tertentu berdampak buruk sebab membuat mereka bekerja terlalu keras dan mengabaikan faktor kesehatan sehingga mereka menjadi generasi O.

Generasi O ialah generasi yang akrab dengan tiga O, yakni overworked atau bekerja berlebihan, overweight atau memiliki berat badan berlebih, hingga overwhelmed atau didera stres atau kelelahan.

Menurut pengamat gaya hidup, Dwi Sutarjantono, sebagian besar masyarakat yang masuk generasi O ialah pekerja kreatif dan pekerja lapangan. Mereka memiliki pemikiran yang rasional.

“Mereka punya pola pikir yang rasional dan selalu dikejar target dalam menyelesaikan pekerjaan. Pada akhirnya mereka sendiri terjebak pada rutinitas dengan beban tinggi,” katanya dalam konferensi pers bertema Living healthy lives di Jakarta, Kamis (8/11).

Meskipun demikian, lanjut-nya, generasi O bukannya tidak memahami tentang gaya hidup sehat. Mereka tahu gaya hidup sehat, tapi justru hanya menjadikannya sebagai tren guna menghidupkan aktivitas di medsos.

“Karena hidupnya berkutat di dunia maya, melakukan apa pun dikaitkan dengan dunia maya. Oleh karena itu, kita harus bisa memasyarakatkan hidup sehat,” ujar Dwi.

Memasyarakatkan gaya hidup sehat sangat penting bagi semua pihak, termasuk generasi O. Menurut dokter timnas sepak bola perempuan Indonesia Asian Games 2018, Grace Joselini, rutinitas kelebihan beban kerja, kelebihan konsumsi makanan, kelelahan, tapi minim aktivitas fisik, dapat menimbulkan penyakit tidak menular yang mematikan, antara lain jantung, diabetes, hipertensi, hingga stroke.

“Generasi O saat ini memiliki rutinitas duduk berlama-lama di belakang meja dengan minim aktivitas fisik. Padahal, duduk lebih dari 2 jam sehari dapat berakibat buruk dalam jangka panjang, hingga ada istilah sitting is the new smoking,” ujarnya.

Grace mengungkapkan, rutinitas duduk lebih dari 2 jam sehari tanpa diselingi aktivitas fisik bisa memperlambat kinerja hormon insulin, menghambat peredaran darah sehingga berakibat pada penyempitan pembuluh darah.

Aktivitas fisik
Pada jangka panjang, lanjutnya, dampak-dampak tersebut memiliki risiko penyakit yang sama dengan merokok. Untuk itulah, generasi O harus  memulai aktivitas fisik ringan agar kesehatan tetap terjaga.

Berdasarkan hasil survei yang dilakukan Sun Life Finan-cial Asia Health Index 2016-2017, masyarakat Indonesia berusia antara 18 hingga 49 tahun termasuk ke dalam generasi O. “Populasi generasi O semakin meningkat seiring gaya hidup masyarakat yang cenderung kurang beraktivitas, kurang menjaga asupan makanan, serta kurang istirahat,” ujar Presdir Sun Life Financial Indonesia Elin Waty pada acara yang sama. (H-1)

Berita Terkini

Read More

Poling

BEBERAPA waktu lalu, nama Bung Hatta kembali ramai dibicarakan publik. Berawal dari pernyataan Koordinator Juru Bicara Prabowo Subianto, Dahnil Anzar, di sebuah video yang mengatakan kalau cawapresnya, Sandiaga Uno adalah sosok baru dari Bung Hatta. Hal itu langsung menuai keberatan dari cucu Bung Hatta, Gustika Jusuf Hatta. Sebelumnya, kubu Prabowo-Sandiaga juga sempat menyandingkan nama pahlawan seperti Cut Nyak Dien dan Kartini dengan Ratna Sarumpaet dan Neno Warisman. Setujukah Anda apabila pahlawan dijadikan komoditas politik guna meraih simpati masyarakat?





Berita Populer

Read More