Penguatan Rupiah Pikat Investor Asing

Penulis: Yanurisa Ananta Pada: Jumat, 09 Nov 2018, 22:45 WIB Ekonomi
Penguatan Rupiah Pikat Investor Asing

ANTARA FOTO/Widodo S. Jusuf

MENGUATNYA nilai tukar rupiah dalam dua pekan terakhir memicu masuknya aliran modal asing ke pasar keuangan. Menurut catatan Bank Indonesia, sepanjang 1-9 November 2018 investasi asing yang masuk sebesar Rp19,9 triliun.

Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo mengungkapkan modal ­asing yang masuk ke surat berharga negara (SBN) pada 1-9 November 2018  sebesar Rp14,4 triliun, sedangkan ke saham mencapai Rp5,5 triliun. Jika dihitung sejak awal tahun hingga saat ini (year to date/ytd), aliran dana masuk ke SBN mencapai Rp42,4 triliun, sedangkan untuk aliran modal ke saham sejak awal tahun hingga saat ini masih tercatat negatif.

“Kami hitung bulan ini ke SBN Rp14,4 triliun sehingga kalau SBN secara tahun berjalan, aliran modal asing Rp42,6 triliun. Yang juga cukup baik ialah kembali masuknya aliran modal asing ke saham. Bulan ini aliran modal asing ke saham itu Rp5,5 triliun,” kata Perry, kemarin.    
Dengan kembali masuknya aliran modal asing ke saham, Perry mengklaim investor global sudah semakin percaya diri berinvestasi di pasar keuangan domestik.

“Aliran modal asing ke SBN yang semakin besar dan juga yang masuk itu juga memberikan rasa percaya diri dari investor global terhadap ekonomi Indonesia,” ujarnya.

BI  pun optimistis pada tahun depan pertumbuhan ekonomi ada di kisaran 5,1%-5,5%. Adapun defisit neraca berjalan (current account deficit/CAD) dapat ditekan menjadi 2,5% dari produk domestik bruto (PDB). Menurut dia, hitungan itu sudah mempertimbangkan kondisi pilpres tahun depan. “Semua sudah kita pertimbangkan. Komposisi kenaikan konsumsi lembaga negara non-rumah tangga itu bagian perkiraan yang dapat menopang pertumbuhan ekonomi.”

Tiga faktor
Perry mengungkapkan tiga faktor yang menyebabkan nilai tukar rupiah menguat dalam dua pekan terakhir dari 15.200 ke kisaran saat ini 14.600 per dolar AS. Pertama karena kepercayaan investor ­global meningkat karena indikator ­ekonomi domestik yang membaik, seperti laju inflasi hingga Oktober 2018 dan realisasi pertumbuhan ekonomi domestik kuartal III 2018.

Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal III sebesar 5,17% secara tahunan (year on year/yoy), yang utamanya didorong konsumsi rumah tangga. Inflasi pada Oktober 2018 sebesar 0,28% secara bulanan (month to month/mtm) atau 3,16% (yoy), yang berarti berada di batas bawah sasaran inflasi.

Penyebab kedua penguatan rupiah ialah pemberlakuan pasar valas berjangka untuk domestik atau domestic non-deliverable forward (DNDF). Operasional DNDF mulai efektif pada 1 November 2018.

Perry mengklaim pasokan dan permintaan di pasar DNDF sudah berjalan baik dengan total transaksi selama sembilan hari berjalan mencapai US$115 juta.

Penyebab ketiga ialah meredanya perang dagang antara Amerika Serikat dan Tiongkok menyusul rencana pertemuan Presiden Donald Trump dan Presiden Xi Jinping pada perhelatan G-20 akhir November 2018.

Meski demikian, Direktur Riset Socio-Economic & Educational Business Institute (SEEBI) Jakarta, Haryo Kuncoro, mengingatkan untuk mewaspadai utang luar negeri, baik dari pemerintah maupun swasta yang jatuh tempo di akhir tahun.

“Permintaan dolar untuk liburan Natal, Tahun Baru, dan Imlek juga perlu diantisipasi, yang pada gi-lirannya akan mengoreksi cadangan devisa,” ujar dia dalam tulisannya di harian ini, Rabu (8/11). (E-2)

Berita Terkini

Read More

Poling

BEBERAPA waktu lalu, nama Bung Hatta kembali ramai dibicarakan publik. Berawal dari pernyataan Koordinator Juru Bicara Prabowo Subianto, Dahnil Anzar, di sebuah video yang mengatakan kalau cawapresnya, Sandiaga Uno adalah sosok baru dari Bung Hatta. Hal itu langsung menuai keberatan dari cucu Bung Hatta, Gustika Jusuf Hatta. Sebelumnya, kubu Prabowo-Sandiaga juga sempat menyandingkan nama pahlawan seperti Cut Nyak Dien dan Kartini dengan Ratna Sarumpaet dan Neno Warisman. Setujukah Anda apabila pahlawan dijadikan komoditas politik guna meraih simpati masyarakat?





Berita Populer

Read More